0

Review: 'The Imitation Game' (2014)

Film yang tak hanya menarasikan tentang kisah heroik kriptografer Alan Turing yang dimainkan dengan sempurna oleh Benedict Cumberbatch, namun juga mengekspos sisi manusiawi dari kehidupan sang jenius penemu komputer tersebut.


IMDb | Rottentomatoes
114 menit | R
“Sometimes it is the people no one imagines anything of who do the things that no one can imagine.”
Diangkat dari buku biografi berjudul Alan Turing: The Enigma karya Andrew Hodges tentang kriptografer Inggris (yang nantinya dianggap sebagai penemu komputer pertama) pada Perang Dunia II yang ternyata adalah seorang gay, The Imitation Game tampak seperti film biopik tipikal Oscar.

Film ini bercerita tentang seorang ahli matematika Alan Turing (Benedict Cumberbatch) yang ingin bergabung dengan militer Inggris sebagai seorang kriptografer. Turing mengklaim mampu memecahkan sandi dari Enigma, alat enskripsi Jerman yang pelum pernah bisa dibobol. Bersama dengan para ahli pemecah sandi lainnya, Turing bergabung ke dalam grup rahasia yang disebut Bletchey Park.

Sementara anggota lainnya berusaha memecahkan pesan rahasia Jerman, Turing malah merancang alat yang digadang-gadang bisa menerjemahkan sandi apapun yang dibuat Enigma. Dengan bantuan kepala agen rahasia MI6, Stewart Menzies (Mark Strong) dan terkadang dihalangi oleh komandan militer Denniston (Charles Dance), Turing harus berpacu dengan waktu dan cibiran dari sesama pemecah sandi untuk menyelesaikan mesin yang diberi nama Christopher itu.


Sepanjang film, kita akan disuguhkan dengan 3 timeline. Pertama, saat Turing masih di sekolah. Kedua, saat Turing bergabung dengan militer Inggris sebagai kriptografer pada Perang Dunia II, dan terakhir, di jaman setelah perang saat kepolisian mencurigai Turing sebagai mata-mata. Editing ini dilakukan dengan brilian sehingga filmnya tetap fokus dan tidak membingungkan penonton. Penulis naskah, sutradara dan editor film membangun atmosfer film pada timeline yang berbeda dengan baik hingga sampai pada satu momen puncak yang sudah terprediksi, kematian Alan Turing.

Film ini lebih dari sekadar biopik yang menarasikan fakta tentang Alan Turing dan dunia kriptografi. The Imitation Game menambahkan lapisan emosional ke dalam film dengan mengekspos homoseksualitas Turing dan kecanggungannya bersosialisasi dengan komposisi yang pas. Terlalu banyak emosi, akan menjadikan filmnya terlalu cengeng dan terlalu banyak fakta akan menjadikan filmnya membosankan (ingat biopik gagal Jobs?). Kehadiran Joan Clarke (Keira Knightley) -aktingnya biasa saja- sesama kriptografer jenius yang memberikan dinamika dalam kehidupan Turing dengan hubungan mereka yang 'tak biasa', memberikan warna tersendiri.

Benedict Cumberbatch yang pernah berperan sebagai Khan di Star Trek into Darkness dan sang detektif ternama di serial BBC Sherlock, dengan karismanya yang khas memberikan penampilan yang luar biasa sebagai Alan Turing yang jenius. Memang peran ini awalnya terlihat sama saja dengan Sherlock, berotak cemerlang dan antisosial. Namun disini, Cumberbatch bisa menampilkan dengan sempurna sisi manusiawi Turing yang kaku dan rapuh. Di samping, kejeniusannya, tatapan mata Turing dan sikapnya yang terkadang canggung, membuat kita berempati, terlepas dari ending film yang tragis.

The Imitation Game bukan hanya film tentang kisah heroik Alan Turing, yang berkat kerja kerasnya berhasil mempersingkat perang dan mengurangi  jatuhnya korban nyawa. Namun juga, tentang bagaimana masyarakat yang kadang tak bisa mengapresisi heroisme dan malah mengucilkan hanya karena seseorang tersebut 'berbeda' dengan manusia kebanyakan. (UP™ 2015)
Sutradara: Morten Tyldum
Penulis: Andrew Hodges (buku), Graham Moore (naskah)
Pemain: Benedict Cumberbatch, Keira Knightley, Matthew Goode
Oleh: TEGUH RASPATI Rating: 4

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top