0

Trailer Terbaru 'Power Rangers'

Ay ay ay. Lima remaja dengan kekuatan super (yep, serius) akan beraksi menumpas serangan alien dalam film 'Power Rangers'. Berikut trailernya.

Lionsgate dan Saban Films akhirnya merilis trailer panjang dari versi live-action "serius" dari Power Rangers, film yang pasti sudah ditunggu-tunggu oleh penggemar lama franchise tersebut, meski ini mungkin sedikit umm berbeda dengan ekspektasi.

Ceritanya mengenai 5 remaja sekolahan dari kota Angel Grove yang ditakdirkan untuk menjadi pahlawan yang mampu menyelamatkan bumi setelah bumi terancam dari serangan alien. Para pemainnya antara lain Dacre Montgomery sebagai Ranger Merah Jason, RJ Cyler sebagai Ranger Biru Billy, Naomi Scott sebagai Ranger Pink Kimberly, Becky G sebagai Ranger Kuning Trini serta Ludi Lin sebagai Ranger Hitam Zack.

Trailer ini sekilas menyoroti saat-saat dimana para remaja ini baru menemukan kekuatan mereka yang sedikit mengingatkan kita pada Chronicle (kenapa semua film blockbuster kekinian harus terlihat edgy dan suram?). Bagi yang menantikan "Morphin Time", penampilan Rita Repulsa (Elizabeth Banks), Zordon (Bryan Cranston), Alpha (Bill Hader) dan Megazord, anda akan mendapatkannya sekarang, Namun lagi-lagi, semua mungkin tak sesuai dengan ingatan anda.

Yang duduk di kursi sutradara adalah Dean Israelite (Project Almanac), sedangkan naskah ditulis keroyokan oleh John Gatins (Real Steel), Burk Sharpless dan Matt Sazama (Dracula Untold), Zack Stents dan Ashley Miller (Thor), serta Max Landis (Chronicle). Nama terakhir menjelaskan kenapa premis filmnya sangat mirip dengan Chronicle.

Power Rangers direncanakan rilis pada 24 Maret 2017. Berikut trailernya. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

0

Box Office: 'Hidden Figures' Tetap di Puncak, 'Monster Trucks' Amblas

'Hidden Figures' dengan kokoh mempertahankan mahkota jawara, sementara 3 film baru tak mampu masuk 3 besar. 'Monster Truck' yang bernasib paling parah. Berikut rekap box office minggu ini.

0

Berita Film Minggu Ini #36

Berita minggu ini diantaranya: Ben Affleck yang konfirmasi akan sutradarai film solo 'Batman', Martin Scorsese yang mundur dari proyek biopik Frank Sinatra, Will Smith dan Tom Hanks yang diincar untuk live-action 'Dumbo' milik Disney, dll.

0

Review Film: 'Patriots Day' (2017)

Berg menahan dirinya untuk tak meledakkan sesuatu (kecuali bom, tentu saja) secara berlebihan dan menyajikan sebuah drama yang membumi serta tak eksploitatif, setidaknya dibandingkan dengan film-film Berg sebelumnya.

“There's only one weapon you have to fight back with, it's love.”
— Tommy Saunders
Soal urusan memamerkan heroisme Amerika, Peter Berg hanya kalah sedikit dibanding Michael Bay. Setelah Lone Survivor dan Deepwater Horizon yang pada dasarnya sama-sama mengangkat tema tersebut, ia kembali berkolaborasi dengan Mark Wahlberg dalam film yang judulnya saja sudah menggambarkan esensi filmnya, Patriots Day.

Berg dan Bay juga sama-sama punya keterampilan untuk mengolah kisah nyata menjadi film aksi yang dramatis. Dalam 13 Hours, Bay menceritakan penyelamatan di Benghazi melalui adegan aksi bombastis yang nyaris tanpa henti. Dalam konteks Patriots Day, mengubah tragedi massal yang membuat seluruh penjuru Amerika berduka menjadi sebuah hiburan blockbuster, mungkin terdengar tak sensitif. Namun Berg menahan dirinya untuk tak meledakkan sesuatu (kecuali bom, tentu saja) secara berlebihan dan menyajikan sebuah drama yang membumi serta tak eksploitatif, setidaknya dibandingkan dengan film-film Berg sebelumnya.


Film ini menceritakan tentang tragedi bom yang terjadi saat Boston Marathon pada 15 April 2013 yang menewaskan 3 orang serta melukai ratusan lainnya, dan proses perburuan terorisnya yang berlangsung tak sampai seminggu setelah kejadian. Bagi warga Amerika, kisah ini (katanya) sudah diketahui dengan seksama karena kanal TV yang memberitakannya secara sporadis. Bagi kita yang boleh dibilang hanya tahu sekilas, Patriots Day akan memberikan informasi baru yang lebih detil, mengingat filmnya yang (katanya, lagi) mereka-ulang peristiwa tersebut dengan setia.

Kita akan diperkenalkan dengan berbagai tokoh kunci, yang sebagian besar belum akan kita ketahui perannya nanti, kecuali Mark Wahlberg yang pastinya akan menjadi tokoh utama (karena ia adalah Mark Wahlberg). Karakter Wahlberg adalah sersan Tommy Saunders, yang ternyata hanyalah tokoh fiktif yang berfungsi sebagai benang merah. Ia selalu berada di waktu dan tempat yang krusial, entah itu saat peledakan terjadi atau saat perburuan dilakukan.

Tak terlalu mengikuti beritanya, di awal-awal film saya bertanya-tanya siapa orang-orang ini. Ada pasangan muda (Rachel Brosnahan dan Christopher O’Shea), polisi MIT (Jake Picking) yang sedang pedekate dengan seorang cewek, serta ahli IT keturunan Cina, Dun Meng (Jimmy O. Yang). Kita juga melihat Tamerlan (Themo Melikidze) dan istrinya (Melissa Benoist) yang tinggal bersama sang adik, Dzokhar (Alex Wolff). Yang terakhir, sedang menonton video jihad. Banyaknya karakter dan perspektif ini membuat sebagian besar subplotnya tak tergarap dengan matang.

Mengalami cedera, Saunders adalah polisi yang berdedikasi-tapi-temperamental yang menganggap penugasannya sebagai petugas pengaman marathon sebagai penghinaan. Ini disambut dengan ledekan dari sang istri (Michelle Monaghan). Namun ketika bom meledak disusul satu bom lagi beberapa saat setelah pelari pertama mencapai garis finis, ia harus menunaikan kewajibannya bersama dengan warga dan otoritas kota Boston.

Adegan ledakan bom dikreasi seperti yang anda harapkan. Memang tak sespektakuler Deepwater Horizon, namun Berg menciptakan urgensi yang tampak riil dan efektif bagi cerita. Disini, ia cukup mahir untuk melakukan staging adegan yang tak membuat kita gusar dengan kemustahilannya. Sinematografer Tobias A. Schliessler menggunakan kamera handheld untuk memberi nuansa ala dokumenter.

Cerita inti dari film ini adalah perburuan terorisnya yang mengambil porsi yang signifikan dari keseluruhan durasi. Komisaris Ed Davis (John Goodman) harus berdebat dengan pejabat CIA (Kevin Bacon) untuk merilis foto terduga, setelah mereka mendapatkan petunjuk. Sementara itu, duo teroris ini berusaha melenyapkan jejak dan merencanakan aksi selanjutnya. Naskah memberikan dinamika yang cukup menarik bagi kakak-adik ini; Tamerlan adalah fanatik yang gampang panik, sementara Dzokhar lebih gaul namun juga labil. Pembegalan mobil milik Dun Meng berujung pada sebuah tembak-tembakan skala militer yang sulit dipercaya terjadi di dunia nyata hanya untuk menangani dua warga sipil.

Kehadiran karakter Wahlberg cukup distracting. Bukan karena ke-fiktif-annya, melainkan kehadirannya dalam persona Mark Wahlberg di film yang sorotan utamanya adalah para petugas, pelaku medis, warga sipil dan seluruh masyarakat Boston yang bergerak cepat dalam merespons tragedi tersebut. Saya tak keluar konteks; epilog film adalah dokumentasi singkat dari para tokoh kunci, sebuah tribut bagi pengorbanan dan heroisme mereka.

Meski sukses secara teknis menceritakan ulang kisah tragis "Boston Bombing", saya merasa film ini sedikit oleng dalam menyampaikan pesan. Ada sebuah adegan menjelang akhir dimana karakter Wahlberg berujar, "Satu-satunya senjata bagi kita untuk melawan adalah cinta". Nah kan? Film ini berjuang untuk menjadi film yang inspiratif. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Patriots Day' |
|

IMDb | Rottentomatoes
133 menit | Remaja

Sutradara Peter Berg
Penulis Peter Berg, Matt Cook, Joshua Zetumer
Pemain Mark Wahlberg, Kevin Bacon, John Goodman
0

Daftar Lengkap Nominasi DGA Awards 2017

Sutradara 'La La Land', 'Lion', 'Moonlight', 'Manchester by the Sea' dan 'Arrival' bersaing untuk piala tertinggi di Directors Guild of America (DGA) Awards 2017. Dan ya, ada sutradara 'Deadpool' di kategori sutradara debutan.

0

Review Film: 'La La Land' (2016)

'La La Land' adalah salah satu film musikal paling absorbing, dan yup, saya membuat perbandingan dengan film musikal klasik terbaik sepanjang masa.

“Here’s to the ones who dream, foolish as they may seem. Here’s to the hearts that ache. Here’s to the mess we make.”
— Mia
Saya adalah satu dari sebagian orang yang selalu merasa canggung setiap kali menonton film musikal. Di satu sisi, saya mengagumi kualitas artistiknya. Di lain sisi, saya selalu geli ketika menyaksikan dialog yang sering berhenti di tengah-tengah film dan semua orang tiba-tiba mulai menyanyi dan menari, memancing saya untuk mendelik, "Here we go... again".

Saat menonton La La Land, sebuah film musikal yang brilian dari Damien Chazelle, ada beberapa faktor yang membuat saya tak merasakan (atau tak peduli dengan) hal tersebut : (1) pembuat filmnya yang mentransisikan adegan sinematis dengan adegan musikal sedemikian mengalir; (2) nilai estetika yang magis di setiap frame; serta (3) keintiman emosionalnya yang luar biasa. La La Land adalah salah satu film musikal paling absorbing, dan yup, saya membuat perbandingan dengan film-film musikal klasik terbaik sepanjang masa.

Menyusul Whiplash, Chazelle kembali berkolaborasi dengan teman kuliahnya dulu, Justin Hurwitz untuk memparadekan passion mereka akan musik jazz. Tak hanya itu, film ini juga mengenai cinta, impian dan dunia sinema itu sendiri. Sebagaimana kutipan di salah satu adegannya, “People love what other people are passionate about", passion Chazelle memancar dan menular. Dengan segala aspek teknis yang menawan, ia menyuguhkan film ini dengan tulus dan ringan, mengajak kita larut dalam kisah cinta dua tokoh utama kita. Dansa dan dendangan mereka seolah ditujukan untuk berkomunikasi dengan penonton.


Mereka adalah Mia (Emma Stone) dan Sebastian (Ryan Gosling). Mia adalah seorang gadis yang bercita-cita menjadi aktris namun harus kerja sambilan di kedai kopi sembari menunggu panggilan audisi. Sementara Sebastian adalah pianis pecinta jazz idealis yang bermimpi membuka klab sendiri, namun harus mengamen membawakan lagu "Jingle Bells" atau semacamnya di restoran milik J.K. Simmons untuk menyambung hidup.

Pertemuan pertama mereka tidaklah manis. Di tengah kemacetan, Sebastian mengklakson Mia yang kemudian membalasnya dengan salam jari tengah. Situasi ini tak hanya memperkenalkan kita dengan mereka, namun juga mempersembahkan sebuah sekuens musikal yang kompleks namun mempesona. Ini hanyalah kemacetan rutin, sampai satu orang keluar mobil, diikuti yang lain dan mereka menari dan menyanyikan "Another Day of Sun" di jalanan dan atap mobil. Kamera mengalir dengan lincah mengikuti koreografi arahan Mandy Moore melalui sorotan one-take yang akan membuat anda bertanya-tanya bagaimana mereka mengeksekusinya. Sekuens berdurasi 5 menit ini kabarnya butuh syuting selama 2 hari dengan melibatkan ratusan penari.

Bukan waktu yang tepat ketika Mia mendengar alunan piano yang indah dari Sebastian untuk pertama kalinya. Sebastian baru saja dipecat. Adalah di Hollywood Hills, romansa terjalin setelah keduanya ber-tap dance di bawah lembayung senja; bilang bahwa mereka tak mungkin saling suka namun dalam hati tahu bahwa yang terjadi adalah kebalikannya.

Mia dan Sebastian melihat kesamaan satu sama lain. Mereka adalah pengejar mimpi. Namun hidup tak semudah jatuh cinta. Sebastian harus memilih antara klab jazz impiannya atau bermain musik kekinian (yang dibencinya) bersama rekan lamanya, Keith (John Legend). Dan ini juga berarti mengorbankan waktu untuk Mia yang luntang-lantung akibat audisi yang selalu gagal. Film ini mengikuti perjalanan mereka dari musim dingin hingga musim dingin berikutnya, dimana impian tak selalu sejalan dengan romansa.

Stone dan Gosling adalah pasangan serasi dalam La La Land. Chemistry mereka meyakinkan dan masing-masingnya juga tampil kuat sebagai pribadi yang punya passion. Kita akan sering menyaksikan jemari Gosling menari di atas tuts piano atau beberapa adegan kocak saat Mia-nya Stone melakukan audisi. Dan tentu saja, dikarenakan film ini adalah musikal, mereka harus bernyanyi dan menari. Mereka memang bukan penyanyi sungguhan, namun setiap lagu dan koreografinya dibawakan dengan penuh komitmen, entah itu saat duduk berdua menyanyikan lagu sendu "City of Stars" atau berdansa waltz di langit penuh bintang. Absurd memang, namun ini adalah contoh bagaimana imajinatifnya La La Land bercerita melalui visual.

Sinematografer Linus Sandgren menggunakan palet warna yang lembut dan seringkali menyorot dalam long take, bahkan untuk percakapan kasual. Tim produksi merancang set yang cantik dibarengi dengan permainan tata cahaya. Film ini punya sense of time and place yang unik. Bersetting di jaman sekarang, seperti terlihat dari penggunaan smartphone atau mobil Prius, La La Land terasa klasik, bukan hanya dari set melainkan juga atmosfer. Ada tribut buat Casablanca, Singin' in the Rain dan The Umbrellas of Cherbourg, namun Chazelle tak terjebak nostalgia dalam bertutur.

Adegan akhir menunjukkan betapa terampilnya Chazelle menutup kisahnya. Di titik ini, kita begitu terikat dengan para karakter, kita peduli pada kehidupan mereka. Adegan yang disuguhkan lewat sekuens musikal ini menyampaikan begitu banyak emosi dalam durasi yang relatif singkat, menyimpulkan kisah romansa yang manis dalam sebuah sajian sinematis yang emosional. Bahagia tapi juga meremukkan hati.

Musik yang bagus mampu mewakili emosi yang terkadang tak bisa disampaikan dengan kata-kata. Semua aspek dalam film ini adalah rangkaian nada yang diorkestrasi oleh Chazelle dengan gemilang menjadi sebuah alunan bernama La La Land. Saya keluar dari bioskop dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan dengan gamblang. Namun saya tahu saya baru saja merasakan sebuah pengalaman sinematis yang magis. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'La La Land' |
|

IMDb | Rottentomatoes
128 menit | Remaja

Sutradara Damien Chazelle
Penulis Damien Chazelle
Pemain Ryan Gosling, Emma Stone, John Legend
Next
Tak ada artikel berikutnya
Older Posts
Back to Top