0

Review Film: 'Hidden Figures' (2016)

Tiga wanita kulit hitam sukses meluncurkan roket Amerika ke luar angkasa dan membuat penonton senang.

“Here at NASA, we all pee the same color.”
— Al Harrison
Kalau bukan karena Hidden Figures, saya mungkin takkan tahu bahwa ada tiga wanita kulit hitam yang pernah bekerja di NASA. Bukan sekedar bekerja, ketiganya memberikan kontribusi penting terhadap program Amerika dalam meluncurkan roketnya ke antariksa dan memenangkan perang luar angkasa dengan Rusia. Hidden Figures melaksanakan tugasnya dengan gemilang untuk menceritakan kepada kita para figur yang tak dikenal ini lewat cara yang ringan dan menghibur. Usai menonton film ini, ketiga karakter tersebut lengket di benak saya.


Film ini sedikit banyak mengingatkan saya pada The Help. Bukan saja karena ia dibintangi oleh Octavia Spencer dan membahas tema tentang segregasi akan kaum kulit hitam, namun juga bagaimana keduanya memakai pendekatan yang mirip dalam bercerita. Sutradara Theodore Melfi yang mengangkatnya dari buku nonfiksi yang ditulis oleh Margot Lee Shetterly, memilih jalur feel-good movie, dimana setiap orang tak ada yang jahat, hanya pikiran mereka saja yang belum terbuka. Pesan moralnya disampaikan dengan blak-blakan (bahkan lewat one-liners). Tentu, filmnya menyentil tema berat mengenai rasisme, namun ia mengajari tentang rasisme dengan cara yang aman.

Saat salah seorang dari tiga karakter utama kita mencetak sebuah pencapaian, kita bertepuk tangan. Yey, wanita kulit hitam ini sukses. Saat Kevin Costner membongkar papan tanda toilet ekslusif kulit putih di sebuah momen dramatis, kita bertepuk tangan. Yey, tak semua orang kulit putih rasis. Semua orang senang. Dan bohong jika anda sebagai penonton tak ikut senang menyaksikan film yang diaktingi dengan ensembel kuat macam ini.

Karakter-karakter utama tadi adalah tiga sekawan: Katherine Johnson (Taraji P. Henson), Dorothy Vaughan (Spencer) dan Mary Jackson (Janelle Monae). Di awal film, saat mobil mereka mogok, mereka dicurigai oleh polisi yang percaya bahwa wanita tak bisa memperbaiki mobil, apalagi bekerja di NASA. Sebelum sebagian dari anda triggered, ingat bahwa ini adalah 60-an, tak hanya warna kulit yang dibedakan, namun juga gender.

Katherine yang merupakan maniak matematika sedari kecil, baru saja dipromosikan ke departemen baru yang dipimpin oleh Al Harrison (Costner). Tugasnya adalah sebagai human computer yang mengkalkulasi perhitungan yang dibutuhkan untuk peluncuran dan pendaratan roket. Waktu itu belum ada yang namanya kalkulator, jadi Katherine harus menghitung dengan tangan dan otaknya, dan ya, ada adegan dimana ia harus menulis perhitungan panjang di sebuah papan tulis besar.

Dorothy bekerja di departemen yang berbeda. Ia sudah lama melakukan pekerjaan sebagai supervisor, namun tak mendapat jabatan dan gaji selayaknya supervisor, meski sudah sering komplain pada atasannya (Kirsten Dunst). Mary Jackson ingin menjadi insinyur antariksa, namun ia harus berjuang hingga ke pengadilan untuk bisa kuliah di kampus kulit putih.

Katherine tak hanya harus memperjuangkan idenya yang seringkali ditentang oleh rekan kerjanya (Jim Parson), tapi juga harus bertahan terhadap tekanan rasisme di tempat kerja. Tak ada ceret kopi bagi kulit hitam dan untuk buang air kecil, ia harus berlari puluhan meter sembari memakai rok, high heels dan menenteng dokumen menuju toilet khusus kulit hitam. Film ini pada dasarnya terdiri dari 3 cerita, namun cerita utama cenderung lebih berpusat pada Katherine. Tiga narasi memberikan kita kesempatan untuk 3 kali merayakan pencapaian karakternya.

Dinamika di kantor NASA lebih menarik daripada kehidupan rumahan mereka. Memang ada subplot mengenai Katherine yang mulai didekati oleh seorang tentara (Mahershala Ali), namun bagian ini terasa diselipkan seadanya. Film ini mengambil momen penting saat peluncuran Friendship 7 (yang nantinya membawa astronot John Glenn mengorbit bumi untuk pertamakali). Dan meski adegan peluncuran dan pendaratannya cukup mendebarkan, fokus ceritanya tetap mengenai bagaimana para wanita luar biasa ini berjaya di tempat kerja.

Ketiga tokoh tadi adalah pusat film ini dan ketiga pemainnya punya daya magnetis yang luar biasa. Dengan semua kekliseannya, Henson, Spencer dan (surprisingly) Monae berhasil membuat saya terikat dan tergerak dengan karakteristik mereka. Ketiganya punya karisma sekaligus comic timing yang presisi. Mereka tak sering diperlihatkan nongkrong bersama, tapi lewat percakapan kasual, kita tahu mereka begitu akrab dan saling respek satu sama lain. Costner mendapat peran mencolok dengan menampilkan kutipan yang akan selalu diingat mengacu ke film ini, "Di NASA, warna kencing kita sama."

Kita tak perlu bertaruh jika filmnya bakal menampilkan momen-momen dramatis dimana kita seakan dikondisikan untuk bertepuk tangan saat para wanita ini meraih sebuah kesuksesan. Ini adalah desain filmnya. Hidden Figures punya ruang di setiap belokan untuk bersorak sorai merayakan pencapaian karakternya, walau terkadang ini terlihat corny. Filmnya inspiratif, tentu hanya bagi yang mencari inspirasi. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Hidden Figures' |
|

IMDb | Rottentomatoes
127 menit | Remaja

Sutradara Theodore Melfi
Penulis Theodore Melfi, Allison Schroeder (screenplay), Margot Lee Shetterly (buku)
Pemain Taraji P. Henson, Octavia Spencer, Janelle Monáe
BAGIKAN

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top