0

Review Film: 'Deadpool' (2016)

Deadpool adalah karakter yang mendobrak tatanan film superhero, tapi film pertamanya ini masih berjalan di jalur aman. Bisa dibayangkan seandainya ia mendapat ruang gerak yang lebih luas daripada sekedar narasi konvensional.

“Let's go out there and make a difference!”
— Wade Wilson
Mengenai Deadpool, ia adalah superhero yang tak mengikuti aturan sebagai superhero; banyak bacot, senang mengolok-olok (diri sendiri atau apapun yang terlintas di pikirannya) dan bersenang-senang dalam membunuh musuh. Bahkan, ia juga menyadari bahwa dirinya tak lebih dari sekedar "karakter" dengan berkali-kali berbicara langsung dengan penonton menerobos 4th wall. Kepribadian saja sudah membuatnya lebih menarik dibanding superhero "normal". Faktanya, karakteristik tersebut memainkan peran penting dalam film solo perdananya ini yang secara mengejutkan masih memakai formula yang generik.

Jika dalam Batman Begins, Christopher Nolan memberikan kedalaman karakter pada formula generiknya, hal yang sama tentu sulit diterapkan pada superhero yang tak pernah serius hampir dalam segala hal. Oleh karenanya, patut diapresiasi usaha dari penulis naskah Paul Wernick dan Rhett Reese yang menyamarkan keklisean plotnya dengan mempermainkan struktur narasi. Adegan pembukanya sangat kreatif. Diiringi dengan musik jadul, alih-alih nama pemain, kita disuguhkan dengan nama plesetan semacam "A British Villain", "CGI Character" atau "Greatest Cameo" (anda mungkin bisa menebak ini siapa).


Film dibuka dengan sekuen aksi spektakuler nan sadis di sebuah jalan raya, dimana Deadpool dengan kostum merah-hitamnya melakukan semua tindakan brutal yang bisa terbayang oleh anda, sembari memberikan komentar nyeleneh; mulai dari yang lucu hingga absurd. Di sela-sela itu, kita diajak untuk ber-flashback ke masa lalu, saat Deadpool hanyalah seorang tukang pukul (tampan dan punya sixpack) bernama Wade Wilson (Ryan Reynolds) yang sering nongkrong di bar sahabatnya, Weasel (T.J. Miller), yang saya asumsikan sebagai salah satu bar paling berbahaya di dunia, mengingat pengunjungnya yang biasa menenteng senjata dan sering melakukan taruhan maut err... dead pool.

Masa depan tampaknya akan membahagiakan saat Wade bertemu dengan pekerja prostitusi yang kelak menjadi pacarnya, Vanessa (Morena Baccarin). Setelah beberapa adegan panas (yang tentu saja disensor), Wade mendapat kabar buruk: ia didiagnosis kanker hampir di seluruh organ penting (ya, termasuk prostat). Demi kesembuhan, ia sukarela ikut dalam program Weapon X (yang juga menciptakan Wolverine) yang pada akhirnya menjadikannya mutan dengan kemampuan regenerasi, tapi punya efek samping yang membuat wajahnya rusak parah. Setelah berhasil kabur, Wade yang kali ini memakai identitas Deadpool memburu Ajax (Ed Skrein), pria yang bertanggung jawab atas segalanya.

Setelah separuh durasi, kita dibawa kembali ke masa sekarang. Konfrontasi dengan Ajax mempertemukan Deadpool dengan dua anggota X-Men, Colossus (Stefan Kapicic) dan Negasonic Teenage Warhead (Brianna Hildebrand). Tugas mereka sebenarnya adalah untuk mengontrol brutalitas Deadpool, tapi alih-alih malah membantunya. Gina Carano bermain sebagai Angel Dust, tangan kanan dari Ajax. Meski ada banyak karakter yang dimunculkan, rata-rata mereka hanya menjadi pelengkap karena perannya yang tak signifikan. Deadpool hanyalah tentang Deadpool seorang.

Dibuat dengan bujet yang relatif kecil untuk ukuran film superhero pada umumnya, Deadpool adalah contoh produk yang dieksekusi dengan efektif. Hanya ada dua sekuens aksi utama disini dan untuk yang pertama, sutradara Tim Miller menyuguhkannya dengan gesit dan enerjik tanpa terasa membosankan meski hanya bersetting di satu lokasi saja. Namun, seolah untuk mematuhi Superhero Movies Handbook, sekuens yang kedua mengharuskan adanya adegan aksi yang inkomprehensif dan sesuatu yang meledak secara fantastis melalui efek CGI, dan oleh karena itu, terkesan sedikit tumpul dibanding sekuen pertama. Kapabilitas Miller masih dipertanyakan untuk ensensi drama mengingat bagian flashback-nya yang melempem.

Kesenangan utama dari Deadpool berasal dari celotehan karakter utamanya yang frontal dan vulgar, entah itu one-liners cerdik, komentar rasis atau porno hingga referensi film dan budaya pop. Lelucon ini tentu lebih mudah ditangkap bagi penonton yang tahu. Tak semua mengerti saat Deadpool mempertanyakan Profesor X yang dimaksud Colossus apakah McAvoy atau Stewart; begitu juga saat Wade berujar jangan memberikannya kostum hijau (atau animasi). Ryan Reynolds yang sudah akrab dengan personanya sebagai wisecracker adalah pilihan yang tepat sebagai "Merc with the Mouth". Berkat dia juga lah, bahkan lelucon yang garing pun punya nilai komedik.

Deadpool adalah karakter yang mendobrak tatanan film superhero, tapi film pertamanya ini masih berjalan di jalur aman. Sejauh ini, kita hanya bisa membayangkan seandainya ia mendapat ruang gerak yang lebih luas daripada sekedar narasi konvensional. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Deadpool' |
|

IMDb | Rottentomatoes
108 menit | Dewasa

Sutradara Tim Miller
Penulis Paul Wernick, Rhett Reese
Pemain Ryan Reynolds, Morena Baccarin, Ed Skrein, T. J. Miller

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top