0

Review Film: 'Arrival' (2016)

Kerangka scifi-nya justru ditujukan untuk menyampaikan perspektif mendalam mengenai hidup dan manusia. Tidak hanya secara intelektual, melainkan juga secara emosional. Tak selalu mengena pada saya, tapi 'Arrival' adalah film yang kekuatan sinematisnya membuat saya kagum.

“If you could see your whole life laid out in front of you, would you change things?”
— Dr. Louise Banks
Dalam tradisi Hollywood, hal paling logis yang harus dilakukan saat alien mengunjungi bumi adalah membombardir mereka habis-habisan dengan segala macam senjata yang kita punya. Hm, kita tahu ini berlebihan dan terlalu agresif. Ayolah, rasa ingin tahu kita lebih besar dari keparnoan tersebut. Saya memperkirakan tindakan paling realistis adalah dengan melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang dalam Arrival; menyelidiki mereka, mencari tahu latar belakang dan tujuan mereka, mencoba berkomunikasi.

Meringkasnya seperti ini mungkin akan membuat Arrival terkesan tak penting untuk ukuran film scifi, tapi memang plotnya hanyalah mengenai ilmuwan yang berusaha menemukan cara untuk melakukan kontak dengan makhluk ekstraterestrial. Namun sungguh, Arrival adalah film yang menantang. Kerangka scifi-nya justru ditujukan untuk menyampaikan perspektif mendalam mengenai hidup dan manusia. Tidak hanya secara intelektual, melainkan juga secara emosional. Tak selalu mengena pada saya, tapi Arrival adalah film yang kekuatan sinematisnya membuat saya kagum.


Disutradarai oleh Denis Villeneuve yang pernah menggarap film yang intens (Prisoners, Sicario) hingga yang sinting (Enemy), Arrival berjalan di antara keduanya. Saya tak berpikir bahwa saya bisa mengerti sepenuhnya mengenai apa yang terjadi antara alien dengan karakter utama kita, Louise Banks (Amy Adams). Namun saya bisa merasakan betapa luas dan ambisiusnya grand design dari Arrival. Ia adalah film manusia yang dikemas dalam film alien. Ia adalah film personal yang dikemas dalam scifi berkonsep tinggi.

Apakah kita siap bertemu dengan mereka? Tidak juga. Namun kita bisa belajar. Ketika 12 pesawat alien yang berbentuk cobek raksasa muncul di berbagai tempat di belahan bumi, kita tak tahu apa yang kita hadapi. Pesawat yang disebut “tempurung” ini hanya melayang, tak menimbulkan dampak apa-apa. Apakah mereka bersahabat atau malah membahayakan? Untuk mencoba melakukan semacam dialog dengan salah satu entitas antariksa yang mendarat di Montana, Pemerintah Amerika melalui Kolonel Weber (Forest Whitaker) merekrut Louise, seorang profesor bahasa yang tampaknya baru saja mengalami fase terberat dalam kehidupannya, sebagaimana yang terlihat dari kilasan mengenai anaknya yang meninggal gara-gara kanker ganas. Ia ditugaskan bersama seorang fisikawan, Ian Donnelly (Jeremy Renner).

Bagaimana cara berdialog jika tak saling mengenal bahasa satu sama lain? Alien yang dijuluki heptapods (hepta = tujuh, pods = kaki) ini mengeluarkan suara tak jelas. Namun Louise yang kemungkinan adalah ahli linguistik termahir di dunia (ia bisa bahasa Farsi dan Sanskerta!), berinisiatif menggunakan media tulisan dan mengajari mereka bahasa Inggris dasar. Ia bahkan juga berhasil memecahkan tulisan heptapods yang berbentuk seperti noda kopi, yang ternyata punya makna beragam.

Bahasa dan komunikasi menjadi inti dari Arrival. Di awal-awal, Amerika bekerja sama dengan Rusia, Cina dan negara lain untuk menyelidiki tamu asing kita. Situasi menjadi runyam saat mereka memutuskan untuk berhenti berkomunikasi. Cina berpikir alien ini adalah penjajah. Publik yang tak diberi informasi cukup, mulai resah. Kita sendiri juga berkutat dengan miskomunikasi antarsesama. Kita takut akan sesuatu yang tak kita ketahui. Louise dkk harus berpacu dengan waktu sebelum kekacauan massa menjadi tak terkendali.

Meski diisi dengan dialog yang seringkali canggih, film ini tak menjadikan mereka sekedar pelontar jargon ilmiah, alih-alih karakter yang riil. Ini benar untuk Ian-nya Renner. Namun Arrival adalah filmnya Louise dan Adams dengan efektif memberikan penampilan yang subtil tapi membawa emosi yang besar. Adams menjadikan film yang ambisius ini intim. Twist di klimaks adalah pertunjukan utama baginya, dimana ia mencoba untuk mengeluarkan emosi yang kompleks dalam satu waktu.

Saya hanya berharap Villeneuve bisa memfasilitasi penampilan yang kuat itu dengan bit emosional yang setara, seperti yang dilakukan Terrence Malick dalam The Tree of Life. Antara potongan-potongan memori Louise dan ekspresi Adams, saya pikir ending-nya tak menutup dengan sempurna apa yang coba ditawarkan sebelumnya dan juga tak seemosional yang dimaksudkan oleh pembuat filmnya.

Namun terlepas dari hal tersebut, Villeneuve memberikan sentuhannya dengan terukur. Semua klise dalam film alien dihadirkan dengan cerdas melalui gaya visual yang dingin. Adegan saat Louise dan Renner pertama kali memasuki “tempurung” untuk bertemu dengan heptapods disajikan dengan suspens sedemikian rupa yang mempertahankan tensi dan (sedikit) kengerian. Ia tahu bagaimana cara menahan diri dengan tak menampilkan terlalu banyak. Film ini adalah kolaborasi maut antara Villeneuve dengan sinematografer dan komposernya. Bradford Young menyorot dengan cahaya natural; indah dan menegangkan di saat bersamaan. Scoring dari Johann Johannsson memperkuat setiap momen dan terkadang memanipulasi kita untuk merinding.

Film ini ditulis oleh Eric Heisserer dari cerita pendek Ted Chiang yang berjudul Story of Your Life. Materi sumbernya benar-benar punya konsep yang brilian; berisi paradoks yang mungkin akan terbantu dengan infografi yang (pasti akan) dibuat oleh penonton cerdas yang sudah menontonnya berkali-kali. Waktu adalah hal yang relatif bagi heptapods yang menggunakan nonlinear orthography, tulisan yang pada dasarnya adalah lingkaran yang tak memiliki awal dan akhir. Arrival mirip seperti itu. Ia adalah continuum. Ini adalah film yang lebih seru untuk didiskusikan. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Arrival' |
|

IMDb | Rottentomatoes
116 menit | Remaja

Sutradara Denis Villeneuve
Penulis Eric Heisserer (screenplay), Ted Chiang (novella)
Pemain Amy Adams, Jeremy Renner, Forest Whitaker

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top