0

Review Film: 'Fantastic Four' (2015)

Meski punya ide yang menjanjikan, 'Fantastic Four' nyaris tak punya nilai hiburan. Film ini mencoba menggabungkan beberapa elemen film superhero lain, yang sayangnya dieksekusi separo matang.

“We can't change the past, but we can change the future.”
— Sue Storm
Jika dihitung dengan versi Oley Sassone yang tak pernah dirilis ke publik, sudah ketiga kalinya Fantastic Four diadaptasi ke layar. Dalam adaptasi terbarunya ini, 20th Century Fox dan Josh Trank mencoba menggarap materi yang berbeda jauh dari film sebelumnya. Film ini punya ide origin story yang menjanjikan di paruh awalnya, namun secara keseluruhan tak mengalami peningkatan kualitas yang signifikan dibanding film Fantastic Four yang dirilis 10 tahun lalu (beserta sekuelnya).

Naskah yang ditulis Trank bersama Simon Kinberg dan Jeremy Slater terinspirasi dari komik Ultimate Fantastic Four ditambah dengan beberapa elemen dari komik orisinalnya. Saya tak pernah membaca komiknya, tapi katanya komik Fantastic Four punya tone yang ringan dan cerah, yang tentunya lebih sesuai dengan atmosfer film-film yang ditangani Marvel. Alih-alih, Fantastic Four mengalami perubahan drastis. Para tokoh sekarang dimainkan oleh aktor yang lebih muda, kostum konyol dengan lambang angka 4 diganti dengan kostum praktis ala X-Men, unsur humornya nyaris dihilangkan, practical effects diganti dengan CGI, atmosfer cerah berganti suram, dan rasanya tak perlu saya sebutkan pertalian keluarga antara Sue Storm dan Johnny Storm. Beberapa transisi ini adalah ide yang bagus. Beberapa lainnya, sayangnya tidak.

Film dimulai dengan awal yang cukup menarik, saat diceritakan Reed Richards kecil yang menyelinap ke halaman belakang rumah Ben Grimm untuk mengambil spare-part mobil demi menyelesaikan prototipe mesin teleportasi yang dirancangnya. Keduanya adalah sahabat karib, jadi Ben tak mempermasalahkannya. Malah dia ikut membantu Reed, meski penemuan tersebut tak begitu sukses. Tujuh tahun kemudian, Reed (kali ini diperankan oleh Miles Teller) dan Ben (Jamie Bell) memperagakan alat teleportasi mereka dalam sebuah pameran sains, yang lagi-lagi tak berakhir begitu baik. Namun bakat mereka dilirik oleh Dr. Franklin Storm (Reg E. Cathey) dan anak tirinya Sue (Kate Mara) yang kebetulan juga tengah meneliti hal yang sama. Sungguh suatu kebetulan! Reed pun direkrut untuk melanjutkan penelitian tersebut di Institut Baxter.

Kita kemudian akan diperkenalkan dengan anak Dr. Storm yang pemberontak, Johnny (Michael B. Jordan), yang pertama kalinya dimunculkan dalam adegan balap jalanan serta Victor von Doom (Toby Kebbell), seorang pemuda jenius yang digambarkan tak punya attitude bagus. Bersama peneliti yang lain, keempatnya menciptakan alat teleportasi yang bisa mengantarkan mereka ke sebuah planet primitif, yang kemudian disebut dengan Planet Zero.


Kentara sekali Trank mengambil pendekatan yang mirip Chronicle. Cerita dibangun dengan perlahan. Namun sebagai penonton, kita tahu bagaimana nasib mereka pada akhirnya: Reed punya tubuh elastis, Johnny menjadi manusia api, Sue bisa mengendalikan medan energi dan bisa tembus pandang, serta Ben yang menjadi super kuat tapi mengalami perubahan fisik seperti batu. Dengan mengambil porsi hampir 2/3 bagian dari 100 menit durasi, usaha membangun ceritanya terasa sedikit bertele-tele. Dan ini tak diimbangi dengan pendalaman karakter seperti halnya Chronicle.

Masalah terbesar dari Fantastic Four adalah karakterisasi yang lemah. Nyaris tak ada perkembangan karakter yang berarti. Kita mengenal keempat karakter ini — lima jika memasukkan Doctor Doom yang tampil hingga setengah film dan muncul lagi sebentar saat klimaks — hanya dari perilaku yang ditunjukkan di layar. Kita tahu hubungan asmara tarik-ulur antara Reed-Sue-Doom, persahabatan Reed dan Ben atau rivalitas antara Reed dan Doom tapi kita tak bisa merasakan chemistry di antara mereka. Jangan salah. Teller, Mara, Jordan, Bell, dan Kebbell adalah aktor yang kecemerlangannya bisa dilihat di film-film mereka sebelumnya. Namun dengan materi yang tipis seperti ini, mereka tak punya kans untuk tampil sedikit mencolok, boro-boro bersinar.

Setelah mendapat kekuatan, Reed melarikan diri sementara Sue, Johnny, dan Ben didayagunakan sebagai alat militer. Ada sedikit niatan untuk menekankan bahwa kekuatan ini mereka anggap sebagai kutukan, alih-alih anugerah atau Sue yang batinnya memberontak karena dimanfaatkan atau Ben yang tak bisa menerima fakta transformasi fisiknya. Lagi-lagi ini tak dikembangkan. Satu-satunya peluang untuk menciptakan character development yaitu saat keempatnya bersatu sebagai tim untuk melawan Doom yang berencana memusnahkan bumi, malah teralihkan (atau dialihkan) dengan adegan aksi klimaks yang sama sekali tak menghibur. Serius, dengan koreografi yang payah dan efek CGI yang tak kalah parahnya, sekuens aksi tersebut mungkin menarik di era 90-an, tapi di jaman sekarang tentu tak lagi relevan.

Saya bukanlah kritikus film profesional tapi saya merasa bahwa secara struktur sinematis, ada yang salah dengan Fantastic Four. Hingga pertengahan film, Josh Trank tampak ingin memaksudkan filmnya sebagai film antitesis superhero, sementara di paruh akhir terkesan seperti film superhero kekinian. Keduanya tak pernah menyatu, yang semakin menguatkan fakta bahwa paruh terakhir adalah hasil modifikasi studio tanpa campur tangan Trank. Yang lebih buruk, keduanya tak pernah menarik, bahkan jika dilihat sebagai bagian terpisah.

Fantastic Four nyaris tak punya nilai hiburan. Mencoba menggabungkan 2 gaya film superhero sukses — gaya trilogi The Dark Knight yang suram dan gaya Marvel yang penuh dengan efek spesial dan aksi jor-joran —, film ini tak punya pendalaman karakter ala Nolan maupun hiburan ringan tipikal Marvel. Film ditutup dengan Reed yang berujar, "Kita perlu nama". Yap, kita tahu mereka bakalan mengambil nama apa. Penempatannya sebagai dessert dari sajian yang mengecewakan memberi kesan bahwa ini adalah appetizer dari sajian utama yang belum tentu datang tepat waktu pada 2017 mendatang.

Melihat banyaknya bakat dan sumber daya yang tersia-siakan dalam film ini membuat saya merasa kasihan dengan kru dan pemainnya. Terlebih lagi pada Trank, Teller, Mara, Jordan, Bell dan Kebbell. Dan mungkin mereka juga bakalan saling mengasihani satu sama lain jika menonton film superhero separo matang ini. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem


'Fantastic Four' |
|


IMDb | Rottentomatoes
100 menit | Remaja

Sutradara: Josh Trank
Penulis: Josh Trank, Simon Kinberg, Jeremy Slater
Pemain: Miles Teller, Kate Mara, Michael B. Jordan, Jamie Bell, Toby Kebbell

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top