0

Review Film: 'Don't Knock Twice' (2017)

Chloe iseng mengetuk rumah hantu dua kali dan ia sekarang dikejar-kejar setan, lalu membawa masalahnya pada sang ibu.

"I love you since I saw you."
— Jess
Peringatannya sudah terpampang jelas di judul, namun apa jadinya film horor jika karakternya tak melanggar larangan tersebut? Chloe (Lucy Boynton) mengetuk dua kali. Tak peduli jika pintu rumah yang diketuknya punya gagang berbentuk kepala kambing yang menyeramkan. Tak peduli jika rumah tersebut adalah rumah kosong yang katanya didiami oleh penyihir penculik anak. Ketuk satu kali, ia akan bangun dari tidur. Ketuk dua kali, ia akan bangkit dari kematian. Tok tok. Pintar sekali, Chloe.


Tapi tunggu dulu. Kenapa kamu melakukannya Chloe? Saya bingung ketika menyaksikan adegan ini dalam film horor Don't Knock Twice. Saya tahu secara naratif ini berfungsi untuk menjalankan plot, namun filmnya tak berniat memberikan alasan yang masuk akal bagi karakternya. Ketika melihat anak-anak jahil mengetuk pintu sebuah rumah, teman Chloe berujar, "Ingat saat kita dulu juga begitu?". Lalu sekonyong-konyong, mereka berada di depan rumah mistis tadi dan iseng mengetuknya. Mungkinkah nostalgia mereka sekuat itu hingga mengabaikan fakta bahwa teman mereka pernah hilang tak tahu rimbanya gara-gara melakukan hal yang sama?

Namun cerita Don't Knock Twice bukan hanya mengenai Chloe yang dikejar-kejar setan. Terungkap bahwa Chloe adalah seorang gadis yang sudah lama tinggal di semacam pusat perlindungan anak. Ibunya, Jess (Kathee Sackhoff) merupakan pemabuk yang abusif dan dulu mengabaikan Chloe. Sekarang, Jess ingin mengambil kembali hak asuhnya, namun Chloe sama sekali tak ingin reuni dengan sang ibu.

Well, setidaknya hingga temannya hilang dan Chloe dihantui oleh makhluk hitam ceking yang bisa muncul dimana saja. Saya tak tahu apa alasanmu Chloe; pembalasan biar ibumu juga merasakan masalah pribadimu yang kamu ciptakan sendiri? Untungnya, Jess sudah berkomitmen penuh untuk memperbaiki kehidupannya dan menerima kehadiran sang anak meski ia membawa plus one yang tak ramah.

Sutradara Caradog W. James punya gaya visual yang bagus untuk mempresentasikan horornya. Di beberapa titik, ia menggunakan pergerakan kamera yang tak biasa, misalnya putaran 360 derajat saat sang iblis memantau korbannya. Dengan menggunakan pencahayaan yang minim (bahkan di siang hari) serta scoring memakai musik elektronik yang membuat tak nyaman, ia menekankan pada pembangunan atmosfer. Profesi Jess sebagai pembuat patung mengijinkan filmnya menampilkan imajeri patung yang menyeramkan. Naskah memberikan eksposisi dengan perlahan, jika tak ingin menyebutnya mengulur-ulur.

Seorang teman Jess bernama Tira (Pooneh Hajimohammadi) yang entah kenapa tahu banyak soal hal-hal supranatural, memberitahunya bahwa ini mungkin (atau mungkin bukan) perbuatan dari Baba Yaga, iblis pemakan manusia yang merekrut manusia sebagai tangan kanannya. Hanya ada dua cara untuk lepas dari jeratan Baba Yaga: (1) bunuh diri, atau (2) membuat orang lain melakukan hal yang keji sehingga jeratannya akan pindah ke orang tersebut.

Ada banyak film horor dimana dua plot mengenai drama rekonsiliasi keluarga dan usaha untuk melepaskan diri dari gangguan entitas urban legend, menyatu dengan baik (The Babadook dan Under the Shadow misalnya), namun dalam Don't Knock Twice, mereka tak berjalan dengan organik. Keduanya berdiri sendiri, menafikan satu sama lain alih-alih saling menguatkan. Bagaimana entitas mistis ini bakal mempengaruhi hubungan mereka? Jika ada yang ingin disampaikan oleh naskah mengenai hal tersebut, saya tak yakin apa itu. Meski Sackhoff dan Boyton bermain cukup baik untuk menampilkan penyesalan dan amarah yang terpendam, karakter mereka nyaris kosong. Hubungan keduanya tak cukup kuat untuk membuat kita peduli jika suatu waktu sang hantu merenggut salah satu di antara keduanya.

Filmnya memang memberikan latar belakang mitologi, namun sayangnya teknik menakutinya nyaris tanpa konteks. Penampakan hantu dalam film memang tak pernah masuk akal, namun anda mungkin bakal sulit menyangkal bahwa dalam Don't Knock Twice seringkali hal ini dilakukan sebagai jalan pintas agar plot berjalan ke arah yang diinginkan naskah. Di tengah film, saya sempat berpikir bahwa jika hantunya memang hobi mengetuk pintu, kenapa Jess dan Chloe tak mencopot semua pintu di rumah? Exactly. Tapi mereka melakukannya dengan begitu serius, walau saya mendapatinya sebagai momen campy yang cukup seru seandainya mereka tak seintens itu.

Cerita menjadi semakin kompleks dengan masuknya detektif Boardman (Nick Moran) yang bermaksud menyelidiki hilangnya teman Chloe serta beberapa anak-anak lain, dan ia ternyata juga punya hubungan tertentu dengan pusat perlindungan anak tempat Chloe tinggal. Apa yang sebenarnya ingin diceritakan oleh film ini baru menjadi masuk akal saat twist yang sedikit pelik muncul menjelang ending. Film ini membuat semuanya menjadi rumit lalu menyederhanakannya di akhir. Sejujurnya, hanya bagian ini lah yang substansial, sementara sebelumnya Don't Knock Twice nyaris tak menceritakan apapun. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Don't Knock Twice' |
|

IMDb | Rottentomatoes
95 menit | Remaja

Sutradara Caradog W. James
Penulis Mark Huckerby, Nick Ostler
Pemain Katee Sackhoff, Lucy Boynton, Javier Botet

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top