0

Review Film: 'Trolls' (2016)

Jika minggu ini, ada 'Doctor Strange' yang merupakan tontonan psikedelik untuk orang dewasa, 'Trolls' adalah suguhan ringan pembuat teler bagi anak-bawah-sepuluh-tahun.

“Everybody deserve to be happy.”
— Poppy
"Semua orang pantas untuk bahagia" adalah filosofi dari Trolls, film animasi terbaru dari Dreamworks. Prolog film menyebutkan bahwa Troll adalah makhluk paling bahagia di dunia. Di dunia versi ini, tampaknya hanya ada dua spesies yang punya intelegensi dan bisa berbicara dalam bahasa Inggris: (1) Troll, makhluk kecil yang selalu girang; serta (2) Bergen, makhluk raksasa (relatif, jika dibandingkan dengan Troll) yang tak tahu caranya untuk bahagia, kecuali dengan memakan troll. Yup, anda bisa menebak pesan moral filmnya tentang apa.

Trolls terinspirasi dari mainan boneka mungil dengan senyum lebar, mata bundar, dan rambut dengan warna-warni tajam yang tak proporsional dengan tubuh mereka, yang mana (katanya) sempat populer di era 90-an. Penampakan boneka aslinya mungkin akan membuat takut anak/adik anda dan anda mungkin harus menjelaskan subteks kanibalisme dalam filmnya. Namun percayalah, film ini ditujukan khusus untuk anak-anak. Film ini dicat dengan spektrum palet warna yang disaturasi maksimal, yang mungkin menusuk mata bagi orang dewasa, tapi saya yakin akan membuat candu anak/adik anda.


Diceritakan bahwa Troll selalu hidup bahagia dengan menari, menyanyi dan berpelukan sampai akhirnya mereka ditemukan oleh kaum Bergen. Para Bergen tak pernah merasa bahagia dan satu-satunya cara bagi mereka untuk mendapatkan hal tersebut adalah dengan melakukan ritual memakan Troll yang mereka kurung di sebuah kerangkeng pohon yang dinamakan Pohon Troll. Namun saat ritual akan dimulai, Troll yang dipimpin oleh Raja Peppy (Jeffrey Tambor) berhasil kabur melalui terowongan bawah tanah, tepat ketika pangeran Bergen, Gristle Jr. (Christopher Mintz-Plasse) akan mencicip Troll pertamanya.

Selama dua puluh tahun kemudian, Troll hidup damai (dan bahagia!) di persembunyian. Putri Raja, Peppy (Anna Kendrick) berencana mengadakan pesta besar yang ditentang oleh satu-satunya Troll skeptis, Branch (Justin Timberlake) karena takut bakal ketahuan oleh Bergen. Branch memang perusak pesta, tapi prediksinya benar, karena koki kerajaan Bergen (Christine Baranski) sudah bersiap untuk menculik Troll dan menghidangkannya bagi Pangeran Gristle.

Troll yang tersisa tak berani menolong teman-teman mereka, termasuk Raja Peppy yang sudah tua. Untunglah Peppy berhasil mengajak Branch untuk menemaninya melakukan misi yang boleh dibilang bunuh diri: mereka akan menyusup ke kota Bergen. Disini mereka bertemu dengan Bridget (Zooey Deschanel) yang merupakan tukang cuci piring dari koki kerajaan Bergen. Peppy dan Branch tahu bahwa tak mungkin mengalahkan kaum Bergen, alih-alih mereka berusaha membuat kaum Bergen tahu arti kebahagiaan tanpa perlu menelan Troll, dimana salah satu caranya adalah dengan membuat Pangeran Gristle jatuh cinta pada si upik abu Bridget.

Animasinya sendiri unik, dimana tekstur karakter dan latar belakangnya didesain sehingga mirip dengan kain dan boneka sungguhan. Meski filmnya ini tak punya mitologi, dimana dunianya hanya eksis demi mekanika plot (dan pesan moral!), saya mengagumi tim desain produksi yang merancang set-nya dengan gamblang. Terowongan bawah tanah, desa Troll, kota Bergen, hingga bunker rahasia Branch dibuat layaknya arena permainan.

Trolls adalah animasi musikal pertama yang dikerjakan studio Dreamworks dan untuk itu mereka menggandeng Justin Timberlake sebagai Executive Music Producer. Treknya variatif, berisi lagu jaman dulu hingga kekinian; kita akan mendengar "Hello"-nya Lionel Richie, "The Sound of Silence"-nya Simon & Garfunkel, "Clint Eastwood"-nya Gorillaz serta lagu barunya Justin Timberlake, "Can't Stop the Feeling!". Anak-anak mungkin tak kenal siapa Simon & Garfunkel atau Earth, Wind & Fire, tapi mereka pasti menikmati lagu-lagu tersebut yang dikemas dengan musik pop masa kini yang langsung dinyanyikan sendiri oleh pemainnya.

Trek musikal tersebut disajikan layaknya klip video ekstastik yang menembus batas imajinasi dan skeptisme orang dewasa, yang entah bagaimana bisa dikreasi oleh sutradara Mike Mitchell dan Walt Dohrn. Hmm, bahkan filmnya sendiri adalah trippy adventure yang mengingatkan saya pada serial animasi Cartoon Network, Adventure Time. Desain masing-masing karakter Troll unik dan mudah dibedakan satu sama lain. Troll bisa memanjangkan rambut menyilaukan mereka tanpa batas, dengan warna yang bisa berubah pula. Karakter paling absurd adalah Manusia Awan (ia bukan manusia) yang secara literal adalah sebuah awan dengan tampilan lengkap wajah, tangan dan kaki yang memakai sepatu joging. Jika minggu ini, ada Doctor Strange yang merupakan tontonan psikedelik untuk orang dewasa, Trolls adalah suguhan ringan pembuat teler bagi anak-bawah-sepuluh-tahun.

Film ini lucu, imut, dan energik, tapi tawa saya tak terpancing dengan leluconnya yang levelan anak-anak. Pun demikian, absurditasnya cukup meracuni pikiran saya dan dialog yang diisi permainan kata (lebih mengena jika anda mendengarkan sulih suara versi bahasa Inggris) membuat saya tersenyum beberapa kali. Trolls takkan menyentil logika atau menyentuh perasaan anda layaknya animasi Pixar. Saya yakin filmnya khusus ditujukan untuk anak-anak... serta untuk menjual soundtrack dan mainan. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Trolls' |
|

IMDb | Rottentomatoes
92 menit | Semua Umur

Sutradara Mike Mitchell, Walt Dohrn
Penulis Jonathan Aibel, Glenn Berger, Erica Rivinoja
Pemain Anna Kendrick, Justin iTmberlake, Zooey Deschanel

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top