0

Review Film: 'Munafik' (2016)

'Munafik' adalah 'The Exorcist Syariah' yang kuat dalam elemen horor, tapi lemah di berbagai elemen yang lain.

“Menyekutukan Allah adalah dosa paling besar.”
— Adam
Dalam membuat Munafik, saya percaya bahwa sutradara Syamsul Yusof telah mempelajari banyak film horor Hollywood. Trik menakut-nakuti dirancang dengan baik dan hasil akhirnya terlihat profesional. Selain hal tersebut, sayangnya film ini tak begitu menarik perhatian saya. Munafik adalah film horor yang kuat dalam elemen horor, tapi lemah di berbagai elemen yang lain.

Film ini merupakan film produksi Malaysia yang berhasil menjadi film terlaris sepanjang masa disana. Sempat menimbulkan kehebohan di dunia maya, saya mengerti akan daya tariknya. Film ini menggabungkan horor konvensional dengan kearifan lokal kampung halamannya. Dan karena Indonesia adalah negeri yang serumpun dengan Malaysia, saya rasa kita takkan kesulitan untuk menghubungkannya dengan latar belakang kultural yang mirip.


Kita boleh menyebut film ini sebagai "The Exorcist Syariah", karena film ini memang berfokus pada exorcism dengan unsur reliji yang kental. Salah satu adegan paling berkesan adalah proses pengusiran setan alias rukiah yang dilakukan oleh karakter utama kita, Adam (diperankan Syamsul Yusof). Adegannya sangat intens. Subyek yang dirukiah melempar kata-kata kotor (mirip Linda Blair tapi lebih santun) dan menggelinjang hingga memanjat tembok, sementara Adam melantunkan ayat-ayat Al-Quran tanpa henti, dengan ekspresi yang intens pula. Kita tak bisa mengeksekusi adegan ini tanpa membuatnya terkesan menggelikan alih-alih mendebarkan, namun Syamsul berhasil melakukannya.

Awal film berfokus pada dua orang yang alur hidupnya nanti akan saling bersilangan. Adam adalah ustad yang juga berprofesi sebagai tukang rukiah alias pengusir setan dari orang yang kerasukan. Setelah tragedi yang mengakibatkan istri tercintanya tewas, Adam bermaksud untuk vakum dari dunia pe-rukiah-an. Sementara itu, Nabila Huda bermain sebagai Maria, seorang anak petinggi adat setempat yang diganggu oleh penampakan mengerikan. Penampakan ini menjadi semakin brutal dan puncaknya, Maria dirasuki oleh makhluk tersebut. Karena tak ada lagi yang bisa membantunya, Adam akhirnya turun tangan. Meskipun awalnya berhasil, namun makhluk tersebut ternyata belum kalah. Tak hanya mengganggu Maria, ia juga mulai mengganggu Adam.

Meski konfliknya kompleks, dinamika karakternya tak terasa riil. Hubungan antara Adam dengan anaknya, Amir (Ruzlan Abdullah) dan ayahnya, Dato (Rahim Razali) tak terasa meyakinkan (mungkin karena akting keduanya yang MEH), padahal ini punya peranan yang cukup signifikan nantinya. Maria sendiri diceritakan tinggal bersama ayah kandungnya, Osman dan ibu tirinya yang masih muda, Zati (Sabrina Ali). Ada pula subplot mengenai gebetan Maria yang mencemburui Adam.

Syamsul Yusof tak hanya menyutradarai dan bermain, namun juga menulis naskah dan mengedit filmnya. Plotnya yang berlapis berisi banyak petunjuk bagi penonton yang awas dan ditutup dengan twist di penutup. Beberapa adegan yang super-disturbing (menggotong pocong dan gali kuburan, misalnya) tak hanya berfungsi sebagai pembuat syok, namun juga sebagai red-herring, mempermainkan ekspektasi anda. Pola jump scares-nya juga standar (adegan mengejutkan dengan efek suara bombastis) namun masih membuat saya terhenyak. Adegannya yang sebagian besar diambil di tempat gelap dan suram membuat saya mempertanyakan kru tata cahayanya yang mungkin bekerja santai, makan gaji buta.

Premisnya memang generik, apalagi bagi anda yang sudah familiar dengan banyak film horor. Namun Munafik ditangani dengan cara yang berbeda dari horor kekinian. Tak ada karakter yang berbuat bodoh hanya demi perkembangan alur. Film ini adalah tentang keimanan yang diuji serta perjalanan untuk berdamai dengan diri sendiri. Setiap pilihan tindakan mereka masuk akal jika ditinjau dari perspektif yang manusiawi.

Sayangnya, konsep yang menarik ini harus ternodai dengan akting yang tidak manusiawi. Pengecualian bagi Syamsul yang penampilannya lumayan bisa menangkap keraguan dan depresi Adam, film ini berisi akting dengan dramatisasi sinetronik (bedanya, yang ini minus scoring "jeng jeng" atau "cressss" khas sinetron). Dalam setiap obrolan yang berisi dialog klise, semua orang memasang ekspresi tegang. Momen inilah yang membuat saya berharap setannya segera muncul. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Munafik' |
|

IMDb | Rottentomatoes
98 menit | Remaja

Sutradara Syamsul Yusof
Penulis Syamsul Yusof
Pemain Syamsul Yusof, Nabila Huda, Fizz Fairuz
BAGIKAN

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top