0

Review: 'Cinderella' (2015)

Adaptasi live-action dari kisah dongeng klasik yang (akhirnya) dieksekusi dengan benar, 'Cinderella' ternyata tetap tidak kehilangan sentuhan magis dari film versi aslinya.

IMDb | Rottentomatoes
112 menit | Remaja
“Be kind, have courage, and all will be well.”
Sedang menjadi tren tampaknya studio mengangkat kisah dongeng klasik ke versi live-action, misalnya saja Mirror Mirror, Snow White and the Huntsman, Jack the Giant Slayer dan masih banyak lagi. Pemain besar seperti studio Disney pun tak ketinggalan. Setelah sukses mengadaptasi Alice in Wonderland dan Maleficent, Disney melirik kisah upik abu dari film animasi klasik mereka di tahun 1950, Cinderella. Dan tak seperti dua pendahulunya tersebut — Alice cukup parah sedangkan Maleficent lumayan — Cinderella adalah adaptasi live-action yang diekseksusi dengan benar.

Terlepas apakah anda sudah menonton animasi klasiknya atau belum, anda tentu sudah tahu bagaimana kisah Cinderella. Mulanya Ella (Lily James) hidup bahagia bersama kedua orangtua yang penyayang. Namun kebahagiaan tersebut mulai lenyap saat sang ibu sakit parah hingga akhirnya meninggal dunia. Tak ada yang salah sebenarnya saat mereka tinggal berdua saja, namun sang ayah yang tak tahan hidup menyendiri, menikah dengan janda bernama Lady Tremaine (Cate Blanchett) yang membawa 2 anak, Anastasia dan Drisella.

Meski kedua saudari tirinya memang berprilaku buruk, namun sang ibu tiri tak menunjukkan gelagat kejam, setidaknya tak secara langsung. Saat sang ayah harus melakukan perjalanan ke luar kota selama berbulan-bulan, barulah Ella mendapat perlakuan semena-mena. Perilaku keluarga tiri ini semakin menjadi-jadi saat sang ayah dikabarkan meninggal. Ella dijadikan babu di rumah sendiri, dipaksa tidur di loteng, hingga diberi nama olokan, Cinderella (cinder=abu/arang). Namun dengan bantuan ibu peri (Helena Bonham Carter), Ella bisa keluar dari hidupnya yang menderita tersebut.


Tak seperti Alice dan Maleficent yang memakai efek CGI berlebihan, Cinderella cenderung meminimalisasi efek komputer. Tentu saja CGI masih dipakai untuk merender karakter hewan, efek sihir, serta eksterior kerajaan, namun untuk desain lokasi dan interior semua memakai set sungguhan. Desainer produksi Dante Ferretti memanjakan secara visual dengan set yang menawan. Kostum yang digarap oleh pemenang Oscar 3 kali, Sandy Powell memiliki kemiripan dengan versi animasi, dan juga sangat eye-popping dan ikonik.

Skrip dari Chris Weitz menunjukkan kesetiaan pada animasinya. Tak banyak sebenarnya perubahan cerita, walaupun memang ada sedikit penyesuaian agar terkesan realistis. Di animasi, karakter hewan seperti para tikus dan kucingnya ibu tiri, Lucifer berperan sebagai karakter pendukung, namun disini hanya mendapat porsi yang lebih sedikit, Begitu juga dengan ending yang lebih masuk akal (spoiler!). Perbedaan yang mencolok adalah pertemuan Ella dengan pangeran yang terjadi sebelum pesta dansa. Keduanya bertemu di hutan dan masing-masing menyembunyikan identitasnya. Weitz memberikan narasi yang cerdas terhadap cerita klise. Pace perkembangan cerita dan karakter berjalan dengan baik, sehingga saya tak merasa bosan meski telah mengetahui akhir kisahnya. Alur cerita dibuat lebih realistis dengan berfokus pada karakter. Anda bisa melihat bahwa cinta Ella-Pangeran lebih dari sekedar cinta pandangan pertama namun lebih karena anggunnya kepribadian.

Kenneth Branagh yang telah piawai mengangkat film-film klasik seperti Henry V dan Hamlet mengeksekusi skrip tersebut dengan baik, dengan sedikit sentuhan komedi yang walaupun klise namun ditempatkan dengan tepat. Intensitas plot tetap terjada, didukung dengan score orkestra dari partner rutinnya, Patrick Doyle. Sinematografi Harris Zambarloukus menangkap semua scene dengan baik. Secara garis besar saya tak bilang menawan, namun untuk adegan dansa Cinderella dan pangeran cukup membuat saya terpana (FYI, bahkan ada beberapa penonton bareng saya yang merekam adegan tersebut :)).


//deadline

Para aktor dipilih dengan cermat. Bisa dibilang semua karakter pas dengan porsinya masing-masing. Yang paling menonjol tentu saja Lily James yang memerankan Ella. Bintang Downtown Abbey ini memulai debut pertamanya main di film layar lebar dengan manis. Awalnya saya cukup skeptis, namun James terasa sangat cocok memerankan gadis baik dan polos ini, yang tak pernah merasa dendam terhadap perlakuan dari ibu dan saudari tirinya. Sementara Cate Blachett memberikan kita versi ibu tiri yang lebih kompleks dibandingkan versi animasi. Meski di luar bersifat kejam, namun kita bisa merasakan motif dan konflik batin Lady Tremaine.

Anda mungkin bertanya-tanya kenapa saya berkomentar banyak mengenai film animasinya? Jujur saja, waktu kecil saya sangat suka film animasi klasik tersebut dan menontonnya lebih dari 4 kali. Saya sangat menikmatinya. Dan saat menonton versi adaptasi ini, cukup memalukan sebenarnya saat saya senyum-senyum sendiri karena ternyata saya pun JUGA menikmatinya. Film ini tak kehilangan sentuhan magis versi animasi.

Demografi film ini memang untuk kaum hawa. Buat anda yang tak suka film "manis" mungkin Cinderella akan membuat anda overdosis karena memang cukup banyak sakarinnya. Namun para aktor dan kru di belakang layar yang memberikan usaha maksimal untuk adaptasi kisah klasik ini, menyajikan penonton adaptasi live-action dongeng yang (akhirnya) benar. Entah anda menonton karena ingin bernostalgia dengan versi animasi ataupun sama sekali memang baru menonton kisah Cinderella, saya rasa anda pun akan cukup puas dengan film ini, seperti halnya saya.

Sutradara: Kenneth Branagh
Penulis: Chris Weitz
Pemain: Lily James, Richard Madden, Cate Blanchett


Oleh: TEGUH RASPATI Rating: 3.5

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top