0

Review Film: 'Lion' (2016)

Dev Patel mencari keluarga aslinya via Google Earth dalam film yang diam-diam akan menyentil urat tangis anda.

“I'm not from Calcutta. I'm lost.”
— Saroo Brierley
Lion adalah film yang penanganannya biasa-biasa saja. Tak ada yang spesial dari film ini, dan anda kemungkinan besar akan melupakannya setelah menonton. Namun saat sedang menonton, diam-diam ia akan mencekat anda, lalu menyentil urat tangis. Kisah nyatanya luar biasa, tapi sutradara Garth Davis menggarap elemen dramanya sebiasa mungkin. Meski demikian, filmnya tetap efektif menyentuh perasaan.
0

Trailer Final 'Power Rangers'

Ay ay ay. Lima remaja dengan kekuatan super (yep, serius) akan beraksi menumpas serangan alien dalam film 'Power Rangers'. Berikut trailernya.

Lionsgate dan Saban Films akhirnya merilis trailer panjang dari versi live-action "serius" dari Power Rangers, film yang pasti sudah ditunggu-tunggu oleh penggemar lama franchise tersebut, meski ini mungkin sedikit umm berbeda dengan ekspektasi.

Ceritanya mengenai 5 remaja sekolahan dari kota Angel Grove yang ditakdirkan untuk menjadi pahlawan yang mampu menyelamatkan bumi setelah bumi terancam dari serangan alien. Para pemainnya antara lain Dacre Montgomery sebagai Ranger Merah Jason, RJ Cyler sebagai Ranger Biru Billy, Naomi Scott sebagai Ranger Pink Kimberly, Becky G sebagai Ranger Kuning Trini serta Ludi Lin sebagai Ranger Hitam Zack.

Trailer ini sekilas menyoroti saat-saat dimana para remaja ini baru menemukan kekuatan mereka yang sedikit mengingatkan kita pada Chronicle (kenapa semua film blockbuster kekinian harus terlihat edgy dan suram?). Jika sebelumnya kita telah melihat "Morphin Time", Rita Repulsa (Elizabeth Banks), Zordon (Bryan Cranston), Alpha (Bill Hader) dan Megazord dalam trailer yang cenderung suram, maka trailer kali ini sedikit bersenang-senang. Lihat adegan saat Billy bertanya pada Zordon apakah mereka adalah superhero semacam Iron Man.

Yang duduk di kursi sutradara adalah Dean Israelite (Project Almanac), sedangkan naskah ditulis keroyokan oleh John Gatins (Real Steel), Burk Sharpless dan Matt Sazama (Dracula Untold), Zack Stents dan Ashley Miller (Thor), serta Max Landis (Chronicle). Nama terakhir menjelaskan kenapa premis filmnya sangat mirip dengan Chronicle.

Power Rangers direncanakan rilis pada 24 Maret 2017. Berikut trailernya. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

0

Review Film: 'Rings' (2017)

Hantu Samara tak mau ketinggalan jaman; ia sekarang menebar teror yang tak menyeramkan lewat file komputer.

“Seven days.”
— Samara
Memang absurd dan tak masuk akal sama sekali, namun saya ingat dulu saya selalu bergidik saat menyaksikan hantu gadis berambut panjang merangkak keluar dari layar televisi, baik dalam film Ringu-nya Hideo Nakata maupun remake versi Hollywoodnya, The Ring besutan Gore Verbinski. Momen tersebut tampak benar-benar menyeramkan, alih-alih menggelikan, hingga saya tak begitu peduli dengan logika. Namun saat menonton adegan yang mirip dalam Rings, saya dibuat sadar bahwa ini memang absurd, tak usah didebat lagi.


Mungkinkah karena saya yang sekarang sudah imun dengan adegan horor? Boleh jadi. Namun bisa jadi pula karena terornya memang tak lagi seram. Video VHS yang menghantui orang dalam The Ring buram dan punya kualitas seadanya yang menciptakan kesan mengerikan. Asal usulnya misterius. Di era digital, hampir semua orang bisa membuat video apapun, apalagi setan.

Yup. Hantu Samara tak mau ketinggalan jaman. Ia sekarang meneror bukan saja lewat video VHS, melainkan lewat file komputer. Bayangkan seandainya ada yang mengirim file tersebut kepada ratusan teman mereka. Cerita Rings, sayangnya lebih berfokus pada usaha untuk menguak (lagi) masa lalu Samara. Jika anda merasa ini mirip dengan film pertama, well, film ini punya detil tambahan dan sedikit belokan cerita sehingga kita bisa melupakan The Ring Two.

Adegan pembuka di sebuah pesawat mengingatkan kita kembali akan konsekuensi menonton videonya. Sehabis menonton, anda akan mendapat telepon misterius yang memberitahu bahwa anda hanya punya waktu 7 hari untuk hidup. Ini adalah hari yang dimaksud bagi seorang penumpang, dan ia belum sempat menyebarkan video itu kepada orang lain untuk menghindari kutukan. Jangan lupa, bangku penumpang pesawat dilengkapi televisi mini. Anda pikir Samara tak muat di monitor kecil? Samara tak pilih-pilih.

Video ini jatuh ke tangan seorang dosen, Gabriel (Johnny Galecki) yang mendapati pemutar VCR dari puing-puing pesawat yang jatuh dua tahun silam (jangan dibahas). Ia manut dengan perintah "Watch Me" yang menempel di kaset. Apa yang akan terjadi dengannya? Kita belum akan tahu, namun ia baik-baik saja ketika Julia (Matilda Lutz) ingin mencari info soal pacarnya yang hilang, Holt (Alex Roe) yang merupakan salah satu mahasiswa Gabriel.

Julia ingin mengetahui keberadaan Holt, karena di malam mereka akan ber-SkypeSex, tiba-tiba muncul seorang gadis tak jelas di kamar kosan Holt yang berteriak tak karuan. Julia stres karena SMS-nya tak dibalas. Jika dalam The Ring kita dibuat peduli dengan dinamika antara karakter Naomi Watts dengan anaknya hingga mengkhawatirkan keselamatan mereka, karakter dalam Rings datar. Logikanya adalah logika remaja pubertas yang mengganggap pacar adalah segalanya. Julia bahkan rela berkorban agar Holt bisa hidup, padahal ia baru saja selamat dari tipuan salah satu mahasiswa Gabriel yang menjebaknya menonton video.

Rings seakan hendak menyentuh ranah sains. Gabriel sengaja menyebarkan video ini kepada mahasiswanya demi meneliti tentang keabadian dan dunia gaib. Mereka tak perlu khawatir akan mati karena Gabriel akan mencari tumbal berikutnya sehingga kutukan akan berpindah ke orang baru dan begitu seterusnya. Terdengar seperti permainan yang aman, namun tentu saja ini tak berjalan lancar karena kita berada dalam film horor.

Tim penulis naskah lumayan bisa menemukan cara untuk menemukan cerita baru sekaligus memberi set-up bagi sekuel-sekuel berikutnya (jika yang ini sukses), meski harus diakui, mereka masih menggunakan formula plot yang sama dengan film pertama. Julia dan Holt pergi ke sebuah desa terpencil untuk menguak misteri tentang Samara sembari berharap ini bisa membuat kutukannya hilang. Julia mendapati potongan video baru dalam video lama Samara yang sepertinya berisi petunjuk yang juga berhubungan dengan hilangnya seorang "kembang desa" 30 tahun yang lalu. Ini mengantarkan mereka kepada seorang penjaga makam lokal yang buta, yang tentu saja punya peran penting mengingat ia diperankan oleh Vincent D'Onofrio.

Cerita terus berjalan dengan eksposisi yang lumayan banyak di setiap momennya. Samara baru akan muncul dalam tujuh hari, sehingga setidaknya Julia akan aman dari gangguan seminggu ke depan. Untuk mengkompensasi ketiadaan teror ini, sutradara F. Javier Gutierrez menyelipkan berbagai adegan inkonsekuensial seperti kilasan mimpi buruk, halusinasi atau serangga yang bergerombol untuk memantik rasa ngeri.

Sejujurnya, saya lumayan tertarik dengan cerita dan misterinya. Rings menawarkan penjelasan bagi yang ingin tahu soal Samara lebih dari sekedar ia jadi hantu gara-gara perlakuan keji semasa kecil. Namun film ini tak mampu menciptakan kengerian yang efektif. Ia gagal untuk membuat takut. Bukan hal bagus saat sebuah film genre tak berhasil melakukan spesialisasinya. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Rings' |
|

IMDb | Rottentomatoes
102 menit | Remaja - BO

Sutradara F. Javier Gutiérrez
Penulis Akiva Goldsman, Jacob Aaron Estes, David Loucka
Pemain Matilda Lutz, Alex Roe, Johnny Galecki
0

Review Film: 'Moonlight' (2016)

Barry Jenkins mengajak kita menyelami opresi lingkungan terhadap orang yang tersisihkan lewat 3 fase kehidupan dari pria gay kulit hitam.

“You've got to decide who you want to be.”
— Juan
Dalam hal signifikansi, tak ada film yang lebih penting daripada Moonlight tahun ini. Tak cukup hanya menceritakan tentang pendewasaan seorang anak kulit hitam di lingkungan yang keras, film ini juga menyinggung orientasi seksualnya yang gay. Ini adalah film kompleks mengenai kemiskinan, narkoba, KDRT, bullying dan Moonlight menuturkannya pada kita lewat jendela kecil yang dihadirkan melalui 3 fase kehidupan seorang anak yang emosinya tertekan karena dicederai lingkungan.


Sekilas, temanya mirip dengan Brokeback Mountain yang dibintangi oleh Heath Ledger dan Jake Gyllenhaal. Meski sama-sama mengenai tokoh gay yang terpaksa mengingkari hasrat dikarenakan masyarakat yang menuntut bagaimana seorang pria yang harus bersikap layaknya pria normal, film Ang Lee tersebut lebih berfokus pada cinta mereka. Moonlight lebih kepada krisis identitas. Dengan mengambil setting kultur kulit hitam, sutradara Barry Jenkins mengukuhkan pondasi akan beban konfliknya. Saya bukan pakar budaya masyarakat kulit hitam, namun saya lumayan tahu bahwa ada stigma mengenai pria kulit hitam yang diharuskan tangguh, tidak menye, dan supermaskulin karena mereka dibesarkan dalam kekerasan.

Moonlight diangkat dari drama panggung berjudul In Moonlight Black Boys Look Blue karya Tarell Alvin McCraney yang juga menulis naskah filmnya bersama Jenkins. McCraney adalah seorang gay, dan saya rasa pengalaman pribadinya banyak berbicara disini. Film ini dibagi menjadi 3 bagian: "Little", "Chiron", dan "Black", dimana ketiganya diambil dari nama panggilan tokoh utama kita yang berbeda di setiap titik penting kehidupannya: anak-anak, remaja dan dewasa.

Di episode "Little", Chiron (Alex Hibbert) adalah anak 10-tahunan yang pemalu dan selalu di-bully oleh teman sebayanya. Saat bersembunyi di sebuah rumah kosong, ia berjumpa dengan Juan (Mahershala Ali), seorang pengedar narkoba lokal. Chiron menemukan rumah keduanya di tempat tinggal Juan dan pacarnya, Teresa (Janelle Monae), sekaligus mendapatkan figur orangtua yang selama ini tak dipunyainya mengingat ayahnya telah tiada dan ibunya, Paula (Naomie Harris) lebih sayang kepada narkoba. Chiron belum mengenal orientasi seksualnya, namun ia senang saat satu-satunya temannya, Kevin (Jaden Piner) mengajarinya untuk berkelahi.

Beranjak SMA, panggilan "Little"-nya mulai lepas, namun Chiron (Ashton Sanders) yang hanya kulit berbalut tulang, masih menjadi bulan-bulanan teman sekelasnya. Tak banyak yang berubah kecuali absennya Juan; ia masih suka mencari kenyamanan ke rumah Teresa, ia masih berteman dengan Kevin (Jharrel Jerome). Namun fase ini menjadi titik balik kehidupan Chiron. Yang pertama, ia menemukan identitasnya saat berbagi momen bersama Kevin lewat sebuah adegan yang membuat saya sedikit risih. Terakhir, ia akhirnya tahu bagaimana harus mengambil sikap terhadap dunia yang menolaknya.

Kita nyaris tak mengenali Chiron dewasa (Trevante Rhodes) yang kini menggunakan nama panggilan "Black" dimana ia sekarang adalah pengedar narkoba sukses. Berotot, supermacho, memakai gigi emas dan mengendarai mobil mewah, Chiron tahu cara berhadapan dengan orang. Gahar memang, namun sisi sensitifnya tak hilang; ia hanya menyembunyikannya.

Panggilan telepon dari Kevin (Andre Holland) yang sudah lama tak terdengar kabarnya, membangkitkan masa lalu Chiron, sekaligus jati dirinya. Sebagai seorang pemilik rumah makan, Kevin menjadi familyman yang ceria, namun sama seperti Chiron, ada sesuatu yang masih menghantuinya. Holland menunjukkan kompleksitas; Kevin punya dilema yang tak kalah beratnya dibanding Chiron.

Meski karakter Chiron dimainkan oleh tiga aktor yang berbeda dalam range linimasa yang berjauhan, namun penampilan mereka punya kontinuitas. Jenkins mengarahkan mereka dengan sedemikian rupa, sehingga walaupun tak begitu punya kemiripan fisik, kita mempercayai mereka sebagai orang yang sama yang bertumbuh.

Secara naratif Moonlight minimalis, namun Jenkins memberikan sentuhan yang stylish bagi filmnya. Menggandeng sinematografer James Laxton, ia menyorot gambar dengan kontras tinggi namun punya atmosfer yang tenang. Dengan ruang lingkup naratif yang kecil (cerita tampaknya bergerak disitu-situ saja), filmnya punya karakter yang cukup kaya. Juan-nya Mahershala Ali adalah karakter yang sedikit problematis. Ia menjadi pengganti ayah bagi Chiron, namun di saat bersamaan ia jugalah yang memasok narkoba bagi ibu Chiron. Meski karakter Harris sebagai ibu yang abusif terdengar klise, namun pada akhirnya nanti kita bisa melihat Paula sebagai seorang manusia yang punya perasaan dan tentu saja, penyesalan.

Ada begitu banyak yang ingin disampaikan oleh Jenkins melalui Moonlight, tapi kita tak mendapatinya mentah-mentah. Tak ada pesan moral yang diberikannya secara gamblang. Penonton diposisikan sebagai observan. Resonansi film ini bagi kita mungkin takkan sebesar penonton Amerika, karena kita tak begitu akrab dengan kultur kulit hitam. Meski demikian, saya rasa kita tetap bisa merasakan kegetirannya. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Moonlight' |
|

IMDb | Rottentomatoes
111 menit | Dewasa

Sutradara Barry Jenkins
Penulis Barry Jenkins (screenplay), Tarell Alvin McCraney (play)
Pemain Trevante Rhodes, André Holland, Mahershala Ali
0

Berita Film Minggu Ini #41

Berita minggu ini diantaranya: Mel Gibson yang diincar untuk 'Suicide Squad 2', Niki Caro yang akan sutradarai live-action 'Mulan', Warner Bros yang rekrut sutradara 'Lights Out' untuk film 'Shazam', dll.

0

Buletin LSF: 'Kong: Skull Island', 'Beauty and the Beast', 'London Love Story 2', dll

Film lulus sensor minggu ini antara lain: 'Bid'ah Cinta', 'Gold', 'Kong: Skull Island', 'Beauty and the Beast', 'The Guardians', 'Mr. Hurt', 'London Love Story 2' dan 'Jakarta Undercover'.

Next
Tak ada artikel berikutnya
Older Posts
Back to Top