0

Review Film: 'Miss Peregrine's Home for Peculiar Children' (2016)

Terkadang terlintas pemikiran bahwa dalam 'Miss Peregrine's Home for Peculiar Children', Tim Burton lebih peduli dengan konsep dan tata produksi dibanding narasi.

“If only it had been that simple.”
— Miss Peregrine
Saat membaca nama Tim Burton di atas judul Miss Peregrine's Home for Peculiar Children, kita tahu bahwa kita pasti akan memperoleh sesuatu yang istimewa dari filmnya, meskipun ini merupakan adaptasi novel young-adult (YA) populer yang notabene konsepnya begitu-begitu saja. "Tim Burton's [masukkan judul disini]" menjadi merek yang bisa dijadikan alasan untuk meredam kejenuhan kita akan adaptasi novel YA.

Tak begitu membantu ketika naskah yang ditulis oleh Jane Goldman penuh sesak, diisi dengan plot yang padat, serta banyak penjelasan dan dialog teoritis. Seringkali narasi terhenti agar karakternya memberi penjelasan pada karakter lain (dan penonton, pastinya). Sama seperti semesta YA lain, Miss Peregrine's Home for Peculiar Children mengandung mitologi yang kompleks dan bahkan setelah berbagai macam penjelasan tersebut, saya masih garuk-garuk kepala.


Bukunya (yang tidak saya baca) ditulis oleh Ransom Riggs dan disebut-sebut sebagai materi yang sangat pas dikawinkan dengan gaya eksentrik Burton. Ini tercermin jelas dalam film, entah karena novel Riggs memang seinventif itu atau sihir Burton-lah yang bekerja. Fim ini adalah film terdekat yang bisa kita dapatkan seandainya Burton menangani superhero movie (setelah Batman Returns) dengan gaya khasnya. Bayangkan X-Men versi gothic.

Burton adalah sutradara visual yang luar biasa. Jarang sekali ada sutradara yang bisa mereka semesta fantasi segamblang dan seimajinatif dia. Filmnya enak dilihat dan anda bisa dengan mudah menemukan sentuhannya yang layak dikagumi. Bagian terbaik dari film ini adalah di paruh pertama, saat kita diperkenalkan dengan dunia dan karakter yang eksentrik.

Awalnya, cerita bertempat di Florida. Jake (Asa Butterfield) adalah seorang anak yang besar dengan cerita-cerita mengenai monster dan kekuatan magis dari kakeknya, Abe (Terence Stamp). Sang kakek mengaku pernah tinggal di sebuah rumah di Wales yang dihuni oleh anak-anak dengan kemampuan istimewa. Ketika sang kakek ditemukan tewas dengan tragis, Jake ingin mencari jawaban. Meski mulanya ditentang oleh orangtuanya (Chris O'Dowd dan Kim Dickens), Jake yang mendapat sokongan dari psikiaternya (Allison Janey) berangkat menuju Wales.

Yang ditemukan Jake adalah sebuah rumah yang hancur karena dibom oleh Jerman pada Perang Dunia II. Namun ia kemudian mendapati bahwa ini adalah kamuflase. Sang pengasuh rumah, Miss Peregrine (Eva Green) ternyata adalah seorang ymbrine yang punya kemampuan untuk berubah jadi burung dan, yang lebih penting, bisa memanipulasi waktu. Rumah tersebut dan seisinya aman dalam sebuah "lingkaran waktu / time-loop" yang berulang setiap 24 jam.

Diantara para penghuni ada Emma (Ella Purnell) yang bisa melayang sehingga harus selalu memakai sepatu besi yang berat, Milllard (Cameron King) yang tak kasat mata, Enoch (Finlay McMillan) yang bisa menghidupkan benda mati dan Hugh (Milo Parker) sang manusia lebah. Ada pula anak yang bisa memproyeksikan mimpi, gadis kecil dengan mulut penuh taring di belakang kepala, si kembar dengan penutup wajah yang seram serta bocah yang lebih kuat daripada The Rock.

Atmosfer filmnya yang serius menyerempet campy seperti halnya Dark Shadows, khususnya saat kita melihat penampilan Samuel L. Jackson yang over-the-top sebagai Barron, pemimpin kaum Hollowgast yang bermaksud memburu anak-anak istimewa. Ada begitu banyak yang terjadi disini dan anda akan mendapat banyak penjelasan; teori tentang asal-usul hollowgast, teori perubahan-wujud yang melibatkan memakan bolamata (apa saya sudah bilang, filmnya tak terlalu aman bagi anak-anak?), teori tentang time-loop dan ketika di akhir Jake mencoba memanfaatkan time-loop untuk melakukan perjalanan waktu, logika saya mulai nyut-nyutan.

Peran Butterfield mirip dengan Alice-nya Wasikowska dalam Alice in Wonderland yang berfungsi sebagai kacamata untuk membawa penonton ke dalam dunia yang ajaib. Jake simpatik, tapi kepribadiannya nyaris hampa. Anak-anak istimewa tak mendapat waktu untuk berkembang sebagai karakter, selain memparadekan kemampuan mereka. Hanya ada beberapa yang terasa seperti karakter sungguhan yang lengkap dengan bobot emosi. Eva Green memberikan penampilan yang kuat sebagai Miss Peregrine yang berwibawa dan serius, tapi cocok dengan ke-campy-an semesta Burton.

Terkadang terlintas pemikiran bahwa dalam Miss Peregrine's Home for Peculiar Children, Burton lebih peduli dengan konsep dan tata produksi dibanding narasi. Dan memang sulit untuk tak mengagumi desain karakter, kostum, set dan detil lainnya. Ada adegan dimana Jake memegang Emma melalui sebuah tali layaknya layangan atau bagaimana Emma mengapungkan kapal hanya dengan tiupan napasnya (anda tak salah baca). Adegan puncak melibatkan gerombolan tengkorak yang berhuru-hara di taman bermain. Kekurangan thrill memang, tapi tetap imajinatif. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Miss Peregrinee's Home for Peculiar Children' |
|

IMDb | Rottentomatoes
127 menit | Remaja

Sutradara Tim Burton
Penulis Jane Goldman (screenplay), Ransom Riggs (buku)
Pemain Eva Green, Asa Butterfield, Chris O'Dowd

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top