0

Review Film: 'Everly' (2015)

'Everly' adalah film aksi brutal dengan rating dewasa karena begitu banyak mengumbar kekerasan, yang sayangnya tak menyisakan ruang untuk perkembangan cerita maupun karakter.

“Either you help me, or shut the f*ck up.”
— Everly
Everly disekap dan diperbudak oleh Taiko — mantan pacarnya yang juga seorang bos yakuza — di dalam sebuah apartemen bersama dengan banyak wanita lainnya. Selama empat tahun dia harus melayani nafsu pria-pria hidung belang dengan selera yang menyimpang. Hanya ada 2 pilihan, dan Everly bukanlah tipe wanita yang mudah menyerah. Jadi, tepat di hari Natal, dia memberontak.

Dalam film ini Salma Hayek bermain sebagai Everly, seorang wanita yang awalnya terlihat biasa-biasa saja namun entah kenapa kemudian familiar sekali dengan berbagai senjata, punya vitalitas prima, dan sedikit menguasai martial arts.

Kita tak perlu mempertanyakan hal di atas karena sutradara Joe Lynch dan penulis naskah Yale Hannon membuat semuanya simpel. Berbekal sedikit backstory yang diungkap secara tersirat, narasi bergerak cepat ke depan, diisi dengan berbagai adegan aksi yang dikoreografi dan disorot dengan profesional. Dengan dana yang terbatas, Lynch berusaha memfokuskan perhatian pada sekuens aksi yang cukup memuaskan untuk dilihat.


Everly adalah film aksi brutal dengan rating dewasa karena begitu banyak mengumbar kekerasan. Sama seperti premisnya yang menyinggung eksploitasi seksual, filmnya tak segan-segan mengeksploitasi berbagai macam kebrutalan, potongan tubuh, percikan darah, bahkan sensualitas karakter utamanya sendiri — Salma Hayek memakai pakaian seksi sepanjang film, sesuatu yang sebenarnya cukup ironis. Lebih dari itu, film ini juga menyuguhkan fetisisme lewat beberapa karakter antagonisnya seperti Sang Sadis dan Sang Masokis.

Setelah mendengar suara jeritan (yang mengindikasikan tindak perkosaan), kamera mengambil gambar seorang wanita telanjang dengan tato mencolok yang masuk ke dalam kamar mandi. Dengan tertatih-tatih, Everly menelpon polisi tapi gagal. Dia lalu mengambil pistol yang disembunyikan, dan melalui salah satu adegan pembuka film yang paling eksplosif tahun ini, Everly membantai hampir semua pria cabul disana.

Hal ini membuat situasi semakin kacau karena Taiko malah menjanjikan imbalan bagi siapa saja yang bisa menangkap Everly. Dari pembunuh bayaran hingga rekan sesama PSK, mereka mengetuk pintu apartemen Everly dengan kostum fetish dilengkapi dengan senjata yang variatif, seperti pedang samurai, machine gun, atau RPG.

Hampir keseluruhan dari total 92 menit filmnya diisi dengan adegan pembantaian dan nyaris tak ruang untuk perkembangan cerita atau karakter. Sebagian besar film berlangsung di kamar Everly dan untuk memberikan interaksi yang manusiawi, Everly ditemani dengan salah seorang anggota Yakuza yang sekarat.

Di balik semburat darah atau adegan sadis menelan asam klorida, Lynch bermaksud menyelipkan sisi emosional dengan menyelipkan cerita mengenai penyelamatan anak dan ibunya Everly. Namun Lynch terlalu bergantung pada gore alih-alih cerita, yang membuat ini hanya numpang lewat saja.

Everly menjadi semacam gabungan antara Kill Bill dan The Raid dengan atmosfer yang diperingan berkat penambahan black comedy. Bagi yang mencari film penuh adrenalin tanpa perlu banyak berpikir, Everly bisa dijadikan tontonan yang lumayan. Meski sedikit seksis dan terlalu eksploitatif, pistol, darah, dan wanita seksi bisa menjadi hiburan yang tepat bagi penonton tertentu. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem


'Everly' |
|

IMDb | Rottentomatoes
92 menit | Dewasa

Sutradara: Joe Lynch
Penulis: Yale Hannon
Pemain: Salma Hayek, Hiroyuki Watanabe

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top