0

Review Film: 'The Lego Batman Movie' (2017)

Lego Batman adalah Batman terbaik setelah Batman-nya Michael Keaton. Filmnya, tidak demikian.

“Hey mom, hey dad. I, um, I saved the city again today. I think you would've been really proud.”
— Batman
Batman mana yang punya Batcave paling keren? Batman mana yang bisa membuat Joker yang antisosial patah hati? Batman mana yang pernah menteloletkan Batmobile-nya bagi anak-anak yatim? Untuk urusan persona, saya menempatkan Lego Batman-nya Will Arnett di atas sana bersama dengan Batman-nya Michael Keaton sebagai Batman terbaik.

Namun tidak dengan The Lego Batman Movie. Dengan semua lelucon dan referensi pop-culture di dalamnya, nyaris tak ada cerita yang berarti disini. Film ini lebih pecah sebagai trailer daripada film panjang.


Sabar, jangan sambit saya dulu dengan Batarang. Iya iya, The Lego Movie —animasi besutan Chris Miller dan Phil Lord yang menjadi gerbang pembuka bagi banyak film bergaya Lego nantinya, termasuk ini— memang punya plot yang gaje juga. Film tersebut juga dibangun dengan sajian visual dan lelucon berkecepatan tinggi plus pesan hangat. Namun ia diramu dalam plot yang engaging. Saya berasumsi ide praproduksi The Lego Batman Movie adalah seperti ini: bagaimana jika kita memasukkan lebih banyak lelucon daripada cerita sungguhan?

Paruh pertama adalah bagian paling menghibur, dimana kita akan berkenalan dengan sisi lain Batman yang tak seperti biasanya. Tentu saja ia adalah The Dark Knight, pahlawan yang menyelamatkan kota Gotham dari para villain super seperti Joker, Harley Quinn, Bane, Two Face, The Riddler hingga kelas receh seperti Egghead, Calendar Man dan Condiment King. Namun, setelah pamer 9 otot perut dan pulang ke mansionnya, Batman tak repot-repot membuka topeng dan segera memasak lobster untuk kemudian menonton Jerry Maguire (iya, filmnya Tom Cruise itu). Sendirian. Tanpa teman.

Asyik juga melihat film yang akhirnya menyadari karakteristik penyendiri, arogan, supermaskulin dan egosentris dari Batman, lantas mengoloknya. Batman tak butuh siapapun, karena ia adalah Batman. Ia juga tak merasa membutuhkan sang pembantu setia, Alfred (Ralph Fiennes), apalagi musuh bebuyutan, Joker (Zach Galifianakis). Yang terakhir, langsung ambil hati, dan anda bakal melihat salah satu adegan putus hubungan paling memilukan dalam film superhero.

Komisaris polisi baru, Barbara Gordon (Rosario Dawson) yang menggantikan posisi sang ayah, meminta Batman agar lebih bisa bekerjasama. Ia juga mencuri hati Batman, atau lebih tepatnya Bruce Wayne yang pada akhirnya tak sengaja mengadopsi Dick Grayson alias Robin (Michael Cera). Sementara itu, Joker yang patah hati menyerahkan dirinya beserta villain lain kepada Barbara, yang membuat Batman kehilangan sense of purpose. Apa jadinya pahlawan tanpa villain?

Karena yang menyutradarai adalah Chris McKay, supervisor animasi dari The Lego Movie, film ini punya kualitas visual yang secerah pendahulunya, namun kali ini lebih hiperaktif. Setiap sudut diisi dengan adegan supersibuk yang bombastis dan mungkin sedikit memusingkan. Adegan pembuka dan klimaks merupakan sebuah sekuens padat yang dipenuhi dengan berbagai macam sekuens aksi satu dan yang lain, anda akan kesulitan mengikuti semua detil yang terjadi di layar.

Sayangnya, film ini tak mampu menggapai momentum naratif seperti halnya The Lego Movie. Senikmat apapun saya melahap distraksi visual tersebut, saat The Lego Batman Movie mencoba bercerita, ia tak pernah mengikat. Dan di saat-saat seperti ini lah, lawakan dan referensi budaya populer datang menjadi penyelamat. Bahkan di momen paling memalukan pun, Batman tetap memasang tampang sok kerennya. Ia tak ragu menipu Robin agar mencuri sesuatu di Benteng Kesendirian milik Superman, yang ternyata tengah berlangsung pesta Justice League, tanpa mengundang Batman. Ups.

Laju lawakannya secepat Batmobile. Semua menjadi sasaran, entah itu diri sendiri (mulai dari Batman era Adam West hingga Ben Affleck; risetnya boleh juga), semesta DC (mengumpulkan penjahat untuk melawan penjahat adalah ide bagus? Halo, Suicide Squad) hingga "toko sebelah" (Iron Man sucks). Para penulis naskah dan tim kreatif juga memanfaatkan apapun yang mereka bisa ambil dari gudang Warner Bros. Anda mungkin tak menduga bagaimana karakter semacam King Kong, Godzilla, Sauron, Voldemort bisa masuk ke dalam film ini, namun mereka cocok layaknya potongan Lego.

Bagi anak-anak yang mungkin belum cukup umur untuk mengenal Harry Potter atau Lord of the Rings, mereka akan teralihkan dengan gambar berwarna-warni yang bergerak tanpa henti serta karakter dengan desain yang mencolok. Anda juga dengan senang hati bisa mengajarkan pesan moral mengenai Batman yang berubah dari penyendiri menjadi orang yang mau menerima keluarga. Pelajaran yang bagus, namun The Lego Movie melakukannya dengan lebih baik. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'The Lego Batman Movie' |
|

IMDb | Rottentomatoes
104 menit | Semua Umur

Sutradara Chris McKay
Penulis Seth Grahame-Smith, Chris McKenna, Erik Sommers, Jared Stern, John Whittington
Pemain Will Arnett, Zach Galifianakis, Michael Cera

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top