0

Review Film: 'Pete's Dragon' (2016)

'Pete's Dragon' punya daya tarik yang mengingatkan saya akan dampak emosional saat pertama kali menonton 'E.T.'-nya Steven Spielberg, sekaligus alasan kenapa saya begitu mencintai film klasik Disney saat kecil dulu.

“You don't have to run anymore, Pete. You can stay with us.”
— Grace
Pete's Dragon ibarat angin sepoi yang berhembus di tengah teriknya matahari. Meski dirilis oleh Disney pada musim panas (di Amerika), filmnya terasa berbeda dari kebanyakan suguhan summer blockbusters produksi studio besar. Filmnya tenang dan tak bombastis (padahal melibatkan naga!). Ia tak hanya dibuat untuk menghibur namun juga menyentuh. Ada nuansa ketulusan yang terpancar di dalamnya.

Pete's Dragon punya daya tarik yang mengingatkan saya akan dampak emosional saat pertama kali menonton E.T.-nya Steven Spielberg, sekaligus alasan kenapa saya begitu mencintai film klasik Disney saat kecil dulu. Film ini adalah film keluarga sejati. Ia tak dibodohkan agar gampang dicerna oleh anak bawah-sepuluh-tahun dan tak dimanis-maniskan hingga membuat orang dewasa mabuk sakarin. Kesederhanaan bercerita bukan karena simplifikasi melainkan karena ceritanya memang simpel dan lurus. Plotnya minimal, bobot emosinya tidak.


Yang lebih mengagumkan adalah bagaimana David Lowery bersama Toby Halbrooks mengkreasinya dari konsep orisinal yang boleh dibilang menggelikan. Pete's Dragon versi 1977 adalah hibrid live-action/animasi 2D mengenai petualangan konyol seorang anak bersama naganya yang bisa menghilang, yang diselingi dengan iringan trek musikal. Lowery hanya mengambil konsep dasarnya. Lagu diganti dengan musik folk mellow dan naganya sekarang dibuat dengan teknologi CGI. Ia tak sekadar melakukan update, alih-alih mencipta-ulang sepenuhnya, menyoroti secara khusus tema mengenai persahabatan dan keluarga.

Lowery juga bertindak sebagai sutradara. Ia mulai dilirik sejak Ain't Them Bodies Saints mendapat debut pada Cannes Film Festival tiga tahun lalu. Sama seperti film tersebut, Lowery menggunakan visual indah nan melankolis ala-ala Terrence Malick. Ada momen dimana gambar hanya berfokus pada kesunyian hutan yang masih perawan atau awan berarak di cakrawala yang jernih. Tak hanya mengapresiasi keindahan alam, film ini juga punya subplot tentang alam itu sendiri; bagaimana eksploitasi berlebihan merusak ekosistem. Sensibilitas yang dihadirkan Lowery adalah hal yang unik untuk ukuran film konvensional Disney.

Film dimulai saat Pete yang masih berusia 5 tahun duduk di kursi penumpang sembari membaca buku berjudul "Elliot Get Lost". Rencananya ia akan piknik ke hutan, namun mobilnya tiba-tiba mengalami kecelakaan. Keduaorangtuanya tewas dan ajaibnya, Pete selamat tanpa terluka sedikitpun. Sekarang ia sendirian di hutan. Tepat saat Pete akan menjadi makan siang bagi serigala lapar, sesosok mahluk raksasa berwarna hijau datang menyelamatkannya.

Hampir senasib dengan Mowgli, enam tahun kemudian Pete (Oakes Fegley) tumbuh besar di belantara hutan bersama sang naga yang diberinya nama Elliot. Di desa terdekat, Mr. Meacham (Robert Redford) kerap bercerita pada anak-anak bahwa ia pernah bertarung melawan naga di pegunungan, kisah yang dianggap omong kosong oleh putrinya sendiri yang seorang polisi hutan, Grace (Bryce Dallas Howard). Ketika pembalakan liar mengancam tempat tinggalnya, Pete dipertemukan dengan Grace, tapi membuatnya terpisah dari Elliot. Grace beserta suami (Wes Bentley) dan anaknya (Oona Laurence) awalnya menduga mereka menyelamatkan Pete, namun bagaimana dengan nasib Elliot?

Plotnya cukup sederhana, tanpa konflik yang ribet. Bahkan karakter Karl Urban yang sedikit antagonistis karena berusaha memburu Elliot bukanlah karakter yang murni jahatnya. Film ini adalah soal kepercayaan akan keajaiban atau sinis terhadapnya. Tanpa menggunakan bumbu drama atau ketegangan berlebihan yang bisa memancing ringisan penonton, kita terlibat ke dalam ceritanya karena Lowery membuat kita larut dan peduli pada persahabatan antara Pete dan Elliot. Secara pribadi, film ini membangkitkan kembali memori saya akan peliharaan pertama saya. Damn, ninjas cutting onions.

Lowery bilang bahwa ia memutuskan memberi "bulu" pada Elliot agar naga ini lebih hug-able. Elliot diciptakan oleh studio Weta Digital. Ini mungkin tak serumit proyek mereka dalam The Lord of the Rings, tapi render wujud fisik Elliot tak kalah detil dan yang paling penting, ia terasa hidup dan menyatu dengan dunia nyata. Fegley memberikan performa yang setara dengan Neel Sethi dalam The Jungle Book. Aktor cilik ini sebagian besar harus beradu akting dengan makhluk kreasi komputer dan ia memberikan penampilan polos yang meyakinkan. Tak sedikitpun saya meragukan interaksi keduanya.

Pete's Dragon adalah film keluarga berkualitas yang sangat cocok bagi anak-anak dan tetap relatable bagi orang dewasa. Di tengah gempuran film-film hampa yang mengandalkan efek spesial, film ini adalah Elliot; makhluk langka yang punya "hati". Salah satu pesannya adalah bagaimana keajaiban mengalahkan sinisme. Kita hanya perlu percaya. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Pete's Dragon' |
|

IMDb | Rottentomatoes
102 menit | Semua Umur - BO

Sutradara David Lowery
Penulis David Lowery, Toby Halbrooks
Pemain Bryce Dallas Howard, Oakes Fegley, Wes Bentley
BAGIKAN

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top