0

Review Film: 'Ghost in the Shell' (2017)

'Ghost in the Shell' hanyalah sekadar satu lagi film generik mengenai artificial intelligence, hanya saja dengan efek visual yang lebih keren.

“We cling to memories as if they define us, but they don't.”
— Major
Mungkin karena sudah ada terlalu banyak film mengenai artificial intelligence (AI), sebagian besar dari kita akan mendapati bahwa apa yang diangkat Ghost in the Shell terasa usang. Iya, maksud saya dari Blade Runner, A.I. hingga Ex Machina. Satu lagi alasannya adalah pendekatan dari Hollywood yang menyederhanakan temanya sehingga menjadikan Ghost in the Shell hanyalah sekadar satu lagi film generik mengenai AI, hanya saja dengan efek visual yang lebih keren. Film ini memang layak ditonton untuk membuktikan kegemilangan tata artistiknya.


Film orisinalnya adalah anime yang diangkat dari manga karya Masamune Shirow dan disutradarai oleh Mamoru Oshii. Anime ini disebut-sebut sebagai salah satu anime terbaik sepanjang masa dan begitu berpengaruh hingga menginspirasi beberapa film cyberpunk, termasuk The Matrix-nya Wachowski bersaudara. Ia bukan yang pertama, namun merupakan salah satu film yang paling definitif mengenai AI. Saya pikir animenya terlalu kompleks dan kontemplatif bagi ranah mainstream, jadi bagaimana membuat film live-action blockbuster dari materi seperti ini? Dengan Scarlett Johansson dan aksi yang lebih banyak tentu saja.

Saya menghargai usaha penulis naskahnya yang menjadikan filmnya lebih koheren, dengan plot yang lebih mudah dicerna. Namun di lain sisi, ini juga melucuti sisi misteri dan filosofis film orisinalnya. Sekuens aksi lebih terasa sebagai penambah durasi, tak substansial, dimana kita diajak dari satu adegan ke adegan lain dengan gaya standar film aksi Hollywood.

Keindahan dari produk sinema adalah kita bisa menjelaskan sesuatu tanpa perlu berceramah, menjelaskannya secara literal. Sineas menggunakan visual narrative untuk bercerita. Namun Ghost in the Shell berceramah, berceramah, dan berceramah. Hampir setiap karakter menjelaskan apa yang sedang terjadi, apa yang akan terjadi dan apa yang mereka pikirkan, seakan-akan pembuat filmnya tak percaya kita bisa memahami filmnya. Ini tak membuat emosi dan intelegensi kita tergugah, sebagaimana yang dilakukan film orisinalnya. Ia menetapkan mana yang hitam mana yang putih sedari awal, menyuapi kita tentang bagaimana kita harus mencerna film.

Sementara substansinya terdegradasi, film ini masih menggunakan kerangka yang sama. Poin plotnya mirip. Setting-nya adalah di masa depan dimana manusia sudah sedemikian lekat dengan teknologi. Belum ada mobil melayang, tapi baliho iklan sekarang adalah hologram raksasa. Tubuh manusia bisa seenaknya dimodifikasi dengan bagian sibernetik, otak bisa disambungkan langsung ke internet. Dan karena kesadaran bisa eksis di dunia maya, hacking dan pencurian data menjadi tindak kejahatan serius.

Scarlett Johansson bermain sebagai Major, salah satu anggota tim antiteror cyber bernama Section 9. Di awal film, kita melihat Major dioperasi karena katanya ia mengalami kecelakaan yang merenggut seluruh badan. Kepala peneliti, Dr. Ouelet (Juliette Binoche) bilang bahwa Major adalah orang pertama yang kesadarannya ("ghost") berhasil dicangkokkan ke tubuh artifisial ("shell").

Bersama dengan tim yang terdiri dari berbagai manusia dengan sentuhan cyborg dalam level yang berbeda-beda termasuk partner dekatnya Batou (Pilou Asbaek), Major ditugaskan oleh pimpinannya (Takeshi Kitano) untuk menyelidiki serangkaian kasus pembunuhan yang melibatkan robot. Kabarnya, ini didalangi oleh hacker misterius bernama Kuze (Michael Pitt) sebagai bentuk sabotase terhadap Hanka Robotics, perusahaan yang menciptakan Major. Saat menyelami "ghost" sebuah robot geisha, Major mendapat petunjuk mengenai Kuze, namun ini juga membuka ruang bagi Kuze untuk bermain dengan "ghost" Major.

Sejak pertama saya melihat Kuze dimainkan oleh aktor yang lumayan tenar dan digambarkan sebagai sosok misterius dengan jubah misterius pula, saya sudah waswas akan tendensi naratif film ini. Akankah film ini mengantagonisasinya mentah-mentah? Yes it did (at least until the final part), yang sebenarnya tak masalah seandainya ini tak berhubungan langsung dengan arc perjalanan moral Major. Kesampingkan pencapaian teknis film orisinalnya, Ghost in the Shell adalah mengenai pergeseran persepsi Major akan arti kesadaran. Versi Hollywood sudah mengeksekusinya sejak pertengahan durasi yang membuat klimaksnya tak lagi menggugah. Ia gagal dalam urusan motif demi tujuan untuk menjadikannya lebih sederhana.

Secinta apapun saya terhadap Scarlett Johansson (yang sebenarnya sangat besar *uhuk*), saya lebih suka Major saya dingin dan nyaris tak beremosi. Ini adalah poin dari filmnya. Ia bingung dengan identitas, antara sisi manusia dengan sisi artifisial. Ia mempertanyakan apa yang membuat manusia itu manusia. Ini adalah pencariannya. Dan walau narasi dari Major di akhir menjelaskan hal ini (ceramah, lagi!), bagian ini inkonklusif, tak datang dengan organik dan lebih terkesan ditujukan untuk memancing sekuel. Major diberi backstory yang mungkin dimaksudkan untuk memberi bobot emosi, namun ini membuat karakternya lebih manusiawi daripada sebuah robot. Aslinya, Major is more like a robot who fascinates with human conscience rather than human tries to find her conscience in robotic body.

Cukup soal filosofis. Satu-satunya cara untuk menikmati film ini adalah melalui cara yang diinginkan oleh studio bagaimana kita menikmati filmnya: di level "shell". Dan keputusan yang bijak untuk menunggu kemajuan teknologi efek digital dan merekrut Rupert Sanders. Secara fisik, film ini setia dalam urusan menghidupkan karakter dan beberapa momen ikonik dari animenya. Sama seperti animenya, film ini juga merupakan pencapaian visual yang luar biasa. Gambar-gambar bernuansa neon ditujukan untuk membuat kita terpesona dalam format IMAX dan 3D. Sebagaimana yang dilakukannya dalam Snow White and the Huntsman, Sanders mahir dalam membangun tekstur dunianya. Kota cyberpunk terdefinisikan dengan detil. Sekuens aksi dikoreografi dan digarap dengan stylish, dengan karakter yang secara visual memorable misalnya saja robot geisha laba-laba. Dan ada banyak adegan dimana Scarlett Johansson memakai lateks nude! Must. Resist. That.

Ghost in the Shell adalah soal tema dan ide. Temanya adalah mengenai dunia dimana manusia sudah sedemikian koeksis dengan artificial intelligence sehingga kesadaran menjadi hal yang abu-abu. Idenya adalah perjalanan spiritual dari "ghost" Major dalam mencari identitasnya. Ghost in the Shell versi ini hanya mampu melakukan satu hal. Anda bisa menebak yang mana. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Ghost in the Shell' |
|

IMDb | Rottentomatoes
107 menit | Dewasa

Sutradara Rupert Sanders
Penulis Jamie Moss, William Wheeler (screenplay), Masamune Shirow (manga)
Pemain Scarlett Johansson, Pilou Asbaek, Michael Pitt
BAGIKAN

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top