0

Berita Film Minggu Ini #29

Berita minggu ini diantaranya: Michelle Yeoh yang akan bermain dalam serial 'Star Trek: Discovery', 'Highlander' yang akan direboot sutradara 'John Wick', sekuel 'Wedding Crashers' yang akan dibuat, sutradara '10 Cloverfield Lane' yang akan garap biopik Houdini, dll.

0

Review Film: 'Moana' (2016)

Jika anda ingin gadis kecil anda mempelajari pesan inspiratif tentang girls power lewat cara yang menghibur, tak ada pilihan yang lebih baik tahun ini daripada 'Moana'.

If I go, there's just no telling how far I'll go."
— Moana
Moana adalah film animasi terbaru dari Disney yang terasa familiar tapi juga inventif di saat bersamaan. Secara naratif, film ini masih memakai formula "kisah princess" dari Disney klasik yang menceritakan petualangan seorang gadis untuk mencari jati diri di luar zona nyamannya, namun film ini juga menjelajah ranah baru dengan sedikit memodifikasi (bahkan mengolok) stereotipe tersebut.

Moana, sang karakter titular, bukanlah princess dan ia membantah keras saat dipanggil dengan julukan tersebut oleh tandemnya berpetualang, Maui. Memang, ia adalah anak kepala suku yang suatu saat akan mewarisi tanggung jawab sang ayah. Namun ia bukan gadis yang menunggu takdir mengubah jalan hidupnya, alih-alih memilih dan menjajaki sendiri masa depannya. Ini menunjukkan bahwa karakter princess Disney berevolusi seiring waktu. Lagipula, apa serunya jika kita hanya menyaksikan Moana hidup harmonis di pulau dimana warganya dilarang menjelajah dan hanya duduk menunggu nasib apapun yang akan datang?


Sama seperti animasi Disney superior lainnya, film ini punya latar belakang kultural yang spesifik. Moana mengangkat kebudayaan Polinesia yang tinggal di Kepulauan Pasifik. Pembuat filmnya jelas memberi perhatian dan mungkin juga telah melakukan riset untuk membawa sentuhan mitologinya menyatu dengan cerita. Filmnya sendiri dibuka dengan mitologi; narasi mengenai Te Fiti, dewi pulau yang hatinya dicuri oleh Maui (Dwayne Johnson), manusia separuh dewa yang bisa berubah wujud menjadi hewan apapun.

Ketika menemukan bahwa tanaman mulai membusuk dan ikan mulai susah dicari, Moana menentang perintah ayahnya (Temuera Morrison) agar "jangan berlayar melewati batu karang" demi menyelamatkan warga desanya yang berada dalam bahaya. Sang nenek (Rachel House) memberitahunya bahwa leluhur mereka dulu adalah penjelajah samudera dan Moana telah dipilih oleh lautan untuk mengembalikan tradisi tersebut.

Bermodal sebuah sampan yang lumayan besar, misi Moana adalah mencari Maui, menjewer telinganya (!), dan menyuruhnya mengembalikan hati Te Fiti. Namun ini tak mudah karena Moana tak punya pengalaman berlayar. Apalagi, ketika berjumpa dengan Maui, si manusia dewa yang banyak bacot dan congkak ini tak mau ikut karena ia tak dibekali dengan kail sakti sebagai modal untuk melawan Te Ka, lava raksasa penjaga Te Fiti.

Perjalanan mereka melibatkan beberapa petualangan yang menegangkan dan menghibur, mulai dari berhadapan dengan suku bajak laut berwujud ratusan batok kelapa mungil yang idenya dicomot langsung dari Mad Max: Fury Road hingga pertemuan dengan kepiting raksasa pengoleksi harta karun. Kru animatornya menciptakan beberapa sidekick teraneh dalam sejarah Disney. Salah satunya adalah Heihei, ayam yang merupakan sidekick princess paling dungu sejauh ini. Yang lainnya adalah (1) lautan itu sendiri yang menjadi karakter sungguhan, bisa mengangguk, menggeleng dan membantu Moana beberapa kali; serta (2) tato tribal di tubuh Maui yang hidup dan punya kepribadian sendiri.

Cerita sederhana yang menyediakan rintangan demi menguji persahabatan mereka akan mengingatkan kita pada citarasa klasik Disney. Dan ini tak mengherankan mengingat sutradaranya adalah Ron Clements dan Jon Musker yang dulu menggarap The Little Mermaid dan Aladdin. Mereka tak kagok hijrah dari animasi konvensional ke animasi CG. Visualnya luar biasa cantik dimana sebagian besar mengambil tempat di tengah samudera. Menengok keindahan alam serta laut dan langitnya yang begitu jernih, anda mungkin ingin segera piknik ke pantai.

Melanjutkan tradisi film musikal Disney, film ini menampilkan lagu-lagu yang enak didengar tapi tetap inspiratif. Langganan Broadway, Lin-Manuel Miranda menggarap "How Far I'll Go" yang menjadi lagu tema yang berkesan meski mungkin belum akan sekelas "Let It Go"-nya Frozen untuk urusan meracuni pikiran. Namun favorit saya adalah "Shiny" yang dibawakan Jemaine Clement dalam wujud kepiting raksasa. Lagu ini diiringi dengan musik lintas-genre dan disajikan melalui sekuens gila yang sedikit seram namun menghipnotis.

Selain slapstick yang sebagian besar berasal dari HeiHei, Moana juga diisi dengan running gags yang cukup cerdas. Comic-timing Dwayne Johnson sudah pernah kita lihat dan Maui seolah menjadi pengejawantahan karakternya dalam film ini. Kualitas dendangannya lumayan mengejutkan saya. Pengisi suara debutan Auli'i Cravalho bersinar memancarkan pesona yang dengan instan membuat kita terikat dengan Moana. Moana adalah karakter yang penuh; ia cinta keluarga, kuat, cerdas, berani, berjiwa petualang. Memang bukan satu-satunya princess yang punya semangat independen (ada Rapunzel dari Tangled, Anna dari Frozen dan Merida dari film Pixar yang ter-Disney-kan Brave), namun Moana adalah pertama kalinya seorang princess tak membutuhkan keberadaan pangeran charming atau sejenisnya. Tunggu, film ini bahkan tak butuh subplot romansa.

Jika anda ingin gadis kecil anda mempelajari pesan inspiratif tentang girls power lewat cara yang menghibur, tak ada pilihan yang lebih baik tahun ini daripada Moana. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Moana' |
|

IMDb | Rottentomatoes
113 menit | Semua Umur - BO

Sutradara John Musker, Ron Clements
Penulis Jared Bush (screenplay), Ron Clements, John Musker, Chris Williams, Don Hall, Pamela Ribon, Aaron Kandell, Jordan Kandell (cerita)
Pemain Auli'i Cravalho, Dwayne Johnson, Rachel House
0

Review Film: 'Death Note: Light Up the New World' (2016)

'Death Note: Light Up the New World' adalah usaha yang menarik untuk membangkitkan kembali franchise lama, namun meminggirkan kecerdasan intelektual dan moral pendahulunya.

“You cannot win against god. Kira is god.”
— Light Yagami
Apabila dua "death note" saja sudah menimbulkan kepanikan dan menyebabkan perseteruan intelegensi penuh intrik antara salah dua dari orang paling cerdas di dunia, apa jadinya jika berbagai belahan dunia kejatuhan lagi empat buku yang bisa membunuh manusia hanya dengan menuliskan namanya ini? Well, bisa menjadi masalah besar, tapi lingkupnya dengan segera mengerucut ke Jepang.

Death Note dan sekuelnya, Death Note: The Last Name yang diangkat dari manga populer karya Takeshi Obata dan Tsugumi Ohba, punya premis yang terdengar nyaris komikal, namun itu sebelum kita menyaksikan betapa pintar filmnya memainkan perang kecerdasan sekaligus pertentangan perspektif moral antara dua karakter utamanya. Death Note: Light Up the New World merupakan kelanjutan langsung dari dua film tersebut (abaikan spinoff L: Change the World), tapi film ini nyaris tak terasa seperti film Death Note, kecuali dari keberadaan buku kematiannya dan dewa kematian (Shinigami) yang merupakan si empunya buku.


Sementara film sebelumnya berfokus pada Light Yagami alias Kira yang merupakan pemegang buku dan L, detektif swasta yang ditugaskan untuk memburu Kira, Light Up the New World punya 3 karakter sentral: (1) Mishima (Masahiro Higashide), polisi yang tergabung dalam kesatuan khusus penanganan "death note"; (2) Ryuzaki (Sousuke Ikematsu), detektif swasta yang menjadi penerus L; serta (3) Yuki Shien (Masaki Suda), pemuda misterius yang katanya punya beberapa "death note".

Ceritanya mengambil waktu 10 tahun setelah kematian Kira, dimana manusia sudah akrab dengan ponsel cerdas sementara cyber-terrorism merajalela. Tiba-tiba belasan kematian mendadak kembali terjadi dan kecurigaan mengarah pada Neo-Kira. Ini diperkuat dengan kemunculan video viral yang menampilkan Light Yagami. Di awal film, kita melihat kepolisian Jepang yang sudah membentuk satuan khusus, tengah bersiap untuk menangkap seorang pengguna buku yang membunuh secara membabi-buta di tengah keramaian.

Diketahui bahwa hanya boleh ada 6 buku kematian di bumi. Alasan kenapa hanya 6, saya juga tidak tahu, namun mudah dibayangkan bahwa takkan ada lagi kehebohan jika semua orang sudah punya "Death Note". Seperti yang dibilang anak edgy kekinian sob, mainstream sucks. Fokus ceritanya adalah bagaimana 3 karakter utama kita berpacu satu sama lain untuk mendapatkan keenam buku. Mereka punya alasan masing-masing. Antagonisnya jelas Shien, tapi antara Mishima dan Ryuzaki yang sebenarnya berada di pihak yang sama, ada konflik karena perbedaan nilai moral.

Jika Death Note baru diproduksi sekarang, saya pikir filmnya akan diterima dengan lebih baik oleh penggemar manga/anime-nya. Perkembangan teknologi membuat efek spesial dari Light Up the New World tampak mengagumkan. Ada 3 Shinigami yang muncul disini: Ryuk yang bertampang ala rocker, Arma yang kelihatan seperti hibrid wanita seksi dengan ngengat, serta Beppo yang mirip cyborg; dan mereka semua punya penampakan yang organik, menyatu dengan dunia nyata serta punya interaksi yang terlihat riil dengan manusia. Sutradaranya adalah Shinsuke Sato yang pernah menggarap live-action Gantz dan I am Hero. Sato memberikan nunsa yang lebih sinematis dengan pergerakan kamera serta pemilihan gambar yang lebih dinamis, sehingga secara visual, film ini lebih berkelas dibanding pendahulunya.

Saya tak bisa membantah bahwa absennya Light dan L membawa kehilangan yang besar bagi film ini (pemerannya, Tatsuya Fujiwara dan Kenichi Matsuyama hanya tampil sebagai cameo). Light Up the New World tak punya kekuatan intelektual yang setara dengan film orisinalnya. Terlepas dari tindakan masing-masing, Death Note punya ambiguitas yang menarik; tak ada batas yang jelas antara protagonis dengan antagonis. Tujuan mereka sama yaitu keadilan, namun metode dan pandangan mereka berbeda. Light Up the New World tak bisa memantik provokasi yang sama bagi saya.

Naskahnya ditulis oleh Katsunori Mano yang mencoba menghadirkan kesan plot yang cerdas melalui plot twist yang jumlahnya begitu bejibun di paruh akhir hingga saya tak ingat ada berapa. Saya takkan mengungkapkannya, namun sebagai gambaran anda akan menemukan bahwa para tokoh tak seperti kelihatannya. Plot twist(s) ini hadir bukan karena pembangunan plot yang telaten sejak awal, melainkan datang sekonyong-konyong demi tujuan mengejutkan penonton, tanpa motif yang gamblang. Para karakter sebenarnya tak kalah unik (Mishima adalah Light versi polos *uhuk*, Ryuzaki adalah L versi hiperaktif dan Shien adalah Light versi geek), namun tanpa karakter sekompleks dan secerdas pendahulunya, pengungkapan besar di akhir ini adalah nonsens.

Jauh lebih menarik menyaksikan seorang karakter menggunakan "death note" dengan cerdas untuk mendahului langkah yang sudah disusun dengan cerdas pula oleh rivalnya. Ini merangsang intelegensi kita, menggerakkan logika berpikir. Tak ada keseruan melihat mereka membunuh orang umm... hanya demi tujuan membunuh. Dengan tata produksi yang lebih baik, Light Up the New World adalah usaha yang menarik untuk membangkitkan kembali franchise lama (termasuk membawa karakter lama seperti Misa Amane dan Matsuda) namun meminggirkan kecerdasan intelektual dan moral pendahulunya. Mengingat ending-nya yang menggantung, mari berharap lebih pada sekuelnya. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Death Note: Light Up the New World' |
|

IMDb | Rottentomatoes
135 menit | Dewasa

Sutradara Shinsuke Sato
Penulis Katsunori Mano (screenplay), Tsugumi Ohba, Takeshi Obata (manga)
Pemain Masahiro Higashide, Sousuke Ikematsu, Masaki Suda
0

Review Film: 'Allied' (2016)

'Allied' adalah gado-gado yang berisi berbagai elemen dari film klasik. Dan karena gado-gado, isinya yaa campur aduk.

"I keep my emotions real, that's why it works."
— Marianne Beausejour
Oh Casablanca, tempat dimana Bogart dan Bergman merajut kasih, dipertemukan oleh perang lalu dipisahkan pula oleh perang. Lokasi mana lagi yang lebih pas sebagai latar belakang untuk menceritakan kisah bersetting lawas mengenai hubungan asmara yang tragis selain kota di Maroko tersebut? Allied, film terbaru dari Robert Zemeckis, akan menyentil perasaan nostalgia, meskipun ia masih berada terlalu jauh untuk mencapai status klasik seperti film yang diinspirasinya.

Sama seperti Casablanca, filmnya berfokus pada romansa antara dua orang dengan latar belakang perang dan pengkhianatan. Filmnya adalah tentang cinta pada kekasih versus tanggungjawab pada negara. Jangan khawatir penggemar Casablanca, saya takkan bilang bahwa film ini sekelas dengan film tersebut. Kesenangan utama dari menonton Allied adalah menyaksikan dua orang yang punya tampang menawan bermain dalam film yang juga terlihat menawan.


Allied adalah gado-gado yang berisi berbagai elemen dari film klasik. Dan karena gado-gado, isinya yaa campur aduk. Anda mungkin akan terpesona dengan paruh pertamanya yang begitu elegan. Anda mungkin akan heran dengan subplot yang banyak keluar rel di paruh kedua. Anda mungkin akan terikat dengan intriknya dan, sama seperti saya, lantas baper menyaksikan paruh akhir yang memilukan. Saya pikir, Zemeckis ingin memuaskan banyak orang.

Film dibuka dengan tentara Kanada, Max Vatan (Brad Pitt) yang terjun payung di suatu tempat di gurun sahara. Max kemudian dijemput oleh seorang sopir yang akan membawanya ke Casablanca (tentu saja, ia dibekali dengan identitas palsu, uang dan pistol). Misinya adalah menyamar ke daerah musuh dengan berpura-pura sebagai suami Marianne Beausejour (Marion Cotillard), seorang pemberontak Prancis yang juga menyamar sebagai sosialita disana.

Max fokus pada misinya tapi Marianne terlalu seksi, flamboyan dan cerdas untuk bisa ditolak. Ia mengajarkan semua yang Max perlu tahu (termasuk mengubah logat Max yang katanya "Quebec banget"). Ia juga berusaha menjaga agar mereka berdua terlihat romantis di mata tetangga, entah itu dengan mengobrol, berpelukan atau bercumbu di tempat umum. Demi misi, mereka dilarang jatuh cinta namun tak butuh waktu lama hingga keduanya bercinta di dalam mobil di tengah serbuan badai pasir. If it sounds exotic, it is.

Anda mungkin ingin menyelipkan meme Ron Burgundy yang berujar "well, that escalated quickly" saat Max melamar Marianne dan mengajaknya tinggal di London, atau saat Marianne melahirkan di antara agresi udara yang dilakukan Nazi. Kebahagiaan mereka kemudian berada di ujung tanduk karena atasan Max (Jared Harris) mencurigai bahwa Marianne adalah agen ganda bagi Jerman. Apakah Marianne benar mata-mata? Naskah dari Steven Knight dan terutama penampilan yang kuat dari Cotillard cukup berhasil untuk membuat kita bertanya-tanya akan benar atau tidaknya hal ini. "Aku selalu melibatkan emosi, makanya misiku selalu berhasil". Sepatah kalimat dari Marianne ini menghantui Max. Di lain sisi, Max juga meragukan apakah ibu dari anaknya ini memang pengkhianat. Jika benar, hukumannya berat; Max harus membunuh Marianne dengan tangannya sendiri.

Kita bisa dengan mudah membagi film ini menjadi dua bagian yang berbeda dan tak perlu diperdebatkan lagi bahwa bagian pertama yang mengambil tempat di Casablanca, lebih superior. Menarik melihat bagaimana pasangan palsu ini berinteraksi satu sama lain melalui dialog-dialog elegan dengan dilatarbelakangi lokasi eksotis. Bagian ini berhasil karena Pitt dan Cotillard terlihat menikmati peran mereka. Hanya saja, saat berpindah ke London dimana kita butuh resonansi emosi yang lebih kuat, naskah dari Knight tak memfasilitasi chemistry mereka untuk matang. Pitt bisa membawakan kegalauannya dengan meyakinkan terlebih saat Max melakukan penyelidikan sendiri, sementara Cotillard tampil lebih kompleks, memberikan emosi sedemikan rupa hingga kita sendiri tak yakin akan apa yang dia rasakan (lihat tatapannya menjelang ending). Namun kita tak mengenali lebih jauh sedalam apa hubungan mereka. Kita tak diberi waktu yang cukup.

Ini adalah saat dimana narasi berfokus pada karakter Pitt dan menjadikan Cotillard sebagai misteri. Ini juga adalah saat dimana beberapa subplot dan karakter yang janggal mulai bermunculan, diantaranya pesawat Jerman yang tiba-tiba menyapu atap rumah keluarga Max (dan mereka piknik disana keesokan harinya!), Max yang mengunjungi mantan rekan lamanya yang cacat (Matthew Goode, anda takkan langsung mengenalinya) atau Max yang menyusup ke penjara di Dieppe untuk menginterogasi pemabuk yang memegang kunci hidup-mati Marianne.

Zemeckis adalah sutradara yang akrab dengan teknologi CGI (The Polar Express, Beowulf, The Walk) dan disini ia menggunakannya dengan bijak untuk menciptakan kesan elegan dan meningkatkan detil akan set lawasnya. Soal menghadirkan nuansa romantisme klasik, Zemeckis piawai. Ia juga mahir memainkan suspens. Lihat bagaimana ketegangan yang tercipta saat Max mengamati Marianne bercakap-cakap dengan beberapa orang dalam pesta di rumahnya. Atau saat Max ditanyai tentang lambang kimia Pospat oleh seorang pejabat Nazi yang ingin memastikannya sebagai penambang Pospat.

Saya menahan diri menulis beberapa paragraf untuk tak menyelipkan komentar mengenai Cotillard yang katanya menjadi perusak rumah tangga Pitt-Jolie. Namun ini dia: mungkinkah minimnya chemistry ini gara-gara Pitt-Cotillard yang menahan diri mereka untuk terlihat akrab? Yah anda tahulah, biar tak dicurigai orang? Ah, jadi ghibah. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Allied' |
|

IMDb | Rottentomatoes
124 menit | Dewasa

Sutradara Robert Zemeckis
Penulis Steven Knight
Pemain Brad Pitt, Marion Cotillard, Jared Harris
Next
Tak ada artikel berikutnya
Older Posts
Back to Top