0

Review Film: 'Lion' (2016)

Dev Patel mencari keluarga aslinya via Google Earth dalam film yang diam-diam akan menyentil urat tangis anda.

“I'm not from Calcutta. I'm lost.”
— Saroo Brierley
Lion adalah film yang penanganannya biasa-biasa saja. Tak ada yang spesial dari film ini, dan anda kemungkinan besar akan melupakannya setelah menonton. Namun saat sedang menonton, diam-diam ia akan mencekat anda, lalu menyentil urat tangis. Kisah nyatanya luar biasa, tapi sutradara Garth Davis menggarap elemen dramanya sebiasa mungkin. Meski demikian, filmnya tetap efektif menyentuh perasaan.


Filmnya diangkat dari memoir Saroo Brierley berjudul A Long Way Home yang menceritakan bagaimana ia terpisah dari keluarganya di India saat berusia 5 tahun, hingga diadopsi oleh pasangan suami-istri yang tinggal di Tasmania. Dua dekade kemudian ia menggunakan Google Earth untuk menelusuri kembali kampung halamannya.

Jika dilihat sekilas, film ini terdengar sebagai film promosi Google Earth, namun ternyata tidak demikian. Peran aplikasi ini memang krusial, namun ia tak mengambil porsi yang signifikan dalam plot (lagipula, saya pikir Google tak perlu beriklan mengingat popularitasnya). Temanya adalah mengenai keluarga dan saya yakin inilah yang membuat filmnya sukses membuat saya terharu. Bukan hal sepele saat terpisah dari orang-orang yang kita cintai, apalagi di belahan dunia lain, selama bertahun-tahun pula.

Saroo kecil (Sunny Pawar) tak tahu harus mencari kemana. Ia bahkan tak ingat dengan jelas nama desanya atau nama ibunya saat ia terdampar di Calcutta setelah ketiduran di kereta yang tak berhenti hingga ribuan kilometer. Tak mengerti bahasa setempat dan membaca peta, ia hidup terkatung-katung sebagai anak jalanan; mengais sampah, tidur beralas kardus, nyaris diculik hingga hampir dijual. Saroo berakhir di panti asuhan yang penuh sesak, dan untungnya kemudian ia diadopsi oleh pasangan Brierley (Nicole Kidman dan David Wenham).

Cerita Lion terbagi menjadi dua bagian, dan paruh pertama mengenai masa kecil Saroo, sebegitu menariknya hingga paruh akhirnya terasa sedikit datar. Kita melihat bagaimana Saroo dilahirkan dan besar di keluarga miskin. Ketika kakaknya, Guddu (Abishek Bharate) berencana kerja malam, Saroo bersikeras ikut serta. Saroo ketiduran, dan saat terbangun ia mendapati kakaknya sudah tak ada. Ia naik kereta, tak menyadari bahwa kereta tersebut membawanya jauh dari kampung halaman. Davis dengan baik memperlihatkan potret masyarakat kelas bawah dari dunia ketiga.

Kita kembali bertemu dengan Saroo saat ia telah remaja dan diperankan oleh Dev Patel. Saroo tampaknya hidup bahagia bersama orangtua angkatnya serta satu lagi anak adopsi keluarga Brierley, Mantosh (Divian Ladwa) yang punya sedikit masalah mental. Saroo mendapat pendidikan layak, punya kehidupan nyaman, namun ia tak bisa sepenuhnya melupakan masa lalu. Teknologi memungkinkannya untuk kembali terhubung dengan keluarga aslinya.

Proses pencarian ini tak bisa dibilang dramatis. Memang, Saroo melakukan penelusuran dengan menandai peta layaknya di film-film detektif. Namun tak banyak intensitas yang didapat saat ia menghitung jarak dan kecepatan kereta api jadul, berdebat dengan sang pacar (Rooney Mara, dalam peran yang entah apa gunanya) atau menggeser kursor mouse di layar komputer, daripada ketakutan dan disorientasi seorang anak kecil polos yang terjebak di tempat yang tak ia kenal di paruh pertama. Penemuannya juga tak sedramatis yang kita kira.

Namun ini adalah momen dimana dramanya naik ke permukaan, yang didukung dengan pemain yang tampil dengan maksimal. Patel memberi keseimbangan terhadap tekad dan dilema yang dialami oleh karakternya. Saroo akhirnya mengaku pada ibu angkatnya bahwa selama ini ia mencari keluarga aslinya secara diam-diam karena tak ingin melukai perasaan orang tua angkat yang telah merawatnya dalam kenyamanan. Pengakuan sang ibu lebih menyentuh, dan Kidman memberikan penampilan singkat yang berkesan dan menyayat hati.

Semua ini takkan bekerja jika tak dipondasikan oleh si kecil Sunny Pawar yang tampil begitu kuat. Ia adalah karakter utama di paruh pertama, dan ia benar-benar berakting, bukan sekedar nampang wajah. Ada adegan yang membutuhkan gestur, ekspresi serta timing, dan bocah ini tampak natural. Wajah polos dan kedekatannya dengan sang kakak tak pernah berhenti membayangi kita hingga akhir.

Davis yang mengangkat naskah dari Luke Davies menjaga agar filmnya tak larut dalam sentimentalisme berlebih. Ia tak memaksa kita untuk tersentuh. Penggalian karakternya tak dalam, tapi cukup untuk memanipulasi emosi kita. Ia menggunakan alunan scoring violin serta sorotan kamera pucat dari sinematografer Greig Fraser untuk memberikan atmosfer yang tenang dan sendu.

Epilognya adalah sebuah adegan sepele yang bukan drama; bagaimana kehidupan mereka sebelum takdir memisahkan. Namun anda mungkin tak bisa menahan airmata menetes. Memori memang selalu memancing lara. Di titik ini, masa lalu sudah begitu menyesap kita sehingga perjalanan Saroo mencari rumah menjadi perjalanan emosional tersendiri bagi kita. Menyedihkan namun juga inspiratif. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Lion' |
|

IMDb | Rottentomatoes
118 menit | Remaja

Sutradara Garth Davis
Penulis Luke Davies (screenplay), Saroo Brierley (buku)
Pemain Sunny Pawar, Dev Patel, Nicole Kidman
BAGIKAN

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top