0

Review Film: 'Assassin's Creed' (2016)

Melalui keterampilan sang sutradara yang berhasil mengkreasi adegan yang di atas kertas terlihat absurd dalam 'Macbeth' menjadi momen berkelas, 'Assassin’s Creed' adalah film gaje yang stylish.

“Nothing is true. Everything is permitted.”
— Callum Lynch
Para pembuat film di belakang Assassin’s Creed punya nyali yang besar dalam mengadaptasi salah satu game populer keluaran Ubisoft ini. Alih-alih membuatnya ringan untuk dikonsumsi bagi penonton mainstream, mereka menjadikan film ini sebagai film yang sangat serius, dengan sentuhan puitis dan filosofis ala Macbeth, kolaborasi sebelumnya antara sang sutradara Justin Kurzel dengan Michael Fassbender dan Marion Cotillard. Mereka seolah-olah tak tahu —atau mungkin tahu tapi tak mau ambil pusing— bahwa penonton butuh koherensi.

Saya rasa pengalaman memainkan game-nya tak terlalu banyak membantu dalam memahami filmnya (well, tak ada yang bisa sebenarnya), mungkin pengecualian bagi anda yang punya frekuensi logika yang sama dengan Michael Lesslie, Adam Cooper dan Bill Collage yang menulis naskah. Ada banyak dialog berisi eksposisi, namun hanya sedikit sekali yang masuk akal. Di sebagian besar durasi, saya tak tahu apa yang para karakter bicarakan.


Pernah beberapa kali memainkannya, gameplay Assassin’s Creed adalah tentang meloncati bangunan dan membunuhi musuh. Dan dalam konteks ini, melalui keterampilan sang sutradara yang berhasil mengkreasi adegan yang di atas kertas terlihat absurd dalam Macbeth menjadi momen berkelas, Assassin’s Creed adalah film gaje yang stylish.

Melalui prolog diceritakan bahwa selama ratusan tahun perkumpulan rahasia bernama Ksatria Templar mencari Apel Eden (?), sebuah pusaka kuno yang katanya bisa menghapuskan kehendak bebas (jangan bertanya!). Jika kehendak bebas lenyap, tendensi manusia akan kekerasan juga ikut musnah, dan manusia akan hidup teratur di bawah pemerintahan totaliterian Ksatria Templar.

Fassbender bermain sebagai dua karakter berbeda dari dua linimasa. Yang pertama adalah Cal Lynch, seorang kriminal yang akan dieksekusi dengan suntikan maut di penjara Texas tapi malah terbangun di pusat penelitian mencurigakan milik Abstergo Industries di Madrid. Sophia (Cotillard) memberitahu bahwa ia dan peneliti lain (termasuk ayahnya yang diperankan oleh Jeremy Irons) tengah melakukan riset dengan alat bernama Animus yang berfungsi untuk membangkitkan memori leluhur. Jujur saja, misi mereka sebenarnya adalah untuk mencaritahu keberadaan Apel Eden.

Leluhur dari Cal ternyata adalah Aguilar (juga diperankan oleh Fassbender), anggota dari Assassin’s Creed yang merupakan musuh bebuyutan Ksatria Templar. Animus memfasilitasi Cal untuk kembali ke masa lalu, merasakan pengalaman leluhurnya tersebut (bayangkan game virtual reality). Saat itu adalah tahun 1492, dimana para Assassin bertugas untuk memastikan agar Apel Eden tak direbut oleh Ksatria Templar.

Tentu saja, bagian cerita Aguilar jauh lebih menarik dibanding masa kini. Bagian ini melibatkan sekuens aksi yang menjadi ciri khas game-nya, mulai dari kejar-kejaran seru, parkour ria di atas atap hingga bunuh-bunuhan dengan belati. Aguilar dan rekannya, Maria (Ariane Labed) mahir berlari dan meloncat. Ada adegan dimana mereka berjungkir balik di atas kereta kuda yang tengah melaju kencang. Kameranya bergerak dengan lincah hingga sulit untuk mengerti detilnya, namun ini terlihat keren. Kurzel menghadirkan atmosfer yang tak kalah suram dibanding Macbeth, namun ia tahu cara mengambil sekuens aksi yang dinamis meski di beberapa bagian terlihat terlalu energik. Desain set dan efek spesial memberikan visual abad pertengahan yang enak dipandang.

Cal bukanlah satu-satunya objek penelitian disana. Ada sebuah ruangan yang berisi puluhan objek lain (dimana salah satunya adalah Michael K. Williams) dan satu ruangan lagi yang berisi objek gagal. Di beberapa titik, kita membutuhkan penjelasan dan film tak memberikannya dengan memuaskan. Linimasanya yang bolak balik, beberapa kali membunuh momentum. Di satu adegan yang mereferensikan adegan ikonik di game, Aguilar melakukan sebuah aksi menantang maut dan cerita berpindah dengan spontan pada Cal di masa kini. Apakah ia selamat? Tentu saja. Tapi bagaimana caranya?

Film ini memang terlihat sebagai pilihan yang aneh bagi Kurzel dan Fassbender, dan semakin aneh ketika keduanya memberikan usaha yang maksimal. Begitu pula dengan aktor lain yang kapasitasnya bukan main-main (Brendan Gleeson, Charlotte Rampling), yang berkomitmen membawakan dialog dengan ekspresi intens senonsens apapun itu. Momen yang tepat di tengah film ketika Fassbender mendengar info mengenai segala macam konflik antara Templar vs Creed lantas berujar “What the f__’s going on here?”; kalimat yang juga mewakili kegusaran penonton akan elemen plot film yang tak jelas. Bagus saat keterampilan filmmaker terpampang di filmnya, but Assassin’s Creed really needs to chill the f__ out. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Assassin's Creed' |
|

IMDb | Rottentomatoes
115 menit | Remaja

Sutradara Justin Kurzel
Penulis Michael Lesslie, Adam Cooper, Bill Collage
Pemain Michael Fassbender, Marion Cotillard, Jeremy Irons

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top