0

Review Film: 'Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows' (2016)

'Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows' menawarkan hal yang kurang lebih sama dengan film sebelumnya, namun dengan presentasi yang lebih baik.

“We're turtles, whether you like it or not.”
— Leonardo
Teenage Mutant Ninja Turtles bukan lagi tontonan eksklusif buat anak-anak. Terima kasih pada Michael Bay yang sudah secara drastis mendandani franchise yang populer melalui mainan dan serial kartun ini menjadi pertunjukan machoisme penuh CGI nan eksplosif yang akan menyerang indera dan akal sehat anda. Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows menawarkan hal yang kurang lebih sama dengan film sebelumnya, namun dengan presentasi yang lebih baik. Mungkin mengambil pelajaran dari kritikan untuk film pertama, efek spesialnya mengalami peningkatan dan ceritanya lebih linear.

Film ini bukan masterpiece, tapi tak seburuk yang anda duga akan dihasilkan dari film dengan premis kura-kura mutan mengatasi serangan alien dari dimensi lain. Alurnya punya substansi semaksimal cerita film anak-anak. Namun Dave Green yang mengambil alih tongkat sutradara dari Jonathan Liebesman menginjeksi adrenalin yang cukup di setiap sekuens aksinya untuk membuat kita teralihkan dari plot yang tak rasional.

Setelah kejadian di film pertama, kura-kura ninja — Leonardo, Raphael, Donatello dan Michelangelo — tetap memilih untuk bersembunyi di markas gorong-gorong mereka dan membiarkan wartawan Vern (Will Arnett) mengambil kredit atas keberhasilan mereka menangkap pimpinan teroris Foot Clan, Shredder (Brian Tee). Namun Shredder berhasil kabur berkat bantuan ilmuwan jahat Dr. Baxter Stockman (Tyler Perry, lucunya nanggung) melalui mekanisme teleportasi yang mempertemukannya dengan Krang (disuarakan oleh Brad Garrett), alien berbentuk otak penuh lendir yang dipersenjatai dengan tubuh robotik.


Krang memberikan ramuan ungu yang bisa mengubah bawahan baru Shredder, Bebop (Gary Anthony Williams) dan Rocksteady (Stephen "Sheamus" Farrelly) menjadi mutan babi liar dan badak. Misi mereka tentu saja menghancurkan dunia. Bagaimana detilnya tak perlu saya jelaskan, karena tak penting-penting amat. Ada banyak obrolan canggih mengenai teknologi ini itu (sebagian besar dari Donatello), tapi anda tentu tahu kalau itu hanya omong kosong penggerak cerita. Semua poin plot hanyalah alasan untuk menampilkan satu adegan aksi ke adegan aksi lain.

Bay hanya bertindak sebagai produser namun kita bisa melihat ciri khasnya sepanjang film lewat gadget mentereng, adegan bombastis, editing cepat yang memusingkan serta Megan Fox yang berlarian dengan pakaian ketat. Jika film ini adalah indikator yang akurat, saya bisa bilang bahwa Green lebih kompeten menjadi Bay daripada Bay sendiri. Dalam Transformers, kita diserang dengan suara berisik dan CGI sporadis sementara Bay berharap kita bisa mengerti semua kekacauan tersebut. Masih dengan serangan yang sama, cara Green mengeksekusi lebih terkontrol dan mudah dicerna tanpa mengurangi keseruan dan ketegangan dari sekuens aksinya, khususnya saat pertarungan puncak yang mengambil formula dari Buku Superhero Generik.

Yang paling menarik adalah adegan kura-kura ninja terjun dari pesawat yang berlanjut pada kejar-kejaran di sungai melibatkan tank baja yang melewati standar sekuens snowboarding film sebelumnya. Bayangkan absurditas sekelas Fast & Furious. Tentu saja, saya tahu hampir 90% adegannya adalah kreasi komputer dan yakin bahwa tak ada karakter yang akan tewas dalam adegan tersebut. Namun sungguh, penyajiannya intens.

Kali ini kita punya lebih banyak kesempatan menyaksikan para kura-kura, entah itu berjumpalitan untuk menonton NBA atau beraksi dengan mobil Tartaruga mereka. Namun naskah dari Josh Appelbaum dan Andre Nemec masih menemukan celah bagi tokoh manusia dan antagonis yang dipinggirkan sebagai karakter sekunder untuk mendapat momen masing-masing. April (Fox) bersama rekan barunya, Casey Jones (Stephen Amell) harus berurusan dengan kepala polisi (Laura Linney) yang menganggap kura-kura kita sebagai monster. Perilaku dua mutan dungu, Bebop dan Rocksteady terkadang kocak lebih sering jayus, tapi keberadaan mereka sesuai dengan nuansa semesta TMNT.

Sebagaimana diindikasikan oleh subjudulnya, film ini mencoba mengangkat tema mengenai krisis identitas dan dalam hal ini, tak terlalu berhasil menyentuhnya. Saat kura-kura mengetahui bahwa cairan ungu mungkin bisa membuat mereka menjadi manusia normal, ada sedikit drama namun filmnya sendiri tampaknya tak begitu tertarik dengan isu tersebut. Begitu juga kita.

Film ini bukanlah film yang bagus, apalagi jika anda alergi dengan estetika sinematis ala Michael Bay. Namun ia memenuhi persyaratan blockbuster yang menghibur meski mungkin akan anda lupakan setelah keluar bioskop. Saya terhibur. Mungkin karena saya menanggalkan logika berpikir sebelum menonton. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows' |
|

IMDb | Rottentomatoes
112 menit | Remaja

Sutradara Dave Green
Penulis Josh Appelbaum, André Nemec
Pemain Megan Fox, Stephen Amell, Will Arnett
BAGIKAN

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top