0

Review Film: 'Swiss Army Man' (2016)

Saya tak perlu mengingat terlalu jauh untuk memastikan bahwa 'Swiss Army Man' termasuk ke dalam lima besar film absurd paling-receh-tapi-digarap-dengan-serius yang pernah saya tonton sejauh ini.

"If my best friend hides his farts from me then what else is he hiding from me, and why does that make me feel so alone?"
— Manny
Tunggu dulu. Biarkan saya cek sebentar. Yep. Tak salah lagi. Film ini merupakan salah satu film dengan premis terabsurd sepanjang pengalaman saya mengonsumsi film. Dan absurd-nya bukan sembarang absurd. Saya tak perlu mengingat terlalu jauh untuk memastikan bahwa Swiss Army Man termasuk ke dalam lima besar film absurd paling-receh-tapi-digarap-dengan-serius yang pernah saya tonton sejauh ini.

Jika anda pernah mendengar kabar burung bahwa Swiss Army Man adalah "farting corpse movie", burung tersebut tak salah obral omongan. Secara sederhana, Swiss Army Man adalah film tentang "mayat hidup yang kentut". Kentutnya bukan sembarang kentut. Kekuatannya mencapai 150 tenaga kuda. Namun jika anda membiarkan premis edan ini (dan kegilaan-kegilaan lain) menyerang logika anda, filmnya kemungkinan besar akan merasuk ke dalam sanubari dan menyentuh perasaan anda, karena ia punya subteks yang serius.


Ini adalah jenis film aneh yang belum pernah saya lihat sebelumnya, hingga tak bisa saya kotak-kotakkan ke dalam genre tertentu. Selera humornya akan membuat sebagian penonton girang dan sebagian lagi mendelik jijik. Komedinya intentional, tapi Swiss Army Man merupakan film serius tentang persahabatan dan kesendirian yang digerakkan oleh sepasang karakter unik yang menjalin persahabatan tak biasa.

Belumlah 10 menit film berjalan, kita sudah mendapat gambaran gamblang akan seeksentrik apa filmnya nanti. Tanpa penyebab yang jelas, diceritakan bahwa Hank (Paul Dano) terdampar di sebuah pulau setelah sekian lama. Sebagaimana terlihat dari tulisan-tulisannya di pelbagai barang-barang yang dibuangnya ke laut, Hank sudah kehilangan harapan.

Saat akan menggantung dirinya sendiri, tiba-tiba Hank melihat sesosok tubuh di pinggir pantai. Sosok tersebut adalah sebuah (seorang?) mayat, yang tampaknya sudah tak bernyawa hingga kemudian Hank menemukan bahwa mayat ini punya kentut yang spesial. Tak butuh waktu lama, kita menyaksikan Hank mengendarai mayat tersebut layaknya jetski (dengan kentut sebagai bahan bakarnya) untuk menyeberang menuju daratan.

Mayat ini (Daniel Radcliffe) diberinya nama Manny. Manny benar-benar memenuhi karakteristik "mayat hidup". Tubuh fisiknya sudah mati, namun ia bisa berinteraksi dengan Hank yang mulai mengajarinya bahasa, kehidupan sosial, asmara, lagu tema Jurassic Park hingga wanita, seks atau masturbasi. Meski secara teknis ia adalah mayat, tapi saat melihat tubuh model dalam balutan bikini, Hank punya sesuatu (atau DUA) bagian tubuh yang masih berdenyut.

Swiss Army adalah nama sebuah pisau khas serbaguna. Tak mengkhianati judulnya, Manny adalah "manusia" serbaguna. Dengan memanfaatkan bagian tubuhnya, Hank berhasil bertahan hidup di hutan, entah itu sebagai sumber air minum, membelah kayu, menyalakan api hingga kompas. Mekanismenya silakan anda tonton langsung, karena ini merupakan kesenangan tersendiri yang ditawarkan oleh filmnya.

Hank juga mengajari Manny jatuh cinta, sesuatu yang menjadi obsesi tersendiri bagi Hank. Salah satu adegan paling menarik adalah saat Hank mereka-ulang pengalaman naik bis dan mengajak Manny bertemu dengan pacar fantasinya yang diberi nama Sarah (ijinkan saya menaruh nama Mary Elizabeth Winstead disini). Dengan kreatif, Hank yang berpura-pura menjadi wanita, merancangnya menggunakan properti seadanya (alias sampah) yang ada di hutan. Apakah Manny ini benar-benar nyata atau hanya Hank saja yang kelewat stres hingga bercakap-cakap dengan mayat? Jangan dipikirkan. Tak ada logika dalam campuran manis antara komedi dan tragedi ini.

Penulis dan sutradaranya adalah "Daniels", duo yang terdiri dari Daniel Kwan dan Daniel Scheinert, yang mana merupakan kreator di balik video klip edan "Turn Down For What"-nya DJ Snake dan Lil Jon. Saya tak tahu apakah lagu itu punya makna lebih dalam, namun ada sensitivitas dalam Swiss Army Man. Scoring menyatu dengan alami terhadap film. Diisi oleh Manchester Orchestra, lagu-lagu akapela yang melankolis menjadi perantara penceritaan dan penyeimbang atmosfernya yang absurd. Disini mereka juga menunjukkan gaya visual yang unik. Kamera bergerak dinamis dan ada beberapa adegan slow-motion yang dengan efektif memberi penekanan adegan akan bobot emosional.

Dano adalah aktor yang kerap bermain sebagai karakter nyentrik yang nyaris antisosial dalam beberapa film, dan persona tersebut sangat cocok dengan karakterisasi Hank. Dengan pembawaan yang seringkali subtil, kita bisa merasakan kesendirian dan hasrat terpendamnya untuk berinteraksi dengan dunia sekitar. Mungkin menjadi peran paling memalukan sepanjang karirnya, Radcliffe bermain bagus sebagai mayat hidup (dan ini bukan ledekan). Semakin dekat hubungannya dengan Hank, Manny perlahan mulai seperti hidup kembali. Ia pula yang nantinya memberi pelajaran berharga bagi Hank melalui sindiran akan kebiasaan Hank menahan kentut. Tak setiap hari kita mendapat pesan moral yang berhubungan dengan kentut.

Sebuah film tentang filosofi kentut, Swiss Army Man juga ditutup dengan ending tentang kentut paling menyentuh sepanjang masa. Seruan "WTF" susah untuk tak terlontar. Film ini persis kentut. Kita mungkin berusaha melawannya, tapi pada akhirnya, ia tak bisa ditahan. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Swiss Army Man' |
|

IMDb | Rottentomatoes
97 menit | Dewasa

Sutradara Daniel Kwan, Daniel Scheinert
Penulis Daniel Kwan, Daniel Scheinert
Pemain Paul Dano, Daniel Radcliffe, Mary Elizabeth Winstead

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top