0

Review Film: 'It Follows' (2015)

Didukung dengan scoring dan komposisi yang intens, 'It Follows' adalah film horor minimalis yang sangat mencekam berkat atmosfer dan permainan mood dari David Robert Mitchell.

““It doesn't think. It doesn't feel. It doesn't give up.””
Masih ingat dulu di awal tahun 2000-an ada fenomena pesan berantai yang jika kita baca namun tidak diteruskan maka akan mendapat kemalangan? Kurang lebih tema seperti itulah yang diangkat oleh sutradara David Robert Mitchell dalam film horor It Follows. Bedanya, disini kutukan berpindah melalui hubungan seksual. Di tangan Mitchell, ini bukan hanya menjadi sekedar gimmick, alih-alih penonton akan disuguhkan sebuah horor minimalis yang benar-benar membuat bulu kuduk merinding.

Sama halnya dengan judulnya yang misterius, film dibuka dengan adegan yang membuat penonton bertanya-tanya. Dengan sorotan yang steady dengan jarak yang terjaga, kamera berputar pelan mengawasi sekitar. Di lingkungan perumahan pinggir kota, seorang gadis kepanikan dan seolah-olah dikejar sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain. Sang gadis kabur tergesa-gesa dengan mobilnya, dan keesokan harinya ditemukan tewas dengan kondisi (sangat) mengenaskan.

Cerita beralih ke gadis lain yang bernama Jay (Maika Monroe) yang baru berpacaran dengan Hugh (Jake Weary). Setelah beberapa kali kencan, Hugh dan Jay melakukan hubungan badan. Sehabis berhubungan, bukannya bercengkerama Hugh malah membius Jay dan mengikatnya di sebuah kursi. Hugh kemudian menceritakan sebuah fakta mengejutkan bahwa dia mendapat kutukan yang membuatnya diikuti makhluk misterius (di film direferensikan sebagai "It / Dia") dimana satu-satunya cara untuk menghilangkan kutukan itu adalah dengan memindahkannya pada orang lain melalui hubungan seks.


Sebelum kabur, Hugh menjelaskan karakteristik makhluk tersebut secara garis besar: 1) Bisa berubah wujud menjadi siapa saja, namun tak bisa dilihat orang lain selain yang terkena kutukan; 2) Hanya bisa dipindahkan melalui hubungan seks; 3) Berjalan pelan namun pasti, dan mengincar orang yang terkena kutukan; 4) Jika yang kena kutukan mati, maka kutukan berpindah kembali ke orang sebelumnya. Tentu saja awalnya Jay tidak percaya, namun setelah muncul beberapa kejadian aneh di sekitarnya, Jay dengan bantuan teman-temannya berusaha menghilangkan kutukan tersebut.

Sedikit menyoroti gaya hidup anak muda yang bebas, banyak yang menginterpretasikan film ini sebagai metafora penyakit menular seksual seperti AIDS atau semacamnya dan seolah-olah menanamkan ide untuk menjadi parno terhadap seks bebas. Pesan ini mungkin akan mengena di dunia Barat yang cenderung lebih bebas dibandingkan dengan kita yang menganut budaya Timur yang notabene masih menganggap hubungan seksual sebagai hal yang tabu. Tanpa perlu mencerna metafora tersebut, anda tetap bisa menikmati film ini.

It Follows tak seperti film horor konvensional yang menggunakan metode jump scares, seperti wujud mengerikan yang muncul mendadak atau suara jreng jreng bervolume besar. Suara pintu berderit atau kucing yang meloncat tiba-tiba memang akan membuat kaget namun anda menonton horor untuk ditakut-takuti bukan dibuat kaget bukan?

Mengambil inspirasi dari film horor era 70-an dengan sedikit nuansa dari filmnya David Lynch, Mitchell menakuti dengan membangun atmosfer mencekam. Di film ini nyaris tak ada penampakan seram yang ditampilkan. Melalui karakteristik "Dia" yang bisa mengambil wujud siapa saja: wanita, pria tinggi, dan anak-anak — kita dibuat untuk selalu mewaspadai sekitar. Sama seperti Jay, kita menjadi paranoid karena tak tahu kapan dan dimana "Dia" akan muncul — yap, bahkan di siang hari dan di tempat ramai.

Dengan bujet minim, Mitchell yang juga menulis naskah, menangani film ini dengan terampil. Tak menggunakan horor visual tapi justru menakuti dengan memainkan emosi penonton. Adegan pembuka yang mengerikan membuat ekspektasi tinggi di benak penonton. Pemilihan setting di pinggiran kota yang suram juga pas karena lekat dengan suasana supranatural.

Untuk memberikan atmosfer tersebut, Mitchell juga memanfaatkan hal teknis seperti metode pengambilan gambar dan scoring. Dengan lensa widescreen, pergerakan kamera, dan komposisi gambar yang sedemikian rupa, sinematografer Mike Gioulakis membuat penonton agar selalu mewaspadai sekitar, merasakan keberadaan "Dia", walaupun tak mucul di layar. Alih-alih menciptakan tensi dengan gerakan kamera, Gioulakis memilih metode steady long-shot yang memberikan suasana hening nan mencekam. Scoring adalah faktor paling krusial disini. Disasterpeace yang biasa menangani score game, menggunakan score eletronik ala film John Carpenter, yang punya feel asing namun pas dengan intensitas film.

Tak seperti film horor eksploitatif lain yang menjadikan karakternya saling bertengkar untuk menyelesaikan masalah, disini justru saling bahu-membahu. Teman-teman Jay: Paul (Keir Gilchrist), Greg (Daniel Zovatto), Kelly (Lili Sepe) dan adiknya, Yara (Olivia Luccardi) tak hanya memberi dukungan moril terhadap tragedi yang tak bisa mereka lihat dan mengerti. Penampilan Monroe yang mendapat porsi lebih besar juga menarik, dengan memberikan konflik internal. Dengan parasnya yang menarik memang mudah memindahkan kutukannya ke orang lain, namun jika resikonya membuat orang tersebut meninggal (apalagi temannya sendiri) tentu Jay harus berpikir dua kali.

Mendekati akhir, tensi It Follows terasa sedikit menurun. "Dia" yang merupakan makhluk tak jelas tanpa motif yang jelas dan nyaris tak mampu dikalahkan — meski masih bisa ditembak — sedikit membuat para tokoh desperate karena pada akhirnya tak banyak yang bisa dilakukan. Perlawanan terakhir juga sedikit kontradiktif dengan plot di tengah film.

It Follows yang fokus pada permainan mood dibandingkan adegan seram, mungkin akan membosankan bagi sebagian penonton. Namun di lain sisi, ini memberi penyegaran bagi film horor jaman sekarang yang menggunakan metode klise untuk menakut-nakuti. Jika anda mencari film yang benar-benar menyeramkan, It Follows adalah film horor yang membuat merinding di kesunyian. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem

'It Follows' |
|

IMDb | Rottentomatoes
100 menit | Dewasa

Sutradara: David Robert Mitchell
Penulis: David Robert Mitchell
Pemain: Maika Monroe, Keir Gilchrist, Daniel Zovatto

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top