0

Review Film: 'Train to Busan' (2016)

'Train to Busan' adalah drama dengan formula film zombie yang mempermainkan adrenalin dan mengaduk emosi.

“I'll take you to mom no matter what.”
— Seok Woo
Sebuah kereta cepat menuju Busan terkena wabah mengerikan dan para penumpang serta kru yang tersisa tak punya banyak pilihan. Mereka tak bisa tinggal di kereta, tentu saja. Namun mereka juga tak bisa berhenti dan keluar kereta, karena wabah yang sama juga melanda penjuru negeri. Train to Busan mengambil formula standar film zombie dan mengubahnya menjadi drama yang mungkin hanya bisa bekerja pada latar belakang kultural yang spesifik. Beberapa adegan paling krusial melibatkan momen sentimentil, alih-alih adegan aksi sensasional. Dalam Hollywood, cerita seperti ini bisa menjadi melodrama manipulatif yang membuat kita meringis.

Film ini bukanlah film zombie dimana para karakter utamanya membacok atau melumat kepala zombie dalam sekali hajar. Anda takkan melihat potongan tubuh atau ceceran otak (tongkat baseball tak cukup kuat untuk menghancurkan tengkorak zombie). Tentu masih ada adegan mengerikan seperti zombie yang merobek daging manusia atau puluhan zombie yang bergerombol menumpuk satu sama lain ala World War Z, tapi ini adalah mekanika plot untuk memperlihatkan bagaimana karakter yang manusiawi bertindak dalam situasi genting. Film ini mungkin adalah skenario paling mendekati seandainya wabah zombie memang benar-benar terjadi di dunia nyata.


Yang menjadi pangkal bencana adalah seorang wanita yang kondisinya jelas-jelas tak sehat, naik ke kereta di detik-detik terakhir keberangkatan, yang bahkan tak disadari penjaga gerbong. Sudah menjadi peraturan umum bahwa karakter dalam film zombie serius tak pernah menonton atau punya referensi mengenai zombie. Cara ini dimaksudkan agar kita bisa mempelajari bagaimana karakternya mempelajari perilaku zombie. Awalnya, wanita ini ingin ditolong, namun tak butuh waktu lama hingga satu gerbong berubah menjadi gerombolan mayat hidup pemakan manusia.

Plotnya melibatkan beberapa karakter. Yang paling penting adalah seorang manajer pendanaan egosentris bernama Seok-woo (Gong Yoo) yang bermaksud membawa sang anak, Su-an (Kim Su-an) berkunjung ke tempat istrinya yang hendak dicerai. Di gerbong yang sama, Sang-hwa (Ma Dong-seok) tengah berantem-berantem manis dengan istrinya yang tengah hamil, Sung-kyung (Jung Yu-mi). Satu gerbong lain dipenuhi oleh tim baseball yang diantaranya berisi dua remaja yang terlibat dalam asmara yang bertepuk sebelah tangan. Semua ini diceritakan dengan efisien oleh penulis/sutradara Yeon Sang-ho. Ia tak terburu-buru, memberi ruang bagi kita untuk terikat dengan mereka.

Sang-ho juga menuturkan penjangkitan wabah dalam eksposisi yang sederhana. Di awal film, seorang sopir truk menabrak rusa di lokasi yang katanya dikarantina karena terjadi kontaminasi kimiawi. Tanpa ia ketahui, rusa ini ternyata hidup kembali. Tak ada keributan spektakuler di jalanan, tentara yang menyerbu kota atau pejabat yang sibuk menelpon kesana-kemari. Yang kita lihat adalah rekaman video dari kanal berita, transmisi putus-putus dari stasiun lain dan orang-orang di stasiun yang berlarian panik mencoba menggapai kereta. Meski tak melihat langsung, kita sudah mendapat gambaran mencekam mengenai apa yang terjadi. Ini adalah pilihan yang bijak karena huru-hara global membutuhkan efek spesial yang kompeten dan bujet yang memadai.

Zombie disini adalah modifikasi dari 28 Days Later-nya Danny Boyle, yang membuat setiap adegan berisi zombie terasa urgen. Mereka pelari ulung. Mereka beringas. Mereka tak takut cahaya. Dan yang paling penting, mereka menyebar dengan cepat. Karakter kita kemudian mengetahui bahwa mereka juga sensitif terhadap bunyi dan hanya menyerang apa yang mereka lihat bergerak. Ada situasi dimana karakter kita harus menyusun strategi untuk melewati beberapa gerbong demi menyelamatkan orang-orang terkasih. Saya tak akan bicara lebih jauh selain taktiknya yang melibatkan lakban, ponsel hingga bagasi atas.

Tanpa mengesampingkan sekuens aksinya yang mendebarkan, Train to Busan lebih digantungkan pada karakter. Mereka bukanlah orang biasa yang mendadak menjadi superhero pembantai zombie. Mereka hanyalah orang biasa yang mencoba bertahan hidup dengan akomodasi seadanya. Ada momen dimana mereka harus memilih antara diri mereka sendiri atau orang yang mereka sayangi. Konflik terbesar adalah tentang moral dan klimaks adalah kulminasi dari semua kejadian sebelumnya. Bahkan orang paling jahat pun (Kim Eui-sang) tetaplah manusia biasa yang punya alasan tersendiri.

Seperti kebanyakan film superior dari Korea lainnya, struktur film dibuat sedemikian rupa untuk menjaga perhatian penonton. Meskipun elemen zombie-nya familiar, plotnya cerdas; membalikkan ekspektasi kita dengan poin-poin tak terduga, meski penonton yang berpengalaman boleh jadi sudah bisa menebak tokoh yang akan mati. Lumayan jarang film horor mainstream yang masih bisa mengejutkan kita melalui perkembangan plot alih-alih twist. Menulisnya disini akan mengurangi kenikmatan anda yang berencana menonton.

Saya pernah membaca bahwa kereta di Korea merupakan salah satu sarana transportasi cepat paling nyaman di dunia. Train to Busan bukanlah perjalanan nonstop tanpa turbulensi, namun ia bisa mendapatkan kembali momentum dengan segera saat lajunya melambat. Analogi yang lebih tepat mungkin adalah roller coaster; ia mempermainkan adrenalin dan mengaduk emosi. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Train to Busan' |
|

IMDb | Rottentomatoes
118 menit | Dewasa

Sutradara Yeon Sang-ho
Penulis Park Joo-suk
Pemain Gong Yoo, Kim Su-an, Jung Yu-mi

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top