0

Review Film: 'Big Game' (2015)

Film ini konyol, tak rasional dengan sedikit sentuhan humor yang saking tak logisnya membuatnya menarik untuk ditonton. Bukan film yang bagus memang, namun lumayan untuk mengisi waktu luang.

“The forest is a harsh judge. It will give everyone adequately.”
— Oskari
Seorang bocah 13 tahun menyelamatkan Presiden Amerika dari serangan teroris? Terdengar konyol, namun itulah yang menjadi cerita utama Big Game. Mengangkat premis yang telah jamak dipakai, sutradara Jalmari Helander (Rare Exports) menggunakan plot stereotip Hollywood dengan sedikit sentuhan segar nan tak rasional, menjadikan Big Game sebagai film kelas B yang konyol namun juga seru.

Samuel L. Jackson bermain sebagai Presiden Amerika yang payah, William Alan Moore. Dalam kunjungannya ke luar negeri, pesawat Air Force One yang ditumpanginya mendapat serangan teroris. Agen Secret Service Morris (Ray Stevenson) segera mengevakuasi Presiden dengan pesawat penyelamat dan sang Presiden terdampar di hutan Finlandia.

Dan memang begitulah rencana dari seorang teroris kaya eksentrik bernama Hazar (Mehmet Kurtulus) yang hendak "berburu" Presiden. Pertanyaannya, bagaimana mungkin Air Force One bisa disabotase? Karena plotnya sendiri cukup predictable, maka aman jika saya bilang bahwa Hazar menyuap Morris demi rencana perburuan tersebut.

Sementara itu — tanpa diketahui oleh Hazar dan Morris — untuk ulang tahunnya yang ke-13 seorang bocah yang bernama Oskari (Onni Tommila) diwajibkan untuk melewati ujian kedewasaan yang sesuai dengan tradisi setempat yaitu untuk bertahan hidup satu hari satu malam di belantara rimba dan membawa hasil buruan. Secara kebetulan, Oskari menemukan pesawat penyelamat Presiden dan mereka berdua pun harus bertahan di tengah hutan dari kejaran para teroris.


Di Pentagon, Wakil Presiden (Victor Garber) bersama Kepala CIA (Felicity Huffman), Jenderal Militer (Ted Levine), dan penasehat CIA (Jim Broadbent) berusaha keras melacak keberadaan Presiden. Nama karakter yang mereka perankan tak penting disini, karena peran mereka menurut saya hanya sebagai bahan satire untuk menyindir kecanggihan CIA dengan semua teori dan peralatan canggihnya, namun tak bisa berbuat banyak di lapangan.

Dengan menggunakan setting di Finlandia (meski sebagian besar syuting dilakukan di Jerman), film ini memanfaatkan lokasi dengan efektif. Sinematografer Mika Orasmaa mengambil gambar yang menyisir pemandangan pegunungan dan tebing bebatuan yang indah, untuk mengkompensasi kekurangan pada departemen efek visual CGI yang kurang matang di beberapa scene.

Walaupun filmnya digarap dengan serius — bisa dilihat dari desain produksi, lokasi, dan properti yang lumayan bagus, film ini adalah film yang konyol dengan sentuhan dark comedy. Saya tak tahu apakah Helander memang memaksudkan filmnya ini bernuansa begitu, tapi sedikit banyak adegan-adegan tak rasional yang terjadi cukup seru untuk dinikmati. Plotnya memang klise, namun ada scene-scene gila — seperti teroris yang menembak SATU orang dengan rudal berdaya ledak tinggi serta adegan kabur menggunakan lemari pendingin — yang membuat saya berujar 'WTF". Dan selama 90 menit, itulah yang disajikan oleh Big Game.

Melanjutkan film debutnya Rare Exports (yang belum pernah saya tonton), Helander berhasil mengumpulkan nama-nama yang lumayan tenar untuk Big Game. Penampilan para aktor yang rata-rata, menunjukkan bahwa mereka tahu kasta film yang mereka mainkan dan tampil sebagaimana adanya.

Cukup menarik melihat Jackson yang meninggalkan citra tough guy, meski di akhir film tetap tak melupakan dialog khas mothef***er-nya. Disini dia bermain sebagai Presiden yang lemah, tak familiar dengan senjata. Saking cupu-nya beberapa kali didikte oleh Oskari. Yang perlu digarisbawahi adalah akting dari Tommila. Saya tak tahu bagaimana aktingnya dalam Rare Exports, namun disini penampilannya cukup solid sebagai seorang anak yang ingin menjadi dewasa dan mendapat pengakuan ayahnya.

Adegan final blow di akhir film adalah salah satu dari beberapa yang mungkin tak pernah anda lihat di film-film lain, yang saking tak logisnya membuatnya menarik untuk ditonton, sedikit mengingatkan dengan adegan sinting Furious 7 dimana mobil meloncat antargedung. Big Game tak bisa dibilang film yang bagus. Film ini bodoh, tak masuk akal dengan sedikit sentuhan humor yang setidaknya bisa membuat terkekeh. Lumayan untuk mengisi waktu luang. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem

'Big Game' |
|

IMDb | Rottentomatoes
90 menit | Remaja

Sutradara Jalmari Helander
Penulis Jalmari Helander, Petri Jokiranta
Pemain Samuel L. Jackson, Onni Tommila, Felicity Huffman

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top