0

Review Film: 'Maggie' (2015)

'Maggie' dengan cerdas mengambil pendekatan baru dari tema yang sudah sering dieksploitasi. Namun produk finalnya, mungkin akan dinilai sebagai drama yang suram dan membosankan bagi sebagian penonton.

“Don't come looking for me. I'm safe. I'm fine.”
— Maggie
Arnold Schwarzenegger main film selain film aksi mungkin bukanlah hal yang baru. Namun dalam Maggie, Arnie benar-benar harus menunjukkan kapabilitasnya bermain film pure drama. Anda mungkin berharap Arnie bakalan menghajar gerombolan zombi, dan itu memang terjadi, tapi hanya di satu scene saja. Selebihnya Maggie adalah drama ayah-anak bersetting horor post-apocalyptic.

Latar belakang cerita diceritakan dengan cukup cepat dimana seluruh dunia terkena wabah Necroambulist yang mematikan. Wabah ini membuat penderitanya mengalami degradasi fisik dan mental hingga berubah menjadi makhluk yang lebih dikenal sebagai zombi — kata yang tak pernah digunakan dalam film. Namun transformasi ini tak terjadi dengan spontan, melainkan perlahan-lahan sehingga keluarga penderita bisa menghabiskan waktu bersama penderita sampai dia benar-benar berubah total.

Wade (Arnold Schwarzenegger) yang telah mencari anaknya, Maggie (Abigail Breslin) selama lebih dari 2 minggu akhirnya menemukan anaknya tersebut di sebuah rumah sakit. Dokter memvonis bahwa Maggie telah terinfeksi wabah dan hanya punya waktu sedikit hingga dia berubah total dan harus dimasukkan ke karantina. Mendengar rumor yang tak baik mengenai karantina, Wade membawa Maggie pulang ke rumah istrinya, Caroline (Joely Richardson) yang merupakan ibu tiri Maggie. Dengan kondisi Maggie yang perlahan-lahan berubah, Wade harus memutuskan bagaimana masa depannya.


Menjadi penyutradaraan debutan bagi Henry Hobson yang veteran di bagian art designer, Maggie mengagumkan secara visual. Dengan menggunakan warna palet pucat dan efek langit yang suram — sepanjang film —, film ini menampilkan dunia post-apocalyptic dengan baik. Tata produksinya tampak profesional di balik bujetnya yang minim.

Meski berdurasi cukup pendek, alurnya terasa pelan dan membosankan mengingat sedikitnya bahan untuk diceritakan. Namun berkat penampilan solid dari Arnie dan Breslin, membuat film ini menjadi lebih menarik. Film ini mungkin merupakan penampilan paling melodramatis dari Arnie. Sebagai Wade, Arnie menunjukkan betapa berat bebannya untuk menerima kenyataan bahwa ia harus kehilangan putrinya. Di satu scene, saat perubahan Maggie semakin parah, terlihat Wade yang tertidur sambil memegang shotgun. Adegan yang minimalis, tapi kompleks secara emosional. Wade tahu bahwa Maggie tak bisa kembali lagi dan dia tak mampu mengambil keputusan yang dia tahu, paling rasional.

Hubungan Wade-Maggie terlihat believable dan anda akan langsung bersimpati pada keduanya. Transformasi Maggie mau tak mau akan membuat kita tersentuh. Breslin menampilkan bahwa Maggie tak hanya kehilangan jati dirinya sebagai manusia, tapi juga kehilangan masa depan dan impian. Meski demikian, Maggie semakin mawas diri yang pada akhirnya berujung pada ending yang heartbreaking.

Maggie dengan cerdas mengambil pendekatan baru dari tema yang lebih sering dieksploitasi sebagai cerita horor maupun aksi. Namun produk finalnya, mungkin akan dinilai sebagai drama ayah-anak yang terlalu suram dan membosankan bagi sebagian penonton yang berekspektasi lebih. ■UP

'Maggie' |
|

IMDb | Rottentomatoes
95 menit | Remaja

Sutradara: Henry Hobson
Penulis: John Scott III
Pemain: Arnold Schwarzenegger, Abigail Breslin, Joely Richardson

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top