0

Review Film: 'La La Land' (2016)

'La La Land' adalah salah satu film musikal paling absorbing, dan yup, saya membuat perbandingan dengan film musikal klasik terbaik sepanjang masa.

“Here’s to the ones who dream, foolish as they may seem. Here’s to the hearts that ache. Here’s to the mess we make.”
— Mia
Saya adalah satu dari sebagian orang yang selalu merasa canggung setiap kali menonton film musikal. Di satu sisi, saya mengagumi kualitas artistiknya. Di lain sisi, saya selalu geli ketika menyaksikan dialog yang sering berhenti di tengah-tengah film dan semua orang tiba-tiba mulai menyanyi dan menari, memancing saya untuk mendelik, "Here we go... again".

Saat menonton La La Land, sebuah film musikal yang brilian dari Damien Chazelle, ada beberapa faktor yang membuat saya tak merasakan (atau tak peduli dengan) hal tersebut : (1) pembuat filmnya yang mentransisikan adegan sinematis dengan adegan musikal sedemikian mengalir; (2) nilai estetika yang magis di setiap frame; serta (3) keintiman emosionalnya yang luar biasa. La La Land adalah salah satu film musikal paling absorbing, dan yup, saya membuat perbandingan dengan film-film musikal klasik terbaik sepanjang masa.

Menyusul Whiplash, Chazelle kembali berkolaborasi dengan teman kuliahnya dulu, Justin Hurwitz untuk memparadekan passion mereka akan musik jazz. Tak hanya itu, film ini juga mengenai cinta, impian dan dunia sinema itu sendiri. Sebagaimana kutipan di salah satu adegannya, “People love what other people are passionate about", passion Chazelle memancar dan menular. Dengan segala aspek teknis yang menawan, ia menyuguhkan film ini dengan tulus dan ringan, mengajak kita larut dalam kisah cinta dua tokoh utama kita. Dansa dan dendangan mereka seolah ditujukan untuk berkomunikasi dengan penonton.


Mereka adalah Mia (Emma Stone) dan Sebastian (Ryan Gosling). Mia adalah seorang gadis yang bercita-cita menjadi aktris namun harus kerja sambilan di kedai kopi sembari menunggu panggilan audisi. Sementara Sebastian adalah pianis pecinta jazz idealis yang bermimpi membuka klab sendiri, namun harus mengamen membawakan lagu "Jingle Bells" atau semacamnya di restoran milik J.K. Simmons untuk menyambung hidup.

Pertemuan pertama mereka tidaklah manis. Di tengah kemacetan, Sebastian mengklakson Mia yang kemudian membalasnya dengan salam jari tengah. Situasi ini tak hanya memperkenalkan kita dengan mereka, namun juga mempersembahkan sebuah sekuens musikal yang kompleks namun mempesona. Ini hanyalah kemacetan rutin, sampai satu orang keluar mobil, diikuti yang lain dan mereka menari dan menyanyikan "Another Day of Sun" di jalanan dan atap mobil. Kamera mengalir dengan lincah mengikuti koreografi arahan Mandy Moore melalui sorotan one-take yang akan membuat anda bertanya-tanya bagaimana mereka mengeksekusinya. Sekuens berdurasi 5 menit ini kabarnya butuh syuting selama 2 hari dengan melibatkan ratusan penari.

Bukan waktu yang tepat ketika Mia mendengar alunan piano yang indah dari Sebastian untuk pertama kalinya. Sebastian baru saja dipecat. Adalah di Hollywood Hills, romansa terjalin setelah keduanya ber-tap dance di bawah lembayung senja; bilang bahwa mereka tak mungkin saling suka namun dalam hati tahu bahwa yang terjadi adalah kebalikannya.

Mia dan Sebastian melihat kesamaan satu sama lain. Mereka adalah pengejar mimpi. Namun hidup tak semudah jatuh cinta. Sebastian harus memilih antara klab jazz impiannya atau bermain musik kekinian (yang dibencinya) bersama rekan lamanya, Keith (John Legend). Dan ini juga berarti mengorbankan waktu untuk Mia yang luntang-lantung akibat audisi yang selalu gagal. Film ini mengikuti perjalanan mereka dari musim dingin hingga musim dingin berikutnya, dimana impian tak selalu sejalan dengan romansa.

Stone dan Gosling adalah pasangan serasi dalam La La Land. Chemistry mereka meyakinkan dan masing-masingnya juga tampil kuat sebagai pribadi yang punya passion. Kita akan sering menyaksikan jemari Gosling menari di atas tuts piano atau beberapa adegan kocak saat Mia-nya Stone melakukan audisi. Dan tentu saja, dikarenakan film ini adalah musikal, mereka harus bernyanyi dan menari. Mereka memang bukan penyanyi sungguhan, namun setiap lagu dan koreografinya dibawakan dengan penuh komitmen, entah itu saat duduk berdua menyanyikan lagu sendu "City of Stars" atau berdansa waltz di langit penuh bintang. Absurd memang, namun ini adalah contoh bagaimana imajinatifnya La La Land bercerita melalui visual.

Sinematografer Linus Sandgren menggunakan palet warna yang lembut dan seringkali menyorot dalam long take, bahkan untuk percakapan kasual. Tim produksi merancang set yang cantik dibarengi dengan permainan tata cahaya. Film ini punya sense of time and place yang unik. Bersetting di jaman sekarang, seperti terlihat dari penggunaan smartphone atau mobil Prius, La La Land terasa klasik, bukan hanya dari set melainkan juga atmosfer. Ada tribut buat Casablanca, Singin' in the Rain dan The Umbrellas of Cherbourg, namun Chazelle tak terjebak nostalgia dalam bertutur.

Adegan akhir menunjukkan betapa terampilnya Chazelle menutup kisahnya. Di titik ini, kita begitu terikat dengan para karakter, kita peduli pada kehidupan mereka. Adegan yang disuguhkan lewat sekuens musikal ini menyampaikan begitu banyak emosi dalam durasi yang relatif singkat, menyimpulkan kisah romansa yang manis dalam sebuah sajian sinematis yang emosional. Bahagia tapi juga meremukkan hati.

Musik yang bagus mampu mewakili emosi yang terkadang tak bisa disampaikan dengan kata-kata. Semua aspek dalam film ini adalah rangkaian nada yang diorkestrasi oleh Chazelle dengan gemilang menjadi sebuah alunan bernama La La Land. Saya keluar dari bioskop dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan dengan gamblang. Namun saya tahu saya baru saja merasakan sebuah pengalaman sinematis yang magis. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'La La Land' |
|

IMDb | Rottentomatoes
128 menit | Remaja

Sutradara Damien Chazelle
Penulis Damien Chazelle
Pemain Ryan Gosling, Emma Stone, John Legend

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top