0

Review: 'Kingsman: The Secret Service' (2015)

Ini adalah tipikal film James Bond: misi besar, pakaian mewah, dan alat-alat canggih. Ditambah dengan suntikan adrenalin dan sentuhan komikal Matthew Vaughn, 'Kingsman' sangat menghibur dan menjadi film agen mata-mata baru yang potensial.

IMDb | Rottentomatoes
129 menit | Dewasa
“Manners maketh man. Do you know what that means? The let me teach you a lesson”
Dengan soft reboot dari franchise James Bond yang sekarang dibintangi oleh Daniel Craig, seri Bond meninggalkan citranya yang lama. Tak buruk memang, film ini menjadi lebih serius, brutal dan fokus pada drama karakter. Namun jika kangen dengan kisah mata-mata dengan berbagai properti canggihnya, anda harus mencari alternatif lain, dan Kingsman: The Secret Service adalah pilihan yang tepat. Singkatnya, ini adalah film bertipe Bond namun lebih meledak-ledak dan penuh adrenalin.

Cerita dimulai dengan penculikan seorang peneliti bernama Profesor Arnold (Mark Hamill) di sebuah wisma terpencil. Agen Kingsman dengan kode sandi Lancelot berusaha menyelamatkannya namun terbunuh dengan cara yang sadis —tapi brilian oleh Gazelle (Sofia Boutella), pembunuh bayaran dengan kaki prostetik tajam bak pedang. Kematiannya ini menyebabkan posisi kosong pada agensi, dan agen yang tersisa diijinkan untuk merekomendasikan satu orang sebagai agen baru. Harry "Galahad" Hart (Colin Firth) memilih Gary "Eggsy" Unwin (Taron Egerton) sebagai calonnya, dengan maksud memisahkannya dari keluarga yang berantakan sekaligus balas budi atas jasa ayah Eggsy yang ternyata adalah mantan agen Kingsman yang telah menyelamatkan Galahad dalam misi terdahulu, meski harus kehilangan nyawa.

Kingsman sendiri adalah sebuah organisasi mata-mata swasta yang dipimpin oleh Arthur (Michael Caine), sedikit banyak terinspirasi dari Arthur dan Ksatria Meja Bundar jaman dulu. Menyamarkan markasnya sebagai toko baju jas, Kingsman punya banyak perlengkapan canggih yang tersembungi dalam ruang rahasia. Misi mereka selalu dilakukan dengan diam-diam dan tak pernah terekspos ke luar, padahal agensi ini telah sering menyelamatkan dunia.


Eggsy adalah tipikal hero remaja yang klise. Di luar, dia terlihat seperti remaja berandal karena pengaruh dari lingkungan dan ayah tirinya yang kasar. Namun sebenarnya punya banyak skill, cerdas, dan fisiknya tangguh, bisa dilihat dari kemampuan parkour-nya dan adegan kejar-kejaran mobil berjalan mundurnya dengan polisi. Bersama-sama dengan calon lain, dia harus mengikuti seleksi ketat masuk Kingsman dipandu oleh agen Merlin (Mark Strong). Berbagai macam tes yang harus dilewati, dan ada beberapa tes yang menurut saya cukup orisinil dan cerdas. Egerton adalah pilihan yang pas. Meski aktingnya tak terlalu spesial, namun perannya yang cukup vital di film ini tentu memberinya kesempatan untuk menjadi bintang baru.

Firth tampil sebagai agen yang sopan, elegan, dan stylish. Selalu memakai pakaian formal lengkap dengan payung (anti peluru), Galahad selalu menekankan pada Eggsy untuk menjadi seorang gentleman sejati. Firth mungkin tak kelihatan seperti pria tangguh. Namun dengan mata sayu dan kaca mata besarnya, Firth sanggup menghajar banyak preman nyaris dengan tangan kosong tanpa merusak setelannya, terlepas dari adanya penggunaan efek komputer.

Yang menjadi musuh besar adalah Valentine yang diperankan oleh Samuel L. Jackson. Dengan aksennya yang tak bisa menyebut huruf "S",Valentine adalah seorang idealis yang ingin menyelamatkan dunia dari bencana global warming namun dengan metode yang salah (yap, klise). Dia menculik orang-orang yang dianggap layak dan memusnahkan yang lain menggunakan SIM card yang telah dimodifikasi.

Bagian paling seru bukanlah hubungan mentor-murid antara Galahad dan Eggsy, melainkan kofrontasi antara Galahad dan Valentine, yang sama-sama punya karisma kuat. Konfrontasi keduanya walaupun hanya bertukar kata-kata memberikan ketegangan tersendiri. Hal ini cukup membuat saya khawatir, karena mendekati ending Galahad tak bisa berbuat apa-apa lagi. Namun ternyata ini dikompensasi dengan menghadirkan adegan aksi tembak-tembakan dan pertarungan yang tak kalah intens.

Diangkat dari komik karya Mark Millar dan Dave Gibbons, Vaughn tak terlalu setia pada sumbernya, namun dengan pendekatan barunya film ini tetap menarik. Seperti filmnya sebelumnya yang juga diangkat dari komik, Kick-Ass, Vaugh menyeimbangkan adegan drama dengan aksi komikal. Ada cukup humor slapstick (yang terkadang memang terlalu kasar dan vulgar), namun tetap terfokus pada narasi tanpa kehilangan energi.

Beberapa hal yang cukup mengganggu secara pribadi (selain beberapa klise) adalah penggunaan CGI yang agak berlebihan, dan adegan yang terlalu brutal, termasuk leluconnya. Di satu sisi, film ini tampak menghindari hal tersebut dan ingin menjadikan Kingsman sebagai film remaja. Namun di lain pihak, adegan pemotongan tangan, ledakan mikrochip di leher (yang walaupun digambarkan dengan efek komikal dan musik latar yang tak relevan) termasuk adegan pembunuhan massal di gereja yang tak ditayangkan di Indonesia karena katanya terlalu sadis, menjadikan usaha di awal terkesan ironis. Belum lagi lelucon penutup yang mengindikasikan anal sex yang melibatkan putri kerajaan Swedia yang mungkin lucu bagi sebagian orang namun menafikan pesan moral film ini.

Ada banyak nuansa Bond disini. Payung antipeluru, pena beracun, granat korek api, markas musuh yang terpencil namun canggih. Dan Kingsman tak malu-malu mengakuinya, terbukti dengan lelucon inisial JB (yang banyak dipakai pada film mata-mata) yang diberikan Eggsy pada anjingnya (James Bond, Jason Bourne, Jack Bauer). Dengan sorotan close-up, slow motion, fast motion, koreografi dan sinematografi dihadirkan dengan detail dan brutal.

Meninggalkan X-Men: Days of Future Past, Matthew Vaugn lebih memilih menyutradarai ini dan hasilnya memang terbukti. Kingsman membawa kita sedikit mengintip Bond di era Roger Moore, namun dengan penyajian segar yang ditujukan untuk generasi baru. Kingsman punya konsep yang solid dengan set dunia mata-mata yang elegan, klasik, dan fokus pada etiket gentleman, sesuatu yang menjadi ciri khas tersendiri. Film ini sudah melahirkan bintang baru, dan bukan tak mungkin akan melahirkan franchise yang baru juga. Now thaht ith a fanthy thpy film!



Sutradara: Matthew Vaughn
Penulis: Jane Goldman, Matthew Vaughn (screenplay), Mark Miller, Dave Gibbons (komik)
Pemain: Colin Firth, Taron Egerton, Samuel L. Jackson



Oleh: TEGUH RASPATI Rating: 3.5

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top