0

Review Film: 'Kubo and the Two Strings' (2016)

Film ini kaya secara visual, hingga saya dibuat bertanya, “Bagaimana mereka melakukannya?!” berkali-kali.

“Magic was never meant to be easy.”
— Kubo
Itu yang diucapkan oleh karakter utama kita, Kubo di satu kesempatan dalam Kubo and the Two Strings. Namun kalimat ini saya yakin juga merupakan curcol sekaligus pamer dari pembuat filmnya. Mereka curhat bahwa film ini tak dibuat dengan gampang, yang kemudian menghasilkan produk akhir yang magis. Dengan animasinya yang luar biasa detail dan memanjakan mata, film ini menyuguhkan sihir langka dari semesta sinema, yaitu membawa kita ke dunia baru yang belum pernah kita kunjungi. Kita belum pernah menyaksikan film seperti ini. Plot poinnya relatif familiar, meski begitu, semua terkesan sangat baru dan segar.


Filmnya merupakan animasi stop-motion dimana, seperti yang kita tahu, karakter dan latarnya dibuat satu persatu secara nyata dalam ukuran mini, digerakkan perlahan-lahan lalu diambil gambarnya frame perframe, kemudian disatukan sehingga menjadi gambar yang terlihat bergerak. Pembuatnya adalah studio Laika yang sebelumnya baru merilis 3 animasi stop-motion (Coraline, Paranorman, The Boxtrolls), tapi ketiganya sukses menjadi nomine Oscar. Yang ini pun tak mungkin tak masuk, karena Kubo and the Two Strings adalah animasi mereka yang paling epik dan terbaik sejauh ini.

Animasinya mulus, semestanya punya tekstur tinggi, dan ceritanya intim. Filmnya mengambil tempat di Jepang lawas yang akrab dengan mitologi dewa-dewa dan kekuatan sakti. Latar ini mengijinkan filmnya menampilkan visual dan setpieces yang tak biasa. Kita akan melihat karakter unik dengan kostum etnik khas dan makhluk-makhluk aneh dari mitologi Jepang. Anak-anak, waspadalah, karena sama seperti film Laika sebelumnya, tak semua mahkluk dalam film mereka lucu. Seringkali mengerikan, tapi yang pasti suguhan segar untuk mata.

Kubo (Art Parkinson), seorang anak samurai legendaris bernama Hanzo, adalah anak yang mandiri. Setiap hari, ia pergi ke kota dan mengamen menceritakan dongeng dengan menggunakan shamisen. Shamisen alias gitar khas Jepang ini spesial, karena bisa membuat boneka origami yang dibawa Kubo hidup dan bergerak sendiri. Namun ini tampaknya bukan hal yang mencegangkan di kota tersebut, sebab Kubo tak sampai jadi seleb. Di malam hari, Kubo merawat ibunya yang tinggal di gua di pinggir laut. Ibu Kubo sakit keras dan ingatannya samar-samar, tapi selalu mengingatkan Kubo supaya jangan keluar malam.

Tentu saja, suatu hari Kubo melanggar larangan tersebut. Ini mengungkap sebuah konflik keluarga yang baru diketahui Kubo. Ternyata Kubo dan ibunya diburu oleh dua tantenya (Rooney Mara) yang diutus oleh sang kakek, si Raja Bulan (Ralph Fiennes). Mereka mengincar satu mata Kubo yang tersisa demi mendapatkan kekuatan sihir mandraguna. Dengan menggunakan sisa-sisa kekuatannya, ibu Kubo berhasil menyelamatkan Kubo.

Dari sini, kita diajak untuk mengikuti petualangan Kubo dalam perjalanan khas jagoan. Untuk mengalahkan Raja Bulan, ia harus menemukan tiga artifak kuno, yaitu Zirah Tak Tertembus, Pedang Tak Terpatahkan, dan Helm Tak Terkalahkan. Yang menemani perjalanannya adalah jimat monyet yang kerap dibawanya yang kemudian hidup beneran menjadi Monyet (Charlize Theron) yang bisa bicara. Di tengah perjalanan, mereka akan bertemu dengan manusia kumbang Beetle (Matthew McConaughey) yang mengaku sebagai murid Hanzo. Monkey yang superserius adalah pasangan yang kocak bagi Beetle yang ngocol.

Perjalanan ini akan mengungkap banyak hal bagi Kubo, termasuk masa lalu keluarga yang membuat ibunya trauma serta kenyataan tentang ayahnya. Meski merupakan film keluarga, animasi ini adalah dongeng yang cukup kelam. Orang-orang akan mati, yang ditinggalkan akan kehilangan, dan Kubo harus cukup kuat untuk melanjutkan hidup. Di satu titik, Kubo harus menerima kenyataan bahwa kematian adalah bagian dari hidup. Bagi anak-anak yang masih sangat-sangat muda, ini dan beberapa makhluk aneh dari filmnya mungkin akan membuat mereka takut. Film ini lebih cocok untuk — dan akan lebih diapresiasi oleh— anak-anak yang sudah cukup besar. Plotnya menyentuh tema yang dalam dan kompleks daripada animasi anak-anak biasa.

Pembuatnya adalah bos Laika, Travis Knight yang baru pertama kali memegang kendali sebagai sutradara, namun tampaknya sudah banyak belajar dari film Laika yang lalu. Lewat film ini, Travis dan Laika menetapkan standar baru bagi animasi stop-motion. Animasinya luar biasa mulus dan detail layaknya animasi 3D biasa, kita seringkali lupa bahwa ini dibuat dari rekayasa kompeks antara keterampilan tangan dan desain canggih action-figures mini. Karena ini juga film aksi dimana Kubo harus bertarung di sepanjang perjalanannya, maka ada beberapa sekuens aksi. Sebagian besarnya melibatkan monster, diantaranya tengkorak raksasa, monster mata bawah air, sampai kelabang siluman. Yap. Mereka membuat sekuens aksi stop-motion ber-setting bawah air, sementara tengkorak raksasa adalah boneka stop-motion terbesar yang pernah dibuat, dan setiap buku-buku kulit kelabang dirender dengan detail. Mereka seolah membuktikan bahwa animasi stop-motion pun tak punya batas.

Saya bisa menonton film ini berkali-kali dan menemukan detail baru di setiap sudut setiap kali menonton. Film ini kaya secara visual, hingga saya dibuat bertanya, “Bagaimana mereka melakukannya?!” berkali-kali. This is a magic indeed. Sihir ini adalah hasil dari imajinasi dan kerja keras. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Kubo and the Two Strings

102 menit
Semua Umur - BO
Travis Knight
Marc Haimes, Chris Butler
Travis Knight, Arianne Sutner
Dario Marianelli

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top