0

Review Film: 'The Girl on The Train' (2016)

Pengungkapan di akhir tentu saja akan menjawab semua pertanyaan di awal, namun ketika sampai disini, suspens sudah terlucuti dan saya sudah lelah.

“I need to remember.”
— Rachel
Saya rasa pengenalan mendasar mengenai ciri dan sifat karakternya saja sudah cukup bagi kita untuk memahami bagaimana pengungkapan di akhir dari adaptasi novel populer karya Paula Hawkins ini bekerja. Saya mungkin melewatkan sesuatu, tapi elemen plot selain dua hal tersebut tak memberi pengaruh yang signifikan secara naratif bagi film The Girl on the Train.

Saya bisa membayangkan bagaimana Hawkins yang pasti gusar saat orang-orang membandingkan karyanya tersebut dengan novel populer dari Gillian Flynn, Gone Girl. Itu mungkin pujian, namun dalam hukum perbandingan, yang dibandingkan selalu menjadi nomor dua. Sang sutradara The Girl on the Train, Tate Taylor tak perlu mendapatkan kegusaran serupa karena filmnya ini jauh lebih inferior dibanding adaptasi Gone Girl-nya David Fincher. Sebagai thriller whodunit, filmnya nyaris tanpa suspens dan sebagai intrik psikologis, karakternya datar.


“The girl on the train” adalah Rachel (Emily Blunt), seorang alkoholik yang menghabiskan waktunya setiap pagi dan malam untuk bolak-balik naik kereta. Sembari menenggak miras, Rachel suka berfantasi mengenai kehidupan keluarga yang sempurna, yang mana dulu pernah ia miliki sebelum sang suami, Tom (Justin Theroux) menceraikannya dan menikah lagi dengan Anna (Rebecca Ferguson).

Obsesi ini membuat Rachel suka mengintip (dari kereta, tentu saja) satu lagi pasangan sempurna, Megan (Haley Bennett) yang seksi dan suaminya yang super macho, Scott (Luke Evans) bercumbu di balkon rumah. Nah kebetulan, pasangan ini tinggal di sebelah rumah Anna dan Megan adalah babysitter-nya anak Anna.

Suatu hari, Rachel melihat Megan berciuman dengan pria lain. Apakah Megan selingkuh? Rachel sendiri tak yakin sebab ia separuh mabuk. Karena tak punya hal lain yang lebih penting untuk dikerjakan, tentu saja Rachel menguntit Megan di taman dan... ia pingsan dan tak ingat apa-apa, hingga seorang detektif (Allison Janey) mengabarkan bahwa Megan sudah menghilang.

Rachel percaya ia punya peranan penting di waktu kejadian. Mungkinkah pelakunya adalah terapis (Edgar Ramirez) yang menjadi selingkuhan Megan? Atau malah dirinya sendiri? Penulis naskah Erin Cressida Wilson menggunakan struktur narasi yang sama dengan novelnya. Kita dibawa meloncat ke beberapa bulan yang lewat, beberapa hari yang lalu dan masa sekarang secara tak beraturan untuk membuat semua menjadi lebih rumit. Film ini juga menggunakan 3 sudut pandang dari 3 tokoh wanita yang menyedihkan ini, namun benang merahnya tetap ada di Rachel.

Saya yakin pendekatan naratif seperti ini bertujuan untuk mempermainkan perspektif penonton. Saat sang narator tak bisa diandalkan, kita tak tahu apa dan siapa yang harus dipercaya, apalagi saat mereka bertiga punya rahasia masing-masing. Namun Taylor tak menyuguhkan alurnya dengan mulus, membuat disorientasi naratif ini menjadi membingungkan dan menjemukan. Alih-alih seperti kepingan puzzle yang perlahan terangkai, narasinya terkesan terputus-putus. Karakter Evans dan Ramirez misalnya, terasa tiba-tiba menghilang di tengah film dan mendadak muncul di lain waktu.

Belum membaca novelnya, saya hanya bisa berasumsi bahwa materi ini mengalami pemangkasan agar sesuai dengan film berdurasi 112 menit, termasuk detil karakter. Kekurangan setiap karakter atau bagaimana mereka melihat “rumput tetangga yang selalu lebih hijau” mungkin dimaksudkan untuk menarik empati kita. Namun di dalam film, Taylor mengkompensasi kosongnya karakterisasi dengan overdramatisasi, mengkondisikan agar mereka mengemis perhatian penonton. Kita hanya menyaksikan kehidupan mereka terbuka seperti menonton sinetron. Dan ini sayang sekali, mengingat Blunt yang tampil habis-habisan sebagai seorang wanita kompleks yang menderita lahir batin.

Pengungkapan di akhir tentu saja akan menjawab semua pertanyaan di awal, namun ketika sampai disini, suspens sudah terlucuti dan saya sudah lelah. Jika melihat momen penutup yang tak sesuram apa yang dijanjikan, saya rasa esensi The Girl on the Train bukanlah tentang whodunit, melainkan bagaimana wanita-wanita yang menderita ini keluar dari jati diri palsu mereka yang didefinisikan oleh pria. Lihat bagaimana dua di antara mereka membentuk semacam koalisi di akhir. Oh, tapi kita sudah tak peduli lagi dengan mereka. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'The Girl on the Train' |
|

IMDb | Rottentomatoes
112 menit | Dewasa

Sutradara Tate Taylor
Penulis Erin Cressida Wilson (screenplay), Paula Hawkins (buku)
Pemain Emily Blunt, Rebecca Ferguson, Haley Bennett
BAGIKAN

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top