0

Review Film: 'John Wick: Chapter 2' (2017)

Siapa sangka Keanu Reeves bisa melakukan pembunuhan massal seseru ini? 'John Wick: Chapter 2' berikan apa yang kita mau dari sekuel 'John Wick': eksplorasi semesta lebih dalam, sekuens aksi lebih spektakuler serta korban jiwa lebih banyak.

“You wanted me back... I'm back.”
— John Wick
John Wick. Setiap nama itu disebut, semua orang tampaknya mengenal siapa yang dimaksud. Mereka bergidik mendengarnya. Namun dengan reputasi yang segahar itu, masih saja ada yang mau main-main dengan John Wick.


Di tahun 2014, John Wick menjadi hit yang tak terduga. Premisnya mengenai seorang pembunuh modis yang harus kembali berkarir setelah pensiun memang sudah usang, namun John Wick memberikan kesegaran lewat adegan aksi yang stylish serta latar belakang dunia yang unik. Saya masih ingat bahwa saya hampir tersedak melihat adegan ketika John Wick (Keanu Reeves) selesai membunuhi orang yang menerobos masuk ke rumahnya, tiba-tiba muncul tim bersih-bersih TKP yang bertugas melenyapkan mayat. Apa-apaan film ini?

Sekarang elemen surprise sudah hilang. Penulis naskah Derek Kolstad dan sutradara Chad Stahelski pasti juga menyadari ini, dan mereka memberikan kompensasi yang setara serunya. John Wick: Chapter 2 memberikan apa yang kita mau dari sekuel John Wick: eksplorasi semestanya yang lebih dalam, sekuens gun-fu dan aksi yang lebih spektakuler serta korban jiwa yang lebih banyak. Oh, kita juga bakal bisa menyaksikan bagaimana John Wick memperagakan ulang reputasinya yang paling berkesan: membunuh orang dengan sebuah pensil!

Di film pertama, preman Rusia mencuri mobil Mustang John Wick sekaligus membunuh anjing yang merupakan kado terakhir dari sang istri. Well. preman-preman ini harus mengambil pelajaran di akhirat. John Wick mendapatkan balas dendamnya dan sekarang di adegan pembuka John Wick: Chapter 2, ia ingin mendapatkan kembali mobil Mustangnya yang berada di tangan mafia Rusia. Dan tentu saja, John melakukannya lewat sebuah sekuens panjang yang melibatkan kejar-kejaran dan tabrakan menggunakan mobil, tembak-tembakan, serta adu jotos dengan meninggalkan tak kurang dari dua puluh mayat dalam prosesnya. Bos mafia (Peter Stormare) hanya bisa bergidik mendengar anak buahnya tumbang satu persatu dengan fantastis. Tak hanya anggota tubuh dan peluru, mobil pun dijadikan senjata. Untuk urusan kehancuran, film ini tak tanggung-tanggung.

(Ini bisa saja dijadikan sebuah film tunggal, namun sineasnya tahu bahwa kita pantas mendapat lebih. Halo, Taken 2).

John kali ini benar-benar berniat pensiun sepenuhnya. Namun, belumlah kering semen tempatnya mengubur senjata, muncullah mafia Itali, Santino D'Antonio (Riccardo Scamarcio) yang berasal dari dunia yang sama dengannya. Santino minta tolong pada John untuk membunuh sang adik, Gianna (Claudia Gerini) demi merebut posisi penting dalam sebuah organisasi kriminal. John tak bisa menolak karena ia telah terikat kontrak gara-gara pernah berhutang budi pada Santino.

Nah, begitulah. Dalam semesta John Wick, kriminal pun punya aturan dan kode etik, tanpa kompromi. Bahkan meski ia kenal dekat dengan Winston (Ian McShane), pemilik Hotel Continental alias Organisasi Legal Seluruh Pembunuh di Dunia, John tak bisa kabur dari kontrak, melanggar kontrak atau membunuh si empunya kontrak sebelum kontrak selesai. Dalam film ini, mitologi semesta John Wick yang begitu unik diperdalam, dimana kita bakal mengetahui bahwa ada begitu banyak pembunuh di depan mata (mulai dari juru masak hingga musisi), sembari membawa skala ceritanya ke kancah internasional. Demi misinya, John berangkat ke Itali dan menginap di Continental-nya Roma. "Apa kamu ingin membunuh Paus?", tanya manajer hotel. Oh yeah, John memang segarang itu.

Sungguh seru menyaksikan filmnya mengungkap lebih banyak detil mengenai semestanya. Sebagai tambahan dari koin emas yang menjadi alat tukar khusus bagi pembunuh bawah tanah ini serta aturan bahwa tak boleh ada kekerasan atau kegiatan "bisnis" di teritori Hotel Continental, ada pula mekanisme sayembara dimana anggota bisa memasang nilai buronan pada target yang dikehendaki. Dalam hal ini, Santino menyayembarakan kepala John, yang diterima dengan antusias oleh pembunuh lain di seluruh dunia. Dan ini belum termasuk tangan kanan Gianni, Cassian (Common) yang ingin balas dendam serta tangan kanan Santino yang bisu, Ares (Ruby Rose) yang ingin melenyapkan John.

Sama seperti film pertama, usaha world-building ini tak terkesan pamer, alih-alih menyatu dengan organik pada cerita guna memberikan kedalaman terhadap latar. Sebuah sekuens menarik memperlihatkan John "jajan" peta, pistol, pisau dan kostum anti peluru, namun penjualnya bersikap seolah-olah sedang menjual wine dan tuksedo biasa. Lalu, siapa pula yang berpikir bahwa pengemis pun adalah anggota organisasi? Laurence Fishburne merupakan koordinator dari geng pengemis maut yang tahu semua info di seluruh kota, tempat mengadu terakhir bagi John yang mencari keberadaan Santino.

Meski Stahelski sekarang hanya sendirian, kuantitas dan kualitas adegan aksinya berlipat ganda. Dibantu dengan pengalamannya sebagai stuntman veteran, Stahelski mengoreografi sekuens yang kreatif dan elegan, baik tembak-tembakan atau pertarungan tangan kosong dengan brutalitas tinggi, tanpa perlu melakukan editing eksesif. Tembak-tembakan di terowongan kuno Roma bermain layaknya mekanisme video-game. Stahelski juga membanjiri gambarnya lewat estetika visual dengan pendaran neon dan permainan cahaya yang terlihat artistik dan memberikan kesan surreal.

Dan tetap, sekuel ini tak berusaha untuk menjadi terlalu serius. Pertempuran panjang antara John dan Cassian di jalur kereta bawah tanah punya sense of humor. Keduanya saling bergantian menghamburkan peluru lewat pistol berperedam secara kucing-kucingan di tengah keramaian. Dengan muka antengnya, Keanu Reeves melontarkan one-liners sok serius yang kocak. Namun ia juga tak main-main. Ia tak sekedar tampil keren hanya dengan berjalan dan memakai jas (meski memang cara berjalannya sekeren itu). Sekuens aksi yang disorot lewat long-take menunjukkan bahwa ia telah berlatih keras untuk melakukan sendiri adegan martial arts, memacu mobil dan menangani senjata. Siapa sangka Keanu Reeves bisa melakukan pembunuhan massal seseru ini? And guess what, he'll be back. Soon. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'John Wick: Chapter 2' |
|

IMDb | Rottentomatoes
122 menit | Dewasa

Sutradara Chad Stahelski
Penulis Derek Kolstad
Pemain Keanu Reeves, Common, Riccardo Scamarcio

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top