0

Review Film: 'Rogue One: A Star Wars Story' (2016)

'Rogue One: A Star Wars Story' tidak ramah pada anak baru seperti halnya 'Star Wars: The Force Awakens'.

“I am with the Force. The Force is with me.”
— Chirrut
Peringatan bagi yang tak mau kena spoiler. Saya akan menuliskan sinopsis lengkap Rogue One: A Star Wars Story dalam satu kalimat: sekelompok pemberontak berusaha mencuri cetak biru Death Star, senjata pemusnah massal berbentuk planet mini dan mereka berhasil mendapatkannya di akhir.

Eh tapi seriusan. Apakah bagi anda kalimat tadi adalah spoiler? Jika anda telah menonton saga space opera populer bernama Star Wars (poin plus jika sudah menonton semua filmnya), maka jawabannya adalah “tidak”. Namun jika “iya”, maka saya akan meresepkan dua hal: (1) anda harus segera menontonnya sekarang; (2) Rogue One bukan untuk anda, karena film ini ditujukan khusus untuk penggemar. Iya, Rogue One tidak ramah pada anak baru seperti halnya Star Wars: The Force Awakens.


Secara teknis, film ini mencoba tampil berbeda dari film Star Wars biasanya; tak ada teks merayap di awal film, tak ada lagu tema ikonik dari John Williams, tak ada Jedi, tak ada adu perang laser, dan ironisnya, tak ada urgensi serta (nyaris) tak ada keseruan yang biasanya saya dapatkan dari menonton film-film Star Wars. Film ini, pun demikian, akan menjawab dengan konkrit keresahan sebagian fans yang komplain dengan pembuka film Star Wars: A New Hope dan bertanya: dari mana Princess Leia mendapatkan cetak biru Death Star? Kenapa pula Death Star yang mahamegah punya kelemahan seupil yang membuatnya gampang meledak?

Rogue One merupakan film pertama dari antologi (yang rencananya berisi tiga film) yang akan mengisi selang waktu antara episode utama dari trilogi baru Star Wars. Linimasanya mengambil waktu antara Episode III: Revenge of the Sith (dirilis tahun 2005) dan Episode IV: A New Hope (dirilis tahun 1977), jadi kita bolehlah menyebutnya sebagai Star Wars Episode III.V.

Di masa ini, galaksi sudah dikuasai oleh Kekaisaran. Setelah dibuka dengan prolog khas Star Wars, dimana kita akan disuguhkan dengan kekejian pasukan Kekaisaran (kali ini dari Komandan Krennic yang diperankan oleh Ben Mendelsohn), kita akan bertemu dengan protagonis utama kita, Jyn Erso (Felicity Jones). Ayahnya adalah Galen (Mads Mikkelsen), seorang ilmuwan yang dipaksa oleh Krennic untuk merancang Death Star. Bahkan dengan kausal yang demikian, Jyn tak merasa perlu (lebih tepatnya, merasa sia-sia) untuk menentang Kekaisaran. Hingga kemudian, Pasukan Pemberontak mengutus Cassian (Diego Luna) untuk mempersuasinya.

Seorang pilot Kekaisaran yang membelot, Bodhi (Riz Ahmed) membawa pesan dari Galen yang membuat Jyn sadar bahwa sang ayah bukanlah pengkhianat seperti yang dituduhkan Pemberontak, alih-alih malah telah mempersiapkan satu kelemahan fatal bagi senjata rancangannya. Tak ada formalitas tentang bagaimana mereka membentuk kelompok, namun saat Dewan Pemberontak tak percaya dengan pesan Galen, Jyn beserta rekan-rekan barunya berjuang sendiri untuk mencuri cetak biru yang disimpan dengan ketat.

Rogue One secara moral lebih berat dan punya risiko emosional yang lebih besar, karena ada kans besar dimana filmnya tak ragu untuk mematikan karakter-karakter protagonis yang punya latar belakang menarik. Film ini bermain ala The Magnificent Seven atau The Wild Bunch yang berisi karakter yang bervariasi. Sebagai tambahan dari Cassian dan Bodhi, ada Chirrut (Donnie Yen, tampil keren di satu adegan pertarungan yang memamerkan kelihaiannya dalam martial arts) pendekar buta yang terobsesi dengan “Force” serta rekannya Baze (Jiang Wen). Ada pula Forest Whitaker sebagai Saw Gerrera, pimpinan pemberontak ekstrimis (apapun artinya itu).

Mereka sayangnya tak punya karisma dan chemistry satu sama lain, sebagian besar alasannya karena film tak begitu memberi mereka kesempatan untuk bersinar. Jika Rey dan Finn dari The Force Awakens terlihat menjanjikan sebagai calon idola baru setelah Luke, Leia dan Han Solo, maka Rogue One berisi terlalu banyak karakter yang terlalu sedikit diperhatikan oleh naskah yang ditulis oleh Chris Weitz dan Tony Gilroy. Yang mencuri perhatian adalah K-2SO (diperankan oleh Alan Tudyk), droid yang lebih bisa diandalkan dibanding R2-D2 dan lebih kocak dibanding C-3PO.

Penulis naskah tampaknya lebih fokus menjalin benang merah untuk menemukan cara yang manis demi menghubungkan filmnya dengan saga utama. Tentu saja, akan ada banyak cameo. Kita juga akan diingatkan lagi betapa mengerikannya serangan Death Star melalui sekuens awal yang dikreasikan dengan spektakuler. Ciptaan terbesar dari film ini adalah dengan menghidupkan kembali Komandan Tarkin yang tampak begitu natural hingga anda mungkin tak menyangka bahwa pemerannya, Peter Cushing telah meninggal pada 1994. Dan jika ada Tarkin, pastinya ada Darth Vader (masih disuarakan oleh James Earl Jones) yang meski tampil singkat namun akan menjawab pertanyaan kenapa ia berhak mendapat prediket sebagai salah satu villain terdahsyat sepanjang masa.

Selagi karakter kita berpindah dari satu planet ke planet lain, sutradara Gareth Edwards meyajikan kita akan pemandangan galaktik yang memanjakan mata, entah itu siluet Death Star yang muncul di horizon atau keindahan pulau tropis yang menjadi lokasi tempat perang puncak. Tata produksinya mulai dari kostum hingga efek spesial dan properti meyakinkan kita bahwa film ini benar mengambil waktu sebelum A New Hope; dengan atmosfer analog yang serupa.

Edwards mengklaim bahwa Rogue One adalah film perang dan ia tak bohong. Seperempat bagian akhir adalah sekuens perang tanpa henti yang sedikit njelimet. Di atas stratosfer, Pemberontak harus mencari cara untuk mengatasi Star Destroyer, di cakrawala X-Wing menembaki tank raksasa AT-AT, sementara tentara infanteri berkonfrontasi dengan Stormtrooper di pinggir pantai dengan latar belakang pepohonan kelapa. Sekuens aksi di darat dirancang layaknya adegan film perang konvensional.

Terlepas dari tampilannya yang lebih gritty dan Jedi-free, Rogue One adalah film Star Wars yang otentik. Kita percaya bahwa semua ini terjadi di semesta yang sama dimana Luke dan Darth Vader akan berkonfrontasi nantinya. Sungguh ide yang bagus untuk menyoroti para pemberontak tak bernama yang jasanya kerap terlupakan di antara pertarungan Jedi versus Sith dan adu perang laser. Namun momen terbaiknya justru adalah saat menampilkan referensi dari saga utama, sehingga sebagai film yang mencoba untuk berdiri sendiri, Rogue One tak meninggalkan kesan yang mendalam. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Rogue One: A Star Wars Story' |
|

IMDb | Rottentomatoes
133 menit | Remaja

Sutradara Gareth Edwards
Penulis Chris Weitz, Tony Gilroy
Pemain Felicity Jones, Diego Luna, Ben Mendelsohn
BAGIKAN

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top