0

Review Film: 'The Peanuts Movie' (2015)

Dalam representasi tiga dimensi, semua anggota geng Charlie Brown kembali dan harus diakui bahwa film ini tetap setia terhadap materi orisinalnya.

“If you really want to impress people you need to show them you're a winner.”
— Lucy
Jika kebanyakan animasi "anak-anak" sekarang membuat anda bertanya-tanya akan kepantasannya bagi anak-anak, The Peanuts Movie lain cerita. Film ini sangat cocok untuk anak-anak — atau orang dewasa yang ingin bernostalgia dengan masa kanak-kanaknya. Filmnya cerah dengan desain yang berwarna-warni, ceritanya hangat, leluconnya sederhana dan para karakter yang imut bertingkah lucu sepanjang waktu. Apa ada kualifikasi film anak-anak yang saya lewatkan?

Sekitar 65 tahun sejak komik stripnya pertama kali dibuat oleh Charles M. Schulz, publik di tanah air mungkin hanya mengenal Snoopy dkk melalui film animasi atau berbagai macam merchandise (orisinal atau tidak). The Peanuts Movie adalah film panjang pertama dari Snoopy setelah 35 tahun. Dalam representasi tiga dimensi, semua anggota geng Charlie Brown kembali dan harus diakui bahwa film ini tetap setia terhadap materi orisinalnya. Anak dan cucu Schulz, Bryan dan Craig yang bekerja sama dengan Cornelius Uliano memilih untuk menyuguhkan rima dan nuansa yang sama dengan produk klasiknya. Faktanya, film ini bahkan mendaur ulang beberapa momen, dialog hingga detail plot.


Di dunia Peanuts, tak ada telepon genggam atau gadget canggih. Telepon masih menggunakan kabel yang bisa membuat Charlie Brown terlilit. Snoopy masih mengetik dengan mesin tik biasa. Anak-anak bertingkah layaknya anak-anak. Mereka bermain dengan gembira di luar rumah, khususnya saat liburan. Anak-anak terdengar seperti anak-anak karena para pengisi suaranya memang anak-anak dan faktor ini membuat sulih suaranya terdengar otentik. Sebagai pengecualian yaitu karakter Snoopy dan Woodstock yang menggunakan arsip suara asli dari Bill Melendez yang merupakan pengisi suara dari film aslinya sejak 1966.

Charlie Brown masih sama seperti yang kita kenal. Dia canggung, punya krisis kepercayaan diri tapi berhati baik. Dia tetap belum bisa menerbangkan layang-layang atau melempar bola baseball namun yakin bahwa dia bisa menjadi lebih baik. Plot utamanya disini dimulai dengan kedatangan seorang gadis manis berambut merah (Francesca Angelucci Capaldi) yang membuat Charlie Brown (Noah Schnapp) berusaha untuk menarik perhatiannya, meski selalu berakhir buruk. Usaha ini melibatkan pesta dansa, ujian matematika, hingga tugas menulis esai dari buku War and Peace.

Sejujurnya, plot ini hanya menjadi alasan bagi sineasnya untuk merangkum momen dan lelucon Peanuts yang sudah pernah kita lihat sebelumnya, termasuk dalam A Charlie Brown Christmas. Kita melihat rival Charlie Brown, Lucy (Hadley Bell Miller) yang masih memasang tarif untuk setiap sarannya. Teman-teman lain juga bertingkah familiar: Linus (Alexander Garfin) yang sering memberi saran inspiratif dan selalu berusaha menghindari adik Charlie Brown Sally (Mariel Sheets) yang suka padanya, Peppermint Patty (Venus Omega Schulteis) yang tomboi, atau Schroeder (Noah Johnston) yang tak pernah lepas dari pianonya.

Lalu, tentu saja ada Snoopy dan Woodstock, yang suka membantu Charlie Brown sesering mereka menjahilinya. Adegan saat Snoopy berpura-pura bersikap seperti manusia adalah beberapa momen terlucu. Sedikit menjemukan saat Snoopy berimajinasi menjadi pilot pesawat Perang Dunia dan melawan musuh bebuyutan Red Baron sembari mengejar kekasih fiktifnya, Fifi (Kristin Chenoweth), yang disajikan dengan gaya layaknya film aksi.

Sutradara Steve Martino beserta para animator Blue Sky Studios menjaga agar iterasinya ke CGI tetap dekat dengan coretan gambar Schulz atau animasi konvensionalnya. Meski menggunakan efek komputer, namun tampilan visualnya bisa menangkap desain, ekspresi dan pergerakan dari karakter yang sudah biasa kita lihat. Ada beberapa adegan misalnya imajinasi Charlie Brown yang disajikan dengan gambaran tangan.

Walau disasar untuk anak-anak, Peanuts sebenarnya punya kedekatan tema dengan dunia dewasa, sesuatu yang gampang terlewatkan oleh anak/adik anda. Namun dari film seperti ini mereka akan mendapatkan sesuatu. Saat mereka bertanya — kenapa Charlie Brown tak pernah menyerah meski selalu gagal? Apa yang menarik dari kepribadian Charlie Brown yang terlihat payah? — saya yakin anda dengan senang hati akan menjelaskan. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem

'The Peanuts Movie' |
|

IMDb | Rottentomatoes
93 menit | Semua Umur

Sutradara Steve Martino
Penulis Bryan Schulz, Craig Schulz' Cornelius Uliano
Pemain Noah Schnapp, Hadley Belle Miller, Mariel Sheets, Alex Garfin

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top