0

Review Film: 'Momentum' (2015)

'Momentum' berusaha terlalu keras untuk menjadi film yang cerdas di balik formula aksi-thriller-nya yang kelas dua.

“I've seen this in far too many movies.”
— Mr. Washington
Apa arti sebenarnya dari Momentum? Selesai menonton film ini, sejujurnya saya tak begitu bisa menjelaskan dengan gamblang apa hubungan antara judul tersebut dengan arti harfiah dari momentum. Yang jelas, Stephen Campanelli berusaha keras agar momentum dari film debutnya tetap terjaga dengan menghadirkan cukup banyak adegan aksi ke dalam film thriller yang generik ini. Meskipun eksekusinya tak begitu buruk, namun tak ada hal orisinil yang ditawarkan Momentum.

Film dibuka dengan adegan yang menjanjikan, saat sekelompok perampok berkostum hi-tech yang menggasak berlian di sebuah bank di Cape Town, Afrika Selatan. Konflik internal terjadi ketika saat salah seorang anggotanya berniat membunuh sandera yang berujung pada terbukanya penyamaran pimpinan perampok yang ternyata adalah — tadaa — seorang wanita muda yang sangat menawan bernama Alexis (Olga Kurylenko). Sorotan slow-motion menunjukkan bahwa Alexis jelas menghabiskan banyak waktu untuk menata rambutnya di salon sebelum melakukan perampokan.

Saat terungkap bahwa dalam perampokannya, Alex dan kru tak sengaja membawa flashdisk yang berisi data skandal seorang senator, cerita kemudian berubah menjadi kejar-kejaran yang melibatkan Mr. Washington (James Purefoy), seorang pembunuh bayaran yang diutus oleh sang senator terkait (Morgan Freeman). Dari sini, Momentum memakai formula stereotip dari film aksi-thriller: ada adegan kejar-kejaran mobil, interogasi sadis, ledakan, dan tentu saja tembak-tembakan. Mr. Washington adalah salah satu karakter penjahat yang sudah sering anda lihat di film-film lain: parlente, berpembawaan tenang dan suka ngomong dengan cerita-cerita kiasan yang membosankan (serius, terlebih saat monolognya di paruh kedua).


Keputusan untuk menjadikan wanita sebagai tokoh utama awalnya saya anggap sebagai usaha untuk mengangkat tema feminisme — selain sebagai pemanis, tentunya — hingga ada adegan yang menyorot secara khusus pantat Kurylenko dalam balutan lingerie! Saya bukannya tak setuju — ehem — namun sekuens yang berlanjut ke adegan kejar-kejaran di hotel dimana Alexis yang berlarian dengan pakaian tidurnya terasa sedikit mendegradasi karakter yang sebenarnya ditampilkan dengan lumayan baik oleh Kurylenko.

Mengawali karir sebagai operator kamera, Campanelli tahu bagaimana memposisikan kameranya dan menyuguhkan sekuens aksi yang lumayan menarik dan terkadang cerdas. Satu yang paling mencolok adalah saat Alexis kabur menggunakan mobil yang bergerak mundur dengan kecepatan tinggi di parkiran bertingkat.

Namun energi ini tak didapatkan di bagian lain. Momentum cenderung datar dan membosankan, tanpa emotional stakes yang berarti. Penulis naskah Adam Marcus dan Debra Sullivan tak tertarik untuk mengembangkan karakternya — baik Alexis atau Mr. Washington — lebih dari sekedar karakter satu dimensi. Sempat diselipkan subplot mengenai keluarga salah satu rekan Alexis, namun ini hanya menjadi sekedar alat untuk menjalankan plot alih-alih memberi bobot emosional.

Klimaks film juga tak memberi resolusi yang berarti. Setelah menyuguhkan kita dengan narasi sederhana, film ditutup dengan ending njelimet yang melibatkan konspirasi politik tingkat tinggi sebagai plot-twist mengagetkan yang terasa janggal berada disana. Menurut saya tak ada alasan logis untuk menyelipkan hal tersebut, selain mengisyaratkan sekuel yang kemungkinan besar takkan dibuat. Kalau saja tak berpura-pura untuk menjadi film yang lebih rumit ala Bourne, tentu Momentum lebih enak dilahap. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem

'Momentum' |
|

IMDb | Rottentomatoes
96 menit | Dewasa

Sutradara: Stephen Campanelli
Penulis: Adam Marcus, Debra Sullivan
Pemain: Olga Kurylenko, James Purefoy, Morgan Freeman

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top