0

Review Film: 'Final Girl' (2015)

Keprediktabilitasannya membuat 'Final Girl' nyaris bebas dari tensi atau suspens. Menjadi debut penyutradaraan dari mantan fotografer Tyler Shields, film ini punya beberapa poin yang menarik di departemen visual, namun tanpa maksud yang berarti selain adegan pembantaian yang repetitif.

“I'm going to enjoy this.”
— Veronica
Saya menduga mungkin saat menonton film slasher-thriller generik dimana korban yang tak berdaya dianiaya oleh pelaku, sempat terlintas di pikiran Adam Prince, "Bagaimana kalau seandainya korban tak pasrah saja menerima nasibnya, atau lebih baik lagi, mereka punya kapabilitas untuk melawan balik?" Konsep ini sama sekali tak baru dan beberapa penulis serta sutradara melakukannya dengan lebih baik dalam film-film seperti Kill Bill atau Sin City daripada yang dilakukan oleh Prince atau sutradara debutan Tyler Shields dalam Final Girl.

Calon "korban" yang dimaksud disini adalah Veronica (Abigail Breslin), sementara si bejat — lebih tepatnya para bejat karena pelakunya lebih dari satu orang — adalah 4 sekawan yaitu Jameson (Alexander Ludwig), Shane (Cameron Bright), Nelson (Reece Thompson), dan Daniel (Logan Huffman). Di balik wajah tampan dan penampilan parlente, keempatnya punya hobi aneh, yaitu membawa seorang gadis cantik (khususnya yang berambut pirang) ke sebuah hutan, kemudian memburu dan membunuhnya demi kesenangan belaka. Sejauh ini, mereka telah melakukannya hingga 20 kali tanpa menimbulkan kecurigaan. Dan ini janggal, karena sepanjang ingatan saya, tak banyak orang yang tinggal di desa/kota tersebut.

Sialnya, empat sekawan ini memilih korban yang salah, sebab semuanya hanyalah pancingan dari Veronica dan mentornya, William (Wes Bentley) untuk melenyapkan keempatnya yang sekaligus menjadi ujian terakhir bagi Veronica. Mungkin akan menjadi film yang menarik jika ini diungkap di akhir, namun Prince telah membeberkan cerita latar belakang ini sedari awal film, membuat narasinya bebas dari tensi karena kita sudah bisa menebak siapa yang bakalan menang.


Dua belas tahun yang lalu, William menemukan seorang gadis kecil yang selamat dari pembantaian keluarganya. Menilai dari intelegensi dan sikapnya yang nyaris tanpa emosi, William memutuskan untuk melatih gadis ini menjadi pembunuh handal. Beralih ke masa sekarang, Veronica telah bertahun-tahun dilatih oleh William. Namun Breslin tak terlihat meyakinkan sebagai lethal weapon. Sebagian karena dia memang terlalu imut dan sebagian lagi karena selama training-nya, Veronica diharuskan (?) memakai gaun dan sepatu heels. Mungkin ditujukan untuk melatih fleksibilitas Veronica atau mungkin juga hanya untuk menarik perhatian penonton yang ingin melihat bagaimana sang Little Miss Sunshine sekarang sudah beranjak dewasa.

Ada maksud untuk memasukkan suspens saat 4 sekawan bermain Truth or Dare bersama Veronica sebelum adegan pembantaian terjadi (jangan berharap banyak pada adegan brutalnya, karena ini juga repetitif dan membosankan). Namun hal ini sia-sia sebab usaha membangun intensitas ini telah ditelan oleh prediktabilitas narasi. Film ini juga kacau gara-gara dialog yang kaku, absurd (milkshake law?) dan klise, dan para aktor membawakannya dengan muka serius yang semakin membuat kita prihatin. Semua karakter bergerak tanpa motivasi, konflik atau latar belakang yang jelas.

Shields yang memulai debutnya sebagai sutradara setelah sebelumnya berprofesi sebagai fotografer menunjukkan kekuatannya di departemen visual. Setting hutan yang mencekam lumayan bagus dan terkadang pilihannya untuk menyorot gambar juga tepat, dengan pencahayaan yang dramatis. Dari salah satu adegan saat para pelaku berhalusinasi gara-gara direcoki obat oleh Veronica, Shields mencoba menghadirkan surrealisme ala David Lynch, namun dengan tujuan yang terlalu dangkal. Atau mungkin saya yang tak begitu mengerti. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem

'Final Girl' |
|

IMDb | Rottentomatoes
90 menit | Remaja

Sutradara: Tyler Shields
Penulis: Adam Prince
Pemain: Abigail Breslin, Alexander Ludwig, Wes Bentley

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top