0

Review Film: 'Under the Shadow' (2016)

'Under the Shadow' mempunyai latar belakang sosial dan politis yang begitu kuat hingga konteksnya meresap ke dalam cerita, terlepas dari kengerian setannya.

“Dead people can't dream.”
— Shideh
Walau dibangun dengan formula yang familiar dimana menceritakan tentang seorang ibu yang harus melindungi anaknya dari kekuatan supranatural misterius, Under the Shadow punya kekhasan yang membuatnya berbeda dibanding film horor bertema serupa. Film ini mempunyai latar belakang sosial dan politis yang begitu kuat hingga konteksnya meresap ke dalam cerita, terlepas dari kengerian setannya. Atmosfernya yang tak nyaman memberikan intensitas tersendiri, membuat para karakternya (dan kita, penonton) tegang sepanjang waktu. Teror dari dunia gaib tak lebih berbahaya daripada di dunia nyata.

Dibuat oleh sutradara debutan Iran Babak Anvari, setting-nya adalah Teheran di tahun 1988. Film dibuka dengan teks yang menyatakan bahwa Iran dan Irak tengah terlibat dalam perang konvensional (yang katanya) terlama sepanjang abad 20. Semua orang dilanda kepanikan akan perang. Sirine meraung sewaktu-waktu, rudal meledak dimana-mana. Ini bukanlah waktu yang tepat bagi setan untuk muncul dan mengganggu Shideh (Narges Rashidi) dan anak gadisnya, Dorsa (Avin Manshadi) di apartemen tempat tinggal mereka.


Dikarenakan situasi semakin tak kondusif, tetangga Shideh satu persatu meninggalkan apartemen tersebut. Lalu kenapa pula Shideh bersikeras tak mau pergi dari sana? Shideh bukanlah wanita bodoh khas horor kekinian yang manut saja digentayangi dedemit. Alih-alih, ia adalah wanita cerdas dengan harga diri tinggi. Ia ingin membuktikan sesuatu, pada suaminya dan dirinya sendiri. Alasan itu yang membuatnya bertahan, well, sampai ia tak tahan.

Mulanya, Under the Shadow tak bermain seperti film horor melainkan drama keluarga. Anvari membangun karakter Shideh dan keluarganya secara total, menghabiskan sepertiga durasi. Di awal film kita melihat Shideh yang ditolak untuk melanjutkan pendidikan gara-gara keterlibatannya dulu dalam aksi pemberontakan mahasiswa. Ia harus mengubur cita-cita menjadi dokter dan tak punya pilihan selain menjadi ibu rumah tangga. Sang suami (Bobby Naderi) adalah seorang dokter yang kemudian dikirim ke medan perang.

Shideh tak mengindahkan anjuran suaminya untuk mengungsi ke rumah mertuanya. Tidak pula saat sebuah misil berukuran besar mendarat di lantai atas kamar apartemennya. Misil ini belum meledak, tapi tentu saja membuat ngeri penghuninya. Namun, keanehan mulai terjadi. Barang-barang di apartemennya mulai menghilang; yang paling kentara adalah boneka milik Dorsa, yang ujung-ujungnya membuat Dorsa menyalahkan sang ibu.

Apakah benar-benar ada hantu disana? Atau ini hanya paranioa Shideh dan Dorsa? Kita tak bisa sepenuhnya yakin. Anvari memainkan kartu horornya ini dengan ambigu. Terornya nyata, tapi mungkin ini hanya kondisi psikologis dari ibu yang tertekan. Atau bukan. Dengan set yang sebagian besar hanya di apartemen, Anvari menciptakan atmosfer yang luar biasa tak mengenakkan. Hal klenik sepertinya kental menyelimuti apartemen. Dari tetangga, Shideh mendengar bahwa semua adalah ulah Djin; makhluk halus yang bergerak bersama angin, yang semakin kuat berkat rasa takut. Skeptisismenya terhadap takhayul mulai luntur.

Metode menakut-nakutinya tak inovatif, entah itu kelebatan bayangan atau penampakan yang muncul tiba-tiba dengan suara kencang. Namun Anvari menahan diri untuk menampilkan penampakan secara berlebihan dan dengan efisien menempatkannya di momen yang tepat. Kengerian lebih banyak ditimbulkan berkat pembangunan suspens dengan penggunaan efek suara yang membuat bergidik atau gerakan kamera yang tak biasa. Oh, kita takkan melihat wujud setannya — yang dibuat dengan practical effects— hingga klimaks. Nuansanya yang klaustrofobik dan sepi membuat setiap sudut kamar, anak tangga, terlebih retakan di langit-langit tampak lebih menyeramkan.

Dikarenakan filmnya peduli dengan pembangunan karakter, kita terikat dengan mereka dan mengerti setiap keputusan yang mereka ambil. Kita tahu kenapa Dorsa tak mau meninggalkan apartemen kecuali bonekanya ditemukan, kita juga mengerti kenapa Shideh setengah mati mencari boneka tersebut. Inti dari film ini adalah hubungan antara keduanya dan Rashidi serta Manshadi memainkannya dengan meyakinkan. Mereka sering bersitegang, namun tetap saling menyayangi.

Film ini juga mengandung pesan feminisme yang kuat dan sekaligus (mungkin) satire terhadap kondisi Iran pasca revolusi budaya. Suami Shideh adalah kepala keluarga yang perhatian, tapi kita bisa melihat kelegaannya saat Shideh terpaksa tinggal di rumah dan berhenti berkarir. Ketika Shideh yakin akan adanya Djin di apartemen, ia membawa anaknya kabur, namun kemudian ditangkap dengan tuduhan keluar rumah tanpa jilbab. Bahkan polisi lebih peduli urusan pakaian dibanding teror yang mereka alami. Telepon dari setan yang menyaru sebagai sang suami, meneriakinya sebagai "ibu dan istri tak berguna", jadi mungkinkan Djin hanya pengejawantahan dari tekanan batin Shideh?

Saya sangat menyukai bagaimana Anvari berhasil menggabungkan drama domestik, horor dan subteks sosial dengan mulus. Film ini juga punya usaha pembangunan suspens yang kompeten, yang membuat saya merinding di banyak kesempatan. Namun mengingat payoff yang inferior dari setiap buildup-nya, saya ragu apakah film ini akan dinilai menarik oleh pencinta horor. You know, kalangan yang mencari sesuatu untuk menakut-nakuti dan membuat mereka berteriak ngeri. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Under the Shadow' |
|

IMDb | Rottentomatoes
84 menit | Dewasa

Sutradara Babak Anvari
Penulis Babak Anvari
Pemain Narges Rashidi, Avin Manshadi, Bobby Naderi

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top