0

Review Film: 'Minions' (2015)

'Minions' memang dumb, tapi menganalogikannya dengan fun, adalah hal yang berlebihan. Mungkin sebaiknya Minions kembali duduk di kursi penumpang dan membiarkan Gru yang menyetir.

“Doesn't it feel so good to be bad.”
— Scarlett Overkill
Jika ditanya apa yang paling diingat dari dua film Despicable Me, mungkin banyak yang akan menjawab: karakter kuning lucu bernama Minion dengan tingkah mereka yang konyol. Ya, Minion sangat terkenal, bahkan mungkin popularitasnya melebihi sang tokoh utama, Gru. Universal kemudian bermaksud menjadikan Minion sebagai tokoh utama dalam filmnya sendiri. Sebagai figuran, Minions menjadi karakter yang sangat digandrungi, namun menjadi tokoh utama? Ternyata tidak juga.

Kekhawatiran utama (sekaligus hal yang paling membuat saya penasaran) adalah bagaimana para pembuat film akan membawakan narasi melalui karakter yang berkomunikasi dengan kosakata yang tidak kita mengerti. Menonton film solonya ini, saya tak perlu memusingkan hal tersebut karena narasinya nyaris omong kosong. Selama 90 menit, kita disajikan dengan aksi konyol mereka menyiksa diri sendiri (dan/atau rekannya) tanpa arah yang jelas.

Di awal film diceritakan bahwa Minions ternyata sudah ada semenjak jaman purbakala. Mereka terlahir dengan insting mengabdi pada penjahat terkejam, mulai dari T-Rex, Manusia Gua, Firaun hingga Drakula. Bagaimana mereka punya insting tersebut adalah pertanyaan yang takkan pernah anda temukan jawabannya hingga akhir film. Yang pasti, kedunguan Minions berujung pada nasib buruk bagi bos mereka.


Para Minion ini kemudian memilih tinggal di gua es. Namun tanpa adanya majikan untuk dilayani, hidup mereka tak bergairah. Hingga suatu ketika, salah seorang Minion yang bernama Kevin memutuskan untuk mengembara mencari bos baru, ditemani dengan Stuart dan Bob. Pengembaraan ini berujung pada pertemuan mereka dengan Scarlett Overkill (Sandra Bullock) dalam Villain-Con, konferensi penjahat terbesar di dunia.

Dari sinopsis di atas, mungkin anda bisa melihat bahwa cerita ini paling tidak punya sedikit plot. Bahkan di paruh pertama, cerita dibawakan dengan narasi dari Geoffrey Rush agar plotnya mudah dicerna. Namun plot ini terasa percuma, karena sutradara Pierre Coffin tampaknya tak bisa (atau tak mau repot-repot) memberikan narasi yang baik, dan lebih fokus pada kelakuan bodoh Minions. Cerita utama tentang pertemuan mereka dengan Scarlett hanya ditujukan agar karakter kuning ini bisa bertualang di jalanan London sambil bertingkah bodoh dan menimbulkan kekacauan dimana-mana, namun tak pernah dianggap aneh oleh para manusia di dalam filmnya.

Dari sisi komedinya pun tak mengena. Jika anda telah menonton beberapa trailer yang dirilis, maka nyaris tak ada hal baru yang bisa membuat tertawa. Bagian terbaik sudah diumbar dalam trailer, sementara sisanya adalah lelucon slapstick yang membosankan.

Saya rasa di beberapa poin, penulis skrip Brian Lynch (Hop, Puss in Boots) ingin memberikan komedi karakter dari 3 Minions ini. Kevin yang sedikit pintar namun agak serius, Stuart yang melankolis dengan ukulelenya, dan Bob yang polos. Tapi ini tak pernah dieksplorasi lagi, selain permukaannya saja. Di awal film, disebutkan bahwa ada satu Minion (saya lupa namanya) yang paling bodoh. Pada akhirnya, saya seharusnya menyadari bahwa satu-satunya sifat yang konsisten dari Minions adalah kebodohannya. Ups.

Penampilan Bullock sebagai Scarlett terasa disia-siakan. Punya kualifikasi yang hampir sama dengan Gru, Scarlett juga punya peralatan canggih yang mematikan, seperti gaun berlapis baja yang bisa menembakkan roket, topi penghipnotis, dan pistol lava. Dia bahkan punya kemampuan martial arts yang tak main-main. Scarlett adalah salah satu karakter penjahat yang paling mudah terlupakan. Backstory yang diberikan juga sedikit bias.

Jika ingin menyebutkan beberapa hal yang saya suka, itu adalah selipan cameo dan plesetan yang mungkin akan terlewatkan bagi anda yang tak begitu awas. Dengan setting tahun 60-an, petualangan Minions menyentil The Beatles di Abbey Road hingga kontroversi pendaratan NASA di bulan. Film ini juga menyindir secara vulgar mengenai stereotip orang Inggris yang sangat akrab dengan teh. Entah disengaja atau tidak, Geoffrey Rush disini juga mengisi suara sebagai asisten penguasa Inggris, sebagaimana perannya dalam The King's Speech. Ada juga penampilan Stuart yang membawakan solo Van Halen dengan "mega ukulele"-nya. Kru di belakang layar tahu benar bahwa para fans Minions berasal dari berbagai negara, dan dengan cerdas menyelipkan kosakata seperti "Mazeltov", "Gracias" bahkan "Terima Kasih" diantara gumaman gajenya.

Dari sisi teknis saya tak bisa bilang macam-macam. Animasinya dirender dengan halus dan punya kualitas yang setara dengan Despicable Me. Desain karakternya juga unik dan variatif, termasuk para penjahat-penjahat yang menghadiri Villain-Con. Bagi yang suka melihat karakter kuning ini, mungkin bakalan girang karena disini akan melihat ratusan Minions dalam satu frame.

Banyak yang membela film ini dengan menyebutnya sebagai dumb-fun entertainment. Well, Minions memang dumb, tapi menganalogikannya dengan fun, adalah hal yang berlebihan. Film ini jauh dari kata fun. Di akhir film, saya sedikit lega dengan kemuculan Gru sebagai cameo. Mungkin sebaiknya Minions kembali duduk di kursi penumpang dan membiarkan Gru yang menyetir. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem

'Minions' |
|

IMDb | Rottentomatoes
91 menit | Semua Umur - BO

Sutradara Pierre Coffin, Kyle Balda
Penulis Bryan Lynch
Pemain Pierre Coffin, Sandra Bullock, Jon Hamm, Michael Keaton

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top