0

Review Film: 'Daughter of God' (2016)

Film ini bergenre kriminal supranatural dan walau ada beberapa film yang bisa menggabungkan dua genre tersebut dengan baik, 'Daughter of God' bukan salah satunya.

“Some secrets are better left buried.”
Daughter of God adalah film yang kacau. Saya pernah bilang sebelumnya bahwa saat sebuah film dirilis dengan judul berbeda di beberapa negara, ini biasanya adalah pertanda buruk. Film ini bergenre kriminal supranatural dan walau ada beberapa film yang bisa menggabungkan dua genre tersebut dengan baik, Daughter of God bukan salah satunya. Ada dua cerita utama disini dan keduanya tak menyatu sama sekali. Entah salah naskah atau penyutradaraan, yang jelas transisinya tak mulus.

Keanu Reeves kembali bermain bersama Ana de Armas setelah kolaborasi mereka dalam film yang juga buruk tapi seru untuk ditonton, Knock Knock. Keduanya berperan dalam plot berbeda — dengan bahasa yang berbeda pula, satu Inggris dan satu lagi Spanyol — yang nyaris tanpa korelasi, setidaknya hingga adegan penutup saat keduanya digabungkan dengan sebuah plot twist yang punya konsep prestisius tapi dipaksakan.


Reeves adalah detektif Galban, polisi yang berniat menyelidiki kasus kematian misterius dari partnernya. Penyelidikannya berlangsung begitu pelan hingga bisa disebut membosankan. Terungkap kemudian bahwa partnernya tersebut adalah polisi korup, namun atasannya (Christopher McDonald) melarang untuk menelusuri lebih jauh karena bisa mengancam keberlangsungan santunan bagi sang istri, Janine (Mira Sorvino) dan anaknya.

Armas bermain sebagai Isabel, wanita keturunan Dominika yang mulai melihat penampakan mistis di stasiun kereta bawah tanah. Penampakan ini semakin sering dan ia menganggapnya sebagai pesan spiritual. Nah — siap-siap melahap absurditasnya — Isabel tiba-tiba mengalami kehamilan ajaib, yang tentu saja tak dipercaya oleh keluarganya mengingat suaminya bertugas di Irak sejak setahun yang lalu. Anda meragukan relevansi kedua cerita ini, namun pasti ada hubungannya mengingat kedua cerita yang diceritakan secara paralel.

Film ini tak memberi kesempatan bagi penonton untuk mencerna plotnya. Saat berusaha melakukannya, kita dialihkan dengan berbagai subplot yang tak relevan. Dari perspektif Galban, kita melihat adegan perselingkuhannya dengan Janine atau dinamika hubungannya yang canggung dengan sang partner baru. Sementara itu, kita dilibatkan dengan kasus adik ipar Isabel, Rocky (Gabe Vargas) yang bersentuhan dengan (semacam) mafia narkoba (Big Daddy Kane). Jika anda sudah merasa kebingungan, tak apa, karena poin paling penting dari film ini hanya endingnya.

Ada banyak tema yang dimasukkan sekaligus seperti korupsi kepolisian, pelecehan seksual, kekerasan pada anak dan oh, metafora spiritual yang kemudian diblender menjadi satu. Semua menjadi lebih membingungkan saat anda dilempar (secara sporadis) dengan adegan-adegan random seperti bapak-bapak yang bicara dengan alat bantu suara atau anjing bulldog yang tertabrak mobil. Melihat produk akhirnya, wajar jika sutradara Gee Malik Linton tak mau mengakui bahwa ini adalah karyanya dan malah menggunakan pseudonim Declan Dale.

Quick googling memberitahu saya bahwa film ini dimaksudkan menjadi film drama sureal hingga akhirnya diiterasi oleh studio secara besar-besaran. Film ini lagi-lagi memperlihatkan apa yang terjadi saat studio mencampuri urusan sutradara. Kalau saja mereka tak berbuat begitu, kesalahan setidaknya menjadi milik sutradara. Namun ketika mereka melakukannya, kita berasumsi bahwa film ini bisa lebih baik, meski sebenarnya tak banyak yang bisa dilakukan dari skripnya yang menggelikan. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem

'Daughter of God' |
|

IMDb | Rottentomatoes
102 menit | Dewasa

Sutradara Declan Dale
Penulis Gee Malik Linton
Pemain Ana de Armas, Keanu Reeves, Christopher McDonald

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top