0

Review Film: 'xXx: Return of Xander Cage' (2017)

Vin Diesel dkk mengejar Donnie Yen dkk untuk merebut alat pelontar satelit, yang kemungkinan besar akan membuat anda cekikikan.

"Let me simplify it for you. Kick some ass, get the girl, and try to look dope while you do it."
— Augustus Gibbons
Vin Diesel mungkin mendapat ilham bahwa sudah tiba masa baginya untuk melakukan adegan motorbiking di atas ombak. Namun ia tak bisa melakukannya dalam Fast & Furious karena hal-hal semacam itu merupakan jatah bagi mobil, bukan manusia, sementara adegan tersebut juga tak terlalu antariksa-wi untuk ukuran film Riddick. Jadi apa yang bisa dilakukan? Ia kembali mengunjungi dan memproduseri franchise lama yang ditinggalkannya demi bisa beratraksi (atau berpura-pura beratraksi) absurd.

Itu, atau ia memang hanya menerapkan apa yang ia pelajari dari Fast & Furious: semakin sinting aksinya, semakin populer filmnya. Namun kesintingan tak selalu setara dengan keseruan, terlebih saat kita tahu bahwa tak ada peluang bagi karakter untuk terluka (atau bahkan lecet), seberbahaya apapun aksinya. Tentu saja, hal yang sama juga berlaku pada franchise Fast & Furious. Namun jika disana kita dibuat terpana mengenai bagaimana kru produksi mengkreasi sekuens dengan practical effects yang bombastis, maka nyaris tak ada keseruan menyaksikan absurditas setara yang hanya direkayasa lewat komputer.


Ketika saya melihat bagaimana karakter Diesel mengendarai motornya di atas air, saya hampir tak mempercayai mata saya. "Oke, ini kan cuma MENGENDARAI", saya membatin. Namun situasi dengan cepat tereskalasi dan tak lama kemudian saya disuguhkan dengan adegan motor yang surfing ... di ombak raksasa! Hampir semua penonton yang menonton bersama saya cekikikan, sementara sisanya bengong. Tak hanya efek CGI-nya yang kentara, kita juga bisa mengamati pemeran pengganti yang jelas tak mirip dengan Diesel. Pernah ada masanya mereka membuat adegan absurd dengan usaha, seperti halnya dalam film xXx pertama.

Sedikit mengingatkan, xXx merupakan film James Bond jika James Bond adalah preman slenge'an. Sang karakter utama, Xander Cage adalah kriminal penggila olahraga xXxtrim yang direkrut oleh agen Gibbons (Samuel L. Jackson) untuk melakukan misi berbahaya, yang mungkin terlalu xXxtrim bagi Ethan Hunt. Ia diceritakan tewas sebelum film kedua, xXx: State of the Union dimulai, lantas digantikan oleh Ice Cube. Jika ada pelajaran yang bisa diambil dari xXx: Return of Xander Cage, maka itu adalah bagaimana tak ada yang benar-benar mati dalam xXx.

Xander masih sehat walafiat. Ia bahkan rela bersusah-susah mencuri pemancar satelit dengan melakukan ski di belantara hutan lalu memacu skateboard-nya di jalanan dengan kecepatan tinggi agar anak-anak di dunia ketiga bisa menonton pertandingan sepakbola. Ini sebelum kita melihat Gibbons yang mengalami nasib naas ketika tengah merekrut pesebakbola Brazil, Neymar (bermain sebagai dirinya sendiri) yang menyangka bahwa ia diminta bergabung dalam tim Avengers.

Hal ini membuat Xander keluar dari persembunyian dan setuju untuk bergabung bersama suksesor Gibbons, agen Marke (Toni Collette, kaku maksimal). Namun ia akan memilih anggota timnya sendiri yang, sama seperti Fast & Furious, punya diversifikasi tinggi, agar timnya lebih berwarna sekaligus tentu saja memastikan kesuksesan filmnya di box office luar Amerika. Mereka antara lain Ruby Rose sebagai sniper tomboy (masuk akal), Rory McCann sebagai supir gila (bolehlah), serta Kris Wu sebagai ... seorang DJ (!!?). Pfft, lugunya saya. Kehidupan sehari-hari DJ pasti jauh lebih xXxtrim daripada bayangan saya selama ini.

Mereka mendapat misi ke Filipina untuk merebut "Pandora's Box" dari geng kriminal tangguh yang terdiri dari ahli kungfu Donnie Yen sebagai Xiang, aktris Bollywood Deepika Pakudone sebagai Serena, bintang aksi Thailand Tony Jaa sebagai Talon dan jawara UFC Michael Bisping sebagai Hawk. "Pandora's Box" adalah komposit MacGuffin dari berbagai film mata-mata; ia bisa mengendalikan komputer di seluruh dunia, bisa melacak, hingga menjatuhkan satelit yang mengorbit bumi. Yang terakhir menjadi favorit teroris, yang mengijinkan film untuk memberikan waktu bagi tokoh utama kita agar menyelamatkan dunia dengan segera. Dalam hal ini, Diesel dan Donnie Yen berada di pesawat yang tengah terjun bebas, sementara sisanya menghamburkan peluru di daratan.

Secara fisik, Vin Diesel masih garang di usianya yang hampir kepala enam. Terlepas dari stunt yang kentara palsunya, ia tampak meyakinkan sebagai bintang film aksi yang siap menghajar orang ... atau mencumbu gadis-gadis. Lima gadis sekaligus. Oh, tapi sayang, pesonanya berada di bawah bayang-bayang Donnie Yen yang walau tak mendapat porsi signifikan, tapi sangat karismatik hingga kita berharap ia mendapat film sendiri sebagai agen xXx.

Tak ada yang peduli dengan plot atau karakterisasi untuk film berorientasi aksi dan machoisme seperti ini, namun filmnya begitu menggelikan hingga seringkali memancing cekikikan unintentional. Sutradara D.J. Caruso menyorot dengan metode fast and furious, dimana kamera dan cut bergerak cepat yang pada akhirnya menutupi kelincahan Donnie Yen atau Tony Jaa. Sekuens aksinya pernah kita tonton dibuat dengan lebih baik di film lain. Naskah dari F. Scott Frazier berisi one-liners dan lelucon garing dengan dialog parah yang untungnya terdengar keren karena dilontarkan dengan suara macho Diesel.

Apa tadi saya sudah menyebutkan bahwa Xander Cage adalah pecandu olahraga ekstrim? Tak ada yang xXxtrim-xXxtrim amat disini. Film ini begitu komikal, hingga cocok dijadikan parodi. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'xXx: Return of Xander Cage' |
|

IMDb | Rottentomatoes
104 menit | Dewasa

Sutradara D.J. Caruso
Penulis F. Scott Frazier
Pemain Vin Diesel, Donnie Yen, Deepika Padukone
BAGIKAN

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top