0

Review Film: 'Dragon Ball Z: Resurrection 'F'' (2015)

Tak ada hal baru yang ditawarkan 'Resurrection F' selain pertarungan spektakuler para makhluk super yang sekarang punya kekuatan yang lebih besar.

“Is that the best you can do?”
— Goku
Tak berlebihan rasanya jika Dragon Ball disebut sebagai manga / anime paling populer di dunia. Dari 42 volume manga, franchise ini telah berkembang menjadi 344 serial anime (belum termasuk GT), 45 judul video game, serta 19 film layar lebar. Tak mengherankan popularitasnya ini bisa menarik distributor besar macam 20th Century Fox untuk mengedarakan film ini di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Sub-judul Resurrection F telah menggambarkan dengan jelas esensi dari filmnya yang sebenarnya sangat sederhana, dimana Goku dkk harus berhadapan kembali dengan salah satu musuh terkuatnya dulu. Jalan ceritanya yang ringan membuat film ini terkesan hanya ingin menyajikan pertarungan Goku melawan Frieza sekali lagi.

Beberapa tahun setelah kejadian di film Battle of Gods, bumi kembali damai berkat Beerus yang tak lagi berminat menghancurkan bumi. Namun kedamaian ini tak berlangsung lama, karena salah satu antek Frieza (Ryusei Nakao), Sorbet berniat untuk membangkitkan kembali tuannya dengan mengumpulkan seluruh bola naga. Singkat cerita, 7 bola naga terkumpul dan ritual pemanggilan Shenlong dilakukan.

Frieza yang telah bangkit kembali dengan kekuatan yang lebih besar berniat balas dendam pada manusia Saiya yang telah membunuhnya — jika anda ingat, Trunks-lah yang memotong-motong tubuh Frieza — dengan mengirim ribuan pasukannya untuk menyerang bumi. Seperti biasa, saat semua ini terjadi Goku (Masako Nozawa) sedang tak di tempat karena tengah berlatih bersama Vegeta (Ryo Horikawa) dan tangan kanan Beerus, Whis, sehingga Master Roshi, Krillin, Piccolo, Gohan, dan Tenshinhan harus berusaha sekuat tenaga menahan gempuran pasukan Frieza sebelum Goku datang.


Demografi film ini ditujukan khusus untuk penggemar atau setidaknya penonton yang pernah mengenal franchise ini. Dengan banyaknya karakter pendukung yang hanya tampil sebentar, mungkin akan membuat penonton yang belum familiar sedikit kebingungan (walau saya meragukannya).

Inti cerita disini adalah pertarungan melawan Frieza yang menghabiskan hampir dua pertiga film, sementara sepertiga awal untuk membangun cerita tanpa characters development sama sekali. Mungkin memang pertarungan lah yang ingin disajikan oleh Akira Toriyama yang langsung turun tangan untuk menulis naskah.

Sutradara Tadayoshi Yamamuro menghadirkan adegan pertarungan yang cepat dan inventif namun lumayan repetitif. Secara garis besar, tak ada peningkatan yang signifikan di departemen animasi dibandingan serialnya, selain warna yang lebih cerah dan efek suara yang berlebihan.

Masalah terbesar adalah beberapa protagonis yang saking kuatnya menjadikan tak ada lagi situasi yang genting, padahal Frieza sengaja telah dibuat lebih tangguh dibanding sebelumnya. Dengan mengesampingkan Goku dan Vegeta yang punya kemampuan perubahan baru, keberadaan Beerus dan Whis yang campur tangan di bagian akhir yang membuat ending-nya antiklimaks. Ancaman Frieza tak terasa mematikan, dan pertarungan menjadi menjemukan.

Meski begitu, saya merasa penggemar Dragon Ball akan terpuaskan dengan Resurrection F, meski secara naratif tak banyak hal baru yang ditawarkan. Apalagi dengan banyaknya lelucon, yang bahkan diselipkan di sela-sela pertarungan. Ada pula karakter tambahan Jaco sang polisi galaksi dengan penampilannya yang mirip Ultraman versi mini, yang tak hanya bertindak sebagai comic relief namun juga bisa bertarung. Sayangnya, mengingat keterlibatan langsung dari penulis manga-nya, saya pikir sungguh sia-sia film ini hanya menjadi sekedar filler dari petualangan yang telah melegenda. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem

'Dragon Ball: Resurrection'F'' |
|

IMDb | Rottentomatoes
93 menit | Semua Umur (BO)

Sutradara: Tadayoshi Yamamuro
Penulis: Akira Toriyama
Pemain: Masako Nozawa, Ryō Horikawa, Toshio Furukawa, Ryūsei Nakao

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top