0

Review Film: 'Guardians of the Galaxy Vol.2' (2017)

'Guardians of the Galaxy Vol.2' melakukan "dosa" yang biasa dilakukan oleh sekuel film blockbuster, namun berhasil lolos karena tetap berpegang pada citarasa dan formua yang membuat film pertamanya sukses.

“Are we really saving the galaxy, again?”
— Rocket
Guardians of the Galaxy Vol.2 melakukan "dosa" yang biasa dilakukan oleh sekuel film blockbuster, namun berhasil lolos karena tetap berpegang pada citarasa dan formula yang membuat film pertamanya sukses. Iya, saya bilang bahwa film ini tak sebagus Guardians of the Galaxy. Meski demikian, ia masih lebih baik dibandingkan kebanyakan film superhero modern yang seringkali hanya berisi parade efek visual tanpa esensi.


Tiga tahun lalu, Guardians of the Galaxy menjadi hit yang mengejutkan dengan pendapatan lebih dari tiga perempat miliar dolar dari seluruh dunia. Sementara film superhero biasanya dibangun dengan topik self-serious seperti konflik personal atau villain yang mengancam dunia, Guardians of the Galaxy yang membawakannya dengan lebih riang menjadi sajian yang menyegarkan. Berangkat dari superhero yang tak dikenal, sekarang mungkin sebagian penonton malah mengidolakan monster pohon atau rakun yang bisa bicara. Dengan ekspektasi setinggi itu, the only way is go bigger, perhaps. Kita bisa merasakan bahwa Guardians of the Galaxy Vol.2 seolah merasa berkewajiban untuk jadi lebih lucu, lebih seru, dan lebih spektakuler, yang sebenarnya tak masalah seandainya ia tak mencoba terlalu keras.

Saya tak bermaksud bilang bahwa film ini tak lagi lucu, seru, dan spektakuler. Dinamika kocak antarkarakter, semesta yang imajinatif serta efek visual menyilaukan masih ada, tapi sekarang terasa sedikit maksa. Film ini masih ditulis dan disutradarai oleh pembuat film pertamanya, James Gunn. Mungkin menyadari bahwa suguhannya tak lagi segar dan sudah kehilangan efek kejut, Gunn melipatgandakan semuanya. Saya pikir ada dosis tertentu bagi lelucon, plot dan karakter yang bisa dimuat dalam satu film.

Yang menjadi pusatnya masih tim kita, para penjaga galaksi: Peter Quill (Chris Pratt), manusia, ehm, separuh dewa yang ngebet dipanggil Star Lord; Gamora (Zoe Saldana), alien wanita hijau yang tangguh; Drax (Dave Bautista), si gempal superkuat yang punya selera humor receh; Rocket (disuarakan oleh Bradley Cooper), rakun cerdas yang bermulut kasar; dan tentu saja, Groot (disuarakan oleh Vin Diesel) monster pohon yang sekarang mungil yang sangat menggemaskan. Mereka mendapat misi dari petinggi alien berkulit emas, Ayesha (Elizabeth Debicki) untuk mengambil baterai berharga yang kemudian separuhnya dimaling oleh Rocket. Ayesha yang murka mengirim pasukannya untuk memburu para Guardian sebelum akhirnya diselamatkan oleh Ego.

Ini bukan spoiler: Ego adalah ayah biologis dari Quill. Sehalu penjelasan saya, ia bukan manusia melainkan "celestial" yang bisa disandingkan dengan dewa, namun ia bisa mengambil wujud manusia dalam bentuk Kurt Russell. Ego menciptakan planet yang berisi taman dan kastil dengan dekorasi supermewah. Ia bilang sudah menghabiskan banyak waktu untuk mencari anak yang lama tak dijumpainya ini. But really, saya rasa anda sudah bisa mencium gelagat tak sedap.

Sementara itu, Rocket dan Groot yang ditinggalkan bersama Nebula (Karen Gillan) — saudari Gamora, jika anda masih ingat— harus berhadapan dengan tim berandalan yang dipimpin si biru Yondu (Michael Rooker) yang malah berujung pada bergabungnya Yondu dengan tim Guardian kita. Saat mereka semua dipenjara di sebuah kapal ruang angkasa, Yondu menceritakan masa lalunya dengan Quill yang otomatis melejitkannya dari karakter sampingan menjadi salah satu karakter yang penting dalam semesta Guardians of the Galaxy.

Selagi Quill membangun kembali hubungan dengan sang ayah, termasuk bermain lempar bola karena lempar bola tampaknya merupakan rutinitas ikonik ayah-anak, Gamora juga harus menyelesaikan masalah dengan saudarinya Nebula yang memburunya hingga ke planet Ego. Mekanika plotnya menjadi semacam Star Trek ala-ala, dimana Quill dan Gamora yang kali ini berada di bawah sorotan, sementara yang lain ngelawak di belakang; Drax menjalin interaksi romatis dengan Mantis (Pom Klementieff), pesuruh Ego yang punya mata besar dan dua antena, dan Rocket serta Groot yang berusaha kabur dari penjara.

Saya suka adegan pembukanya yang sebenarnya adalah sekuens aksi. Groot bayi menari diiringi lagu "Mr. Blue Sky" dari ELO, sementara rekan-rekan tengah bertarung setengah mati melawan monster gurita raksasa di latar belakang. Ini keren. Kamera hanya berfokus pada Groot, menegaskan bahwa Gunn pede dengan gayanya dan tak mau pamer sekuens aksi. Sayangnya, film kemudian mencoba terlalu keras menonjolkan kedua elemen tadi. Hasilnya bagus tapi tak exciting.

Apakah Gunn tetap mengutilitisasi lagu lawas untuk adegan aksinya? Tentu saja — diantaranya ada Brandy (You're Fine Girl)"-nya Looking Glass dan "The Chain"-nya Fleetwood Mac— tapi eksekusinya tak seberkesan film sebelumnya. Celutukan dan bantering yang dilempar sesering mungkin, beberapa diantaranya meleset. Referensi budaya pop selalu asyik disimak (Cheers, David Hasselhoff, Mary Poppins) dan Groot selalu menggemaskan dilihat, tapi lelucon Rocket yang mengena hanya soal "Taserface". Saya pikir banyaknya jokes di tempat yang tak tepat mencederai intensitasnya. Mereka terlihat tak peduli dengan apa yang terjadi dengan melempar lelucon dimana-mana.

Sekuens aksinya yang melibatkan serangan efek spesial, mengagumkan secara visual meskipun minim intensitas. Lingkungan digitalnya berada di level yang berbeda. Tak banyak yang bisa seperti Gunn dalam membuat ledakan dan efek spesial overload yang tetap terasa menghibur meski komposisinya riuh dan nyaris tanpa dimensi. Adegan klimaksnya berisi banyak ledakan. Gunn mampu mengangkat momen klasik film superhero, termasuk beberapa klise sinema seperti asmara antarprotagonis dan hero shot dalam slow-motion, tak tampak begitu cheesy.

Namun yang merupakan keterampilan tertinggi Gunn disini adalah dari segi komersil. Ia tak hanya berhasil merangkai narasi yang tak fokus ini tanpa ada yang terbuang (serius, detil kecil di awal ternyata ada maksudnya di akhir), tapi juga sukses mempersembahkan kontinuitas untuk menjalin seporsi kisahnya ini dengan semesta MCU yang mahaluas tanpa menjegal narasi. Kita mungkin takkan mengingat Gamora yang menenteng senapan sebesar motor, namun cameo dari Sylvester Stallone dan Michelle Yeoh akan meninggalkan kesan. Di suatu waktu, di sebuah film MCU, kita bisa berkata, "Oh, mereka awalnya muncul dalam Guardians of the Galaxy Vol.2". ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Guardians of the Galaxy Vol.2' |
|

IMDb | Rottentomatoes
136 menit | Remaja

Sutradara James Gunn
Penulis James Gunn
Pemain Chris Pratt, Zoe Saldana, Dave Bautista
0

Box Office: 'Fast & Furious 8' Tancap Gas Menuju $1 Miliar

Dalam waktu dua minggu saja, 'Fast & Furious 8' hampir mencapai $1 miliar. Sementara itu, 'Beauty and the Beast' menjadi film 2017 pertama yang melewati angka $1 miliar. Berikut rekap box office minggu ini.

0

Berita Film Minggu Ini #50

Berita minggu ini diantaranya: spinoff 'Fast & Furious' untuk Jason Statham dan Dwayne Johnson, 'Captain Marvel' yang sudah dapatkan sutradara, James Gunn yang pastikan kembali untuk 'Guardians of the Galaxy 3', dll.

0

Review Film: 'Lavender' (2017)

Ending film mencoba untuk menjadi sesuatu yang emosional, namun kemungkinan besar anda takkan merasakan apapun, kecuali lega karena telah terbebas dari rasa jemu.

"If you did bad thngs but don't remember, are they still part of who you are?"
— Jane Ryer
Lavender adalah film drama-horor dengan twist. Dan saya tidak bermaksud spoiler. Hal terbaik tentang film dengan twist adalah kita tak menduga akan mendapat twist, sehingga saat ia datang, ia akan menohok kita. Lavender sudah terpasang label twist sedari awal. Ketika semua setup sudah selesai dibangun di lima belas menit durasi, kita sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.


Begini. Awal film dibuka di tahun 1985 dimana sebuah keluarga dibantai di rumah mereka di daerah pedesaan. Hanya ada satu orang yang selamat yaitu gadis muda bernama Jane Ryer. Kasus ini tak pernah terselesaikan, tapi orang-orang berspekulasi bahwa anak gadis itulah yang membunuh adik, ibu dan ayahnya tersebut. Apalagi di TKP, hanya ada Jane yang berlumuran darah sembari memegang pisau.

Nyaris tiga dekade kemudian, Jane (Abbie Cornish) adalah seorang ibu rumah tangga sekaligus fotografer yang hobi memotret rumah-rumah pedesaan yang tak dihuni. Mungkinkah ini berhubungan dengan trauma masa lalunya? Entahlah, Jane tak ingat sama sekali. Ia juga sering lupa jadwal menjemput sang anak, Alice (Lola Flanery) yang membuatnya sering berantem dengan suaminya, Alan (Diego Klattenhoff).

Saat akan menjemput Alice di sekolah, Jane mengalami kecelakaan gara-gara mobilnya hampir menabrak anak gadis misterius yang tiba-tiba muncul di tengah jalan. Jane mengalami amnesia. Dokter memberitahu bahwa ada banyak retakan di tengkorak Jane yang kemungkinan bukan disebabkan kecelakaan mobil tadi. Untuk mengembalikan ingatannya, psikiater Liam (Justin Long) menyarankan untuk kembali menelusuri masa lalunya, termasuk menghubungi paman Patrick (Dermot Mulroney) yang sudah lama tak ditemuinya.

Patrick gembira mendengar kabar dari keponakannya tersebut. Ia memberitahu bahwa Jane punya warisan rumah yang selama 25 tahun ini dirawatnya sendiri. Jane kesana dengan mengajak Alice dan Alan. Ketika Jane bertanya kepada Patrick mengenai apa yang terjadi waktu itu, Patrick menjawab bahwa hanya Jane yang tahu. Di titik ini, film seolah memberitahu kita bahwa Jane pastilah bukan pelaku meski semua fakta sebelumnya terkesan mengarahkan kita sebaliknya. Ini reversed-psychology. Ada sesuatu yang besar yang terjadi sebelumnya. Ada antagonis lain dan itu bukan Jane. Poin plus bagi anda yang bisa menjawab sebelum fimnya berakhir.

Dalam penyelidikannya, Jane tiba-tiba juga menjumpai beberapa kotak kado kecil berisi memento masa lalunya serta gadis kecil misterius yang memperingatkan ini itu. Elemen horor dari film tampaknya bertujuan untuk menggambarkan kegalauan Jane saat ia mulai mempertanyakan peranya dalam pembantaian keluarganya serta disorientasinya antara halusinasi dengan realitas. Ini juga bisa membuat kita teralihkan selama berjalan menuju twist. Namun, horornya tak pernah benar-benar mencekam atau memancing rasa takut. Jurus klise horor —seperti pintu yang tiba-tiba tertutup, scoring pemancing suspense, atau nyanyian anak-anak di tempat sepi— terasa menjemukan hingga saya tak sabar untuk membuktikan bahwa "ah, pasti twist-nya begini!".

Dan ini tak membantu saat filmnya berjalan dengan sangat pelan. Sinematografer Brendan Steacy punya tendensi untuk ber-slow-motion atau menyorot gambar dengan kamera statis, bahkan saat tak terjadi sesuatu yang penting. Namun memang gambar-gambarnya indah dilihat. Setting-nya mengijinkan untuk menampilkan pemandangan desa yang hijau dan asri, dan Steacy tak menyia-nyiakannya; ia menggunakan palet warna dengan kontras tinggi. Adegan pembuka adalah semacam sekuens Mannequin Challenge. Di TKP, kamera bergerak one-shot menyusuri semua sudut rumah, sementara polisi yang tengah menyidik terdiam kaku dengan pose masing-masing. Kamera kemudian menyorot Jane yang terduduk di lantai. Wajahnya berlumuran darah dan ia menatap tajam ke kamera.

Tema utamanya lebih ke drama daripada horor, mengenai memperbaiki sesuatu yang salah untuk membebaskan yang masih terkungkung. Oleh karenanya, sutradara Ed-Gass Donnelly memaksudkan filmnya lebih digerakkan oleh performa aktor, dan meski penampilan Cornish tak buruk, karakternya tak mampu membuat ikatan emosi dengan penonton. Ending film mencoba untuk menjadi sesuatu yang emosional, namun kemungkinan besar anda takkan merasakan apapun, kecuali lega karena telah terbebas dari rasa jemu. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Lavender' |
|

IMDb | Rottentomatoes
93 menit | Remaja

Sutradara Ed Gass-Donnelly
Penulis Colin Frizzell, Ed Gass-Donnelly
Pemain Abbie Cornish, Dermot Mulroney, Justin Long
0

Trailer Perdana 'Thor: Ragnarok'

Thor sumringah bertemu Hulk di arena gladiator, tapi Hulk malah menyerangnya sekuat tenaga. Berikut teaser trailer 'Thor: Ragnarok'.

Anda mungkin ingat bagaimana film Thor dan Thor: The Dark World yang suram. Well, film ketiganya, Thor: Ragnarok tak seperti film Thor yang kita tahu. Sebagaimana yang terlihat dari trailer perdananya berikut, film yang satu ini lebih berwarna-warni dan nge-beat yang mungkin lebih mengingatkan kita pada Guardians of the Galaxy.

Sutradara What We Do in the Shadows, Taika Waititi memberikan sentuhan yang lebih segar. Thor (Chris Hemsworth) tak hanya tampil dengan pakaian dan potongan rambut baru, tapi juga punya selera humor yang bagus. Saat harus berhadapan di arena gladiator melawan Hulk (Mark Ruffalo), Thor berteriak sumringah, "Ia teman satu kerjaan!". Sayang, Hulk tak peduli.

Meski demikian, sembari diiringi lagu "Immigrant Song"-nya Led Zeppelin, trailer ini tak bermain-main dengan ancaman yang harus dihadapi Thor. Asgard diserbu oleh Hela (Cate Blanchett), dan musuh kali ini bukan perkara sepele karena palu Thor, Mjolnir berhasil dihancurkan Hela. Thor kemudian ditawan oleh Valkyrie (Tessa Thompson) atas perintah Grandmaster (Jeff Goldblum).

Tom Hiddleston kembali bermain sebagai Loki, Idris Elba sebagai Heimdall dan Anthony Hopkins sebagai Odin. Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) dikabarkan juga akan tampil.

Thor: Ragnarok direncanakan tayang pada 3 November. Berikut trailernya. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem


0

Box Office: 'Furious 8' Cetak Debut Global Tertinggi Sepanjang Masa

'Fast & Furious 8' resmi melengserkan 'Star Wars: The Force Awakens' dan 'Jurassic World' sebagai film dengan debut tertinggi sepanjang masa. Meski demikian, performanya di Amerika sedikit menurun. Berikut rekap box office minggu ini.

0

Berita Film Minggu Ini #49

Berita minggu ini diantaranya: poster dan teaser perdana 'Star Wars: The Last Jedi', Vin Diesel yang pangkas credit scene di 'Furious 8', Jude Law yang akan jadi Dumbledore untuk 'Fantastic Beasts 2', beberapa update cast dari 'Deadpool 2', 'Aquaman' dan 'Spider-Man', dll.

Next
Tak ada artikel berikutnya
Older Posts
Back to Top