0

Review Film: 'Sausage Party' (2016)

Saya tak menyangka akan menjumpai sebuah film animasi yang menguji kekotoran otak saya. Saya rasa semakin jorok pikiran penonton, maka leluconnya semakin pecah.

“Once you see that s**t, it'll f**k you up for life.”
— Twink
Anda tahu ada animasi dengan karakter lucu serta warna-warni cerah yang ditujukan untuk membuat anak-anak girang dan ada pula animasi dengan visual impresif yang menargetkan untuk mengobok-obok emosi penonton dewasa? Sausage Party bukan keduanya.

Saya tak menyangka akan menjumpai sebuah film animasi yang menguji kekotoran otak saya. Saya rasa semakin jorok pikiran penonton, maka leluconnya semakin pecah. Sausage Party merupakan animasi yang vulgar, namun bagian terbaiknya adalah ketika film ini membawakannya melalui adegan yang sugestif; ia tak menunjukkan secara gamblang pada kita, tapi membuat kita memikirkannya. Saat sudah paham, kita tergelak, entah itu menertawakan leluconnya atau menertawakan kejorokan imajinasi sendiri.


Sausage Party adalah satu lagi animasi yang menggunakan formula Toy Story-nya Pixar setelah The Secret Life of Pets beberapa bulan lalu. Ia menceritakan tentang kehidupan rahasia objek familiar yang tak kita ketahui. Makanan, buah dan sayur ternyata juga punya wajah, kaki, tangan dan bertingkah layaknya manusia. Kenapa kita tak bisa melihatnya? Film ini memberikan penjelasan nyeleneh yang melibatkan narkoba. Dan meski punya karakter yang lucu, jangan sekali-kali membiarkan anak/adik anda menonton film ini, kecuali ingin membuat mereka trauma.

Ceritanya mengambil tempat di sebuah supermarket, dimana para makanan hidup dengan riang gembira, menyanyikan lagu “The Great Beyond” (yang ditulis oleh Alan Menken, yup penulis lagu untuk Beauty and the Beast) sembari menanti momen dimana mereka akan dipilih oleh manusia dan dibawa menuju “surga”. Atau begitulah yang mereka percayai.

Frank (Seth Rogen) adalah salah satu sosis yang dikemas sepaket bersama 8 sosis lainnya, termasuk sosis mini, Barry (Michael Cera) dan sosis sotoy, Carl (Jonah Hill). Frank tak sabar dibawa ke “surga” dan “bersatu” (you know what I mean) dengan pacarnya, sebuah roti hotdog bernama Brenda (Kristen Wiig). Ia memang bisa keluar dari kemasan dan mencumbu Brenda jika mau, namun ini akan membuat mereka berdua tak lagi “segar” dan harus dibuang ke tong sampah.

Kehidupan harmonis di supermarket ini terguncang saat sebuah selai (Danny McBride) kembali setelah dibeli dengan tak sengaja oleh manusia, dan ia membawa kabar buruk. “Surga” yang mereka tuju bukanlah tempat penuh kebahagiaan melainkan arena pembunuhan. Makanan dikuliti, diiris dan dipotong-potong!

Tapi sudah terlambat. Frank, Brenda, dkk telah dimasukkan ke dalam troli. Sebuah kekacauan yang disajikan melalui sekuens menegangkan yang menyentil teror 9/11, menimbulkan horor dengan gambaran sadis (setidaknya, untuk ukuran makanan) dan teriakan panik dimana-mana, yang untungnya membuat mereka lolos dari pembantaian.

Selagi mencari cara kembali ke rak, mereka bertualang ke penjuru supermarket untuk mencari kebenaran. Saat film ini tak berkomedi mengenai seks, ia mengeluarkan amunisi olok-olok ofensif terhadap apa saja, termasuk etnis dan agama. Ada taco wanita (Salma Hayek) yang tentu saja berasal dari Meksiko yang punya ketertarikan pada Brenda, serta Lavash (David Krumholtz) Arab dan Bagel (Edward Norton) Yahudi yang selalu bertengkar padahal mereka tak tahu perkara awalnya.

Untuk memberi urgensi, film ini juga menciptakan satu antagonis dalam wujud produk kebersihan wanita (Nick Kroll) yang bisa power-up dengan mengkonsumsi produk lain. Anda tentu menyadari bahwa ia bukan makanan. Disini saya menemukan inkonsistensi. Jadi apakah semua produk adalah makhluk hidup dalam semesta Sausage Party? Kadang-kadang iya, kadang-kadang tidak. Ada karakter tisu toilet yang hanya berfungsi untuk memberi satu lelucon mengenai aktivitas boker. Namun permen karet bekas yang bergaya Stephen Hawking (Scott Underwood) bolehlah dikategorikan makanan.

Disutradarai oleh Conrad Vernon dan Greg Tiernan, namun jika melihat produk akhirnya, film ini adalah film miliknya Seth Rogen dan Evan Goldberg, yang menulis naskah. Film ini hanya memfasilitasi untuk mentransfer lelucon vulgar khas mereka ke dalam animasi anthromorphic. Saya sempat meringis menyaksikan bagian akhir yang merupakan epilog versi extended. Bagian ini secara literal adalah food porn dan menyaksikan mereka orgy sama sekali tak menghibur.

Apakah Sausage Party film yang bagus? Saya tak tahu soal ini. Namun film ini begitu vulgar dan ofensif hingga saya mendapatinya sebagai film yang lucu, karena saya nyaris tak bisa mempercayai bagaimana pembuat filmnya mengemas lelucon sesakit ini ke dalam film animasi. Saya menikmatinya. Tunggu, ini mungkin mengimplikasikan sesuatu terhadap citra saya. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem


IMDb | Rottentomatoes
883 menit | Dewasa

Sutradara Conrad Vernon, Greg Tiernan
Penulis Kyle Hunter, Ariel Shaffir, Seth Rogen, Evan Goldberg
Pemain Seth Rogen, Kristen Wiig, Jonah Hill

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top