1

Review Film: 'Everest' (2015)

'Everest' menangkap realitas pendakian puncak setinggi 8.848 meter dengan cara yang impresif secara visual, namun karakterisasi dan drama antarmanusia bukanlah kekuatan utamanya.

“The last words belong to the mountain.”
— Anatoli
Ini mungkin hanya opini saya, namun jika ada satu saja pesan yang bisa diambil oleh penonton Everest, maka kemungkinan besar mereka takkan mau mendaki puncak tertinggi di dunia tersebut. Meski demikian, ada kepuasan tersendiri bagi para penantang maut untuk menaklukkan puncak ini — atau puncak gunung manapun — yang mungkin takkan pernah saya mengerti. Orang-orang seperti inilah yang rela merogoh kocek besar untuk dipandu mendaki oleh Rob Hall (Jason Clarke), tokoh utama dari rombongan nama mentereng yang terlibat dalam film thriller-bencana dari Baltasar Kormakur ini.

Meski tak menyebutkan bahwa film ini diangkat dari buku laris Into Thin Air yang ditulis oleh jurnalis Jon Krakauer, Everest mengambil cerita yang sama, yaitu tragedi Mei 1996 yang menewaskan 8 pendaki. Sementara filmnya sendiri memang memfokuskan pada tragedi ini, namun Everest tak pernah menjadi terlalu melodramatis. Alih-alih, dramanya terasa sangat manusiawi, yang kesemuanya dikemas dengan sajian visual yang mengagumkan.

Gunung Everest pertama kali ditaklukkan secara resmi oleh Tenzing Norgay dan Edmund Hillary pada 1953, namun Rob Hall lah yang menjadi pionir dalam mengkomersialisasikan pendakian ini dengan perusahaannya yang bernama Adventure Consultant. Dengan bantuan koordinator logistik, Helen (Emily Watson) serta peninjau lapangan, Guy (Sam Worthington), Rob sukses mengantarkan 19 klien sampai ke puncak.


Kali ini Rob mendapatkan 8 klien, diantaranya Beck (Josh Brolin), Doug (Jason Hawkes), Yasuko (Naoko Mori) serta Krakauer (dalam film ini diperankan oleh Michael Kelly). Di paruh pertama film, kita diceritakan sedikit mengenai latar belakang dan sifat masing-masing: si besar mulut Beck yang mempunyai istri dan anak yang tengah menunggu di rumah, Doug seorang tukang pos yang melakukan pendakian keduanya setelah gagal tahun lalu, Yasuko yang telah menaklukkan 6 gunung tertinggi dan ini adalah puncak ketujuhnya, serta Rob sendiri yang istrinya tengah hamil tua (Keira Knightley).

Pendakian dimulai dari Katmandu dan disini kita bisa melihat sekilas dan kebudayaan dan kehidupan masyarakat Nepal. Sebelum mendaki, para pendaki harus di-aklimatisasi terlebih dahulu selama beberapa minggu agar bisa beradaptasi dengan cuaca ekstrim di ketinggian 8.000+ meter di atas permukaan laut, yang bisa menyebabkan hipotermia dan kerusakan organ parah.

Adventure Consultant bukanlah satu-satunya guide komersil disana. Ada banyak guide lain yang ikut tahun ini yang mengakibatkan pendakian kali ini menjadi pendakian teramai. Dua grup yang paling mencolok dipimpin oleh Scott Fischer (Jake Gyllenhaal) dari Amerika dan Anatoli Boukreev (Ingvar Sigordson) dari Rusia yang punya hubungan yang tak terlalu baik dengan Rob. Namun ketiganya setuju ambil kata sepakat, setelah Rob bernegosiasi mengingat sikon yang tak bersahabat. Walau menghadapi berbagai macam rintangan, beberapa dari pendaki berhasil sampai ke puncak.

Dengan sinematografi yang memukau dari Salvatore Totino, Kormakur menunjukkan bagian dunia yang mungkin takkan pernah dilihat oleh sebagian besar dari kita. Hidangan utama dari Everest adalah sajian efek visual 3D yang menampilkan tebing-tebing terjal dan puncak yang tertutup es yang memberi sensasi vertigo dan akrofobia. Dengan proses syuting yang sebagian besar dilakukan di Nepal dan Italia, Kormakur tak melewatkan detail teknisnya agar set terlihat realistis.

Meski tak memberikan akting yang buruk, penampilan para aktor tak begitu tergali, dengan pengecualian Clarke yang memerankan Rob yang mendapat porsi sebagai tokoh utama. Naskah dari William Nicholson (Gladiator) dan Simon Beaufoy (127 Hours) memang menyentuh permukaan saja, tapi memberikan penokohan yang cukup untuk membuat kita peduli dengan nasib para pendaki.

Mengingat banyaknya tokoh yang dimunculkan, karakterisasi bukanlah kekuatan dari Everest dan memang film ini taklah menampilkan kompleksitas karakter ataupun kajian psikologi yang mendalam. Rivalitas antara Rob dan Scott menguap di tengah jalan, berganti dengan tema mengenai tekad dan loyalitas sebelum akhirnya menjadi disaster flick di paruh ketiga.

Sejak paruh kedua, petualangan berubah menjadi tragedi. Tak hanya karena perubahan cuaca namun juga dikarenakan human error seperti kurangnya tabung oksigen atau tali pengaman yang putus, yang tak begitu terjelaskan hingga akhir. Di balik tiupan angin dan terpaan salju, sulit bagi penonton untuk mengenali masing-masing karakter yang tertutupi jaket tebal, google, dan jenggot tebalnya, namun Kormakur bisa menjaga adegannya yang intens tetap mengikat kita.

Tak ada momen heroik ala Stallone dalam Cliffhanger karena drama dalam Everest cenderung sederhana. Para pendaki bahkan tetap terikat ke tali pengaman dan tak harus meloncat dari satu tebing ke tebing lain. Yang membuat film ini begitu menegangkan adalah bagimana keganasan alam itu sendiri dan bagaimana mengerikannya degradasi fisik serta mental yang dialami pendaki. Kita melihat apa yang dialami dan dilakukan oleh orang-orang biasa dalam usahanya mencoba melawan alam.

Pada akhirnya, terbukti bahwa alam lebih tangguh daripada manusia, seperti halnya yang diucapkan Anatoli, "Kata-kata terakhir selalu menjadi milik gunung." Everest menangkap realitas pendakian puncak setinggi 8.848 meter dengan cara yang impresif secara visual. Yang sedikit mengecewakan, film ini tak membuat kita merasakan pengalaman sentimentil yang coba dibawakannya, bahkan di saat salah satu karakter terpenting menghadapi takdir yang tragis. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem

'Everest' |
|

IMDb | Rottentomatoes
121 menit | Remaja

Sutradara: Baltasar Kormákur
Penulis: William Nicholson, Simon Beaufoy
Pemain: Jason Clarke, Josh Brolin, John Hawkes, Robin Wright, Emily Watson

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Back to Top