0

Review Film: 'The Great Wall' (2017)

Jika yang ingin dijual oleh 'The Great Wall' hanyalah visual mengagumkan, Zhang Yimou berhasil dengan spektakuler.

“Let me fight with you.”
— William
The Great Wall adalah film sejarah yang suatu waktu pernah kita harap diajarkan oleh guru IPS di SD dulu, alih-alih ceramah mengenai Phitecanthropus erectus yang membuat senjata dari batu. Ceritanya mengenai sejarah Tembok Besar Cina yang ternyata bukan dibangun untuk mengatasi serbuan dari kaum barbar Mongol, melainkan invasi monster buas. “The Great Wall with Monsters” mungkin judul yang lebih tepat. Benar kan? Sejarah menjadi lebih menarik jika ditambahkan dengan kata “monster”.

Film kolosal ini merupakan produk kolaborasi Cina dengan Amerika. Dengan pasar sinema Cina yang berkembang begitu pesat (terlebih tahun ini), bukan hal mengherankan saat Hollywood berusaha mencari cara untuk memanfaatkan momen tersebut. Dalam hal ini, Legendary Pictures menggandeng sutradara Zhang Yimou, yang berarti menjadikan The Great Wall sebagai film dengan sentuhan Barat perdana bagi Yimou.


Berbeda dengan pelajaran sejarah, film ini akan memancing kita untuk banyak bertanya mengenai perkembangan plotnya, apalagi bagi anda yang merupakan penonton kritis. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebaiknya disimpan, karena sama seperti premisnya yang mustahil, akan ada banyak hal-hal tak masuk akal yang terjadi disini. Yang pertama misalnya, kenapa monster ini hanya menyerang setiap 60 tahun sekali?

Sungguh waktu yang sial bagi William (Matt Damon) dan Tovar (Pedro Pascal), tentara bayaran dari Eropa yang berkunjung untuk mencari “bubuk hitam” ke negeri Tirai Bambu ini. Setelah dikejar oleh bandit, mereka tertahan di Tembok Besar dan ditawan oleh pasukan penjaga Tembok, Orde Tak Bernama (iya, itu namanya). Pasukan ini tengah mempersiapkan diri untuk menahan gempuran makhluk buas bernama Tao Tei.

Tao Tei adalah salah satu dari beberapa monster brainless kreasi CGI terbaik dalam semesta film monster. Desainnya menarik, punya detil luar biasa dan terdefinisikan dengan tajam. Bentuknya semacam kadal raksasa berwarna hijau dan karena jumlahnya ribuan, tentu bakal ada adegan yang menampilkan mereka bergerombol, yang bagusnya tak terlihat artifisial layaknya kebanyakan blockbuster. Alih-alih mereka terkesan organik dan menyatu dengan latar depan atau saat berinteraksi dengan para aktor. Tentu saja saya tahu mereka dibuat dengan komputer, namun saat menonton tak tampak kentara. Tim efek visualnya benar-benar kompeten.

Waktu 60 tahun tak disia-siakan oleh Kaisar Cina. Pasukan ini sudah dipersiapkan dengan baik dan mungkin mendapat kucuran dana melimpah melihat bagaimana mereka semua dibekali dengan senjata canggih serta kostum mentereng. Jumlahnya juga tak main-main. Di satu momen, mereka terlihat memenuhi Tembok. Bagaimana cara mengorganisir tentara sebanyak ini? Bagaimana makannya? Mandinya? Tak penting. Mereka terbagi dalam hierarki khusus: pasukan hitam adalah kavaleri, merah adalah pemanah dan biru... uhm adalah tentara wanita yang melakukan sesuatu yang jelas lebih berbahaya dibanding tentara lain.

Setelah menunjukkan kelihaian menggunakan senjata dalam menangani seekor Tao Tei, William mulai dipercaya oleh para jenderal yang diantaranya adalah Komandan Lin (Jiang Tian) dan Penasehat Wang (Andy Lau), yang tentu saja mahir berbahasa Inggris. Mereka menginginkan bantuannya. Namun masih terbersit keinginan untuk menyelundupkan semua “bubuk hitam” yang ada di gudang tentara, apalagi dengan bisikan dari Ballard (Willem Dafoe berperan minor).

Plot adalah hal yang tak begitu diperhatikan disini; ia formulatif. Anda bisa menebak perkembangan alurnya dari menit awal. Percakapan berada di level dialog yang mendasar (saat akan mengambil potongan tangan monster, Damon berujar “Aku akan mengambil tangannya”). Namun jika yang ingin dijual oleh The Great Wall hanyalah visual mengagumkan, Zhang Yimou berhasil dengan spektakuler. Film ini terlihat dan terasa seperti blockbuster mahal Hollywood.

Film ini tetaplah film yang cantik. Di beberapa momen, tampak sentuhan artistik Yimou yang bermain-main dengan skema warna. Sekuens aksinya bagus; bukan sekadar adegan yang susah dicerna, namun pemahaman Yimou akan koreografi menciptakan sekuens yang fluid. Pun demikian, Yimou adalah sutradara yang pernah menggarap Hero dan House of Flying Daggers, dan The Great Wall bisa sedikit menggunakan sensitivitasnya dalam hal filosofi atau romantisme dari film-film tersebut.

Film ini mungkin tak punya pesan subversif tertentu, berbeda dari film Yimou lainnya. Setiap kali karakternya bercakap-cakap tentang moralitas (atau bahkan tentang apapun), saya berharap Tao Tei segera muncul. Atau mungkin film ini punya, namun saya nyaris tak menyadarinya. Ah tapi saya kemudian bertanya pada diri sendiri, apa yang saya harapkan dari film tentang monster? ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'The Great Wall' |
|

IMDb | Rottentomatoes
104 menit | Remaja

Sutradara Zhang Yimou
Penulis Carlo Bernard, Doug Miro, Tony Gilroy
Pemain Matt Damon, Jiang Tian, Pedro Pascal
BAGIKAN

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top