0

Review Film: 'Lights Out' (2016)

Sama seperti hantunya yang menghilang sesigap lampu dinyalakan, efektivitas 'Lights Out' menguap dengan cepat, bahkan dengan durasi yang relatif singkat.

“You were right to be afraid of the dark.”
Adegan terpenting dan terseram dari Lights Out terdapat di bagian awal film. Seorang pegawai wanita menyaksikan penampakan misterius di gudang tempatnya bekerja. Saat lampu dimatikan, ia melihat "sesuatu", tapi saat lampu menyala, "sesuatu" itu menghilang. Sang manajer, Paul (Billy Burke) tidak percaya, namun ia membuktikannya sendiri melalui cara yang tragis. Adegan tersebut membuat kita mempelajari dua hal yang menjadi aturan dasar dari konsep horor dalam film ini: (1) Sang "mahkluk" hanya muncul di tempat gelap dan menghilang saat ada cahaya, tak peduli siang atau malam; (2) Sang "makhluk" punya wujud fisik, bahkan bisa melukai orang dengan cara riil yang keji.

Lights Out adalah salah satu film horor konvensional dengan premis paling segar yang pernah saya temukan belakangan ini. Filmnya mengeksploitasi ketakutan dasar manusia: fobia akan gelap. Well, sebenarnya ini trik lama yang sudah jamak digunakan dalam film horor sih, tapi Lights Out lah yang benar-benar mengangkatnya secara harfiah. Kesegaran premis ini sayangnya tak bertahan lama. Sama seperti hantunya yang menghilang sesigap lampu dinyalakan, efektivitas Lights Out menguap dengan cepat, bahkan dengan durasi yang relatif singkat.


Film ini diangkat dari film pendek berjudul sama dari David F. Sandberg. Film pendeknya (bisa anda tonton disini) begitu efektif, berhasil menyajikan kengerian dalam karakterisasi dan durasi yang begitu terbatas (hanya 2 menit lebih), membuat kita memastikan untuk selalu membayar tagihan listrik tepat waktu. Popularitasnya memberikan kesempatan bagi Sandberg untuk memulai debut film panjang perdananya dengan bantuan James Wan (The Conjuring) yang duduk di kursi produser.

Yang menjadi fokus cerita adalah keluarga Paul pasca ia mangkat. Sang anak, Rebecca (Teresa Palmer) mendapati adik tirinya, Martin (Gabriel Bateman) terkena kasus di sekolah gara-gara sering ketiduran. Saat Martin mengungkap bahwa ia tak bisa tidur di rumah akibat gangguan dari makhluk bernama "Diana", Rebecca teringat kembali akan kenangan semasa kecilnya yang mirip, alasan yang menyebabkannya pindah meninggalkan rumah.

Rebecca mengkonfrontir ibunya, Sophie (Maria Bello) yang bertingkah aneh dan tampaknya sering berbicara dengan "Diana". Mengingat dua suaminya yang sudah lenyap dan kemungkinan nasib naas yang sama bakal menimpa Martin, saya bertanya-tanya: mungkinkah "Diana" ini adalah wujud teror kearifan lokal semacam makhluk pesugihan??! Apakah keluarganya dijadikan tumbal? Tentu saja, penulis naskah Eric Heisserer perlu memberi tambahan pada konsep orisinal dari Sandberg untuk memanjangkan plot. Cerita asal mula "Diana" memberi penonton pemahaman mengenai latar belakang sang makhluk, namun di lain sisi juga mengikis ancaman darinya.

Saya suka film horor yang mempunyai aturan, membuat kita menyalakan logika untuk mengerti kenapa sesuatu terjadi atau tidak terjadi. Agar filmnya berjalan layaknya film horor, Sandberg mengkondisikan hampir semua adegannya terjadi di tempat yang ada area gelapnya. Entah itu listrik padam, gorden yang tertutup atau ruangan dengan pencahayaan minim. Hal ini semakin menarik karena tokoh utamanya selalu mencari berbagai metode untuk mempertahankan cahaya. Namun Sandberg terkadang mencurangi aturannya sendiri, misalnya listrik mati dengan alasan yang tak masuk akal. Saya tahu ini hanyalah plot device, tapi kembali lagi, filmnya dibuat memantik nalar, sehingga cukup menganggu saat pembuat film menafikannya demi perkembangan cerita.

Permainan gelap-gelapan ini mewadahi Sandberg untuk menyajikan beberapa visualiasi yang kreatif. Kita melihat siluet mengerikan di antara pendaran cahaya. Lampu dinyalakan, siluet tadi menghilang. Lampu kembali dimatikan, ... BOOM!! Ia juga bermain-main dengan palet warna yang memberi suasana tak nyaman, seperti warna merah darah atau biru gelap. Ia tak alpa pula dengan trik generik seperti gerendel pintu yang bergerak sendiri, gedoran bersuara nyaring atau kelebatan bayangan. Sandberg jelas tak kesulitan menciptakan jump-scares, namun ia tak bisa menjaga konsistensi keseraman dalam filmnya.

Meski menaati aturan klasik film horor dimana para karakternya seringkali berbuat bodoh, Lights Out mempunyai cerita dan karakterisasi yang cukup solid. Palmer memang masih diharuskan untuk berlarian dan berteriak, namun ia adalah wanita yang mandiri dan cerdas. Bello membuat Sophie menjadi tokoh yang berjalan di garis tipis antara simpatik dan sinting. Tak banyak film horor yang sukses mengeksplorasi subtema tentang keluarga.

Bagi yang bermaksud mencari film horor kekinian yang akan mengaget-ngageti anda dengan sukses, film ini menyuguhkan jump-scares yang efektif. Sangat sangat efektif. Beberapa adegan membuat saya terhenyak (dan saya jarang sekali terhenyak saat menonton kebanyakan film horor). Namun bagi yang ingin dibuat merinding atau bergidik ngeri, Lights Out memberikan gatal yang tak bisa digaruk total. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Lights Out' |
|

IMDb | Rottentomatoes
81 menit | Remaja

Sutradara David F. Sandberg
Penulis Eric Heisserer
Pemain Teresa Palmer, Gabriel Bateman, Maria Bello

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top