0

Review Film: 'Lavender' (2017)

Ending film mencoba untuk menjadi sesuatu yang emosional, namun kemungkinan besar anda takkan merasakan apapun, kecuali lega karena telah terbebas dari rasa jemu.

"If you did bad thngs but don't remember, are they still part of who you are?"
— Jane Ryer
Lavender adalah film drama-horor dengan twist. Dan saya tidak bermaksud spoiler. Hal terbaik tentang film dengan twist adalah kita tak menduga akan mendapat twist, sehingga saat ia datang, ia akan menohok kita. Lavender sudah terpasang label twist sedari awal. Ketika semua setup sudah selesai dibangun di lima belas menit durasi, kita sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.


Begini. Awal film dibuka di tahun 1985 dimana sebuah keluarga dibantai di rumah mereka di daerah pedesaan. Hanya ada satu orang yang selamat yaitu gadis muda bernama Jane Ryer. Kasus ini tak pernah terselesaikan, tapi orang-orang berspekulasi bahwa anak gadis itulah yang membunuh adik, ibu dan ayahnya tersebut. Apalagi di TKP, hanya ada Jane yang berlumuran darah sembari memegang pisau.

Nyaris tiga dekade kemudian, Jane (Abbie Cornish) adalah seorang ibu rumah tangga sekaligus fotografer yang hobi memotret rumah-rumah pedesaan yang tak dihuni. Mungkinkah ini berhubungan dengan trauma masa lalunya? Entahlah, Jane tak ingat sama sekali. Ia juga sering lupa jadwal menjemput sang anak, Alice (Lola Flanery) yang membuatnya sering berantem dengan suaminya, Alan (Diego Klattenhoff).

Saat akan menjemput Alice di sekolah, Jane mengalami kecelakaan gara-gara mobilnya hampir menabrak anak gadis misterius yang tiba-tiba muncul di tengah jalan. Jane mengalami amnesia. Dokter memberitahu bahwa ada banyak retakan di tengkorak Jane yang kemungkinan bukan disebabkan kecelakaan mobil tadi. Untuk mengembalikan ingatannya, psikiater Liam (Justin Long) menyarankan untuk kembali menelusuri masa lalunya, termasuk menghubungi paman Patrick (Dermot Mulroney) yang sudah lama tak ditemuinya.

Patrick gembira mendengar kabar dari keponakannya tersebut. Ia memberitahu bahwa Jane punya warisan rumah yang selama 25 tahun ini dirawatnya sendiri. Jane kesana dengan mengajak Alice dan Alan. Ketika Jane bertanya kepada Patrick mengenai apa yang terjadi waktu itu, Patrick menjawab bahwa hanya Jane yang tahu. Di titik ini, film seolah memberitahu kita bahwa Jane pastilah bukan pelaku meski semua fakta sebelumnya terkesan mengarahkan kita sebaliknya. Ini reversed-psychology. Ada sesuatu yang besar yang terjadi sebelumnya. Ada antagonis lain dan itu bukan Jane. Poin plus bagi anda yang bisa menjawab sebelum fimnya berakhir.

Dalam penyelidikannya, Jane tiba-tiba juga menjumpai beberapa kotak kado kecil berisi memento masa lalunya serta gadis kecil misterius yang memperingatkan ini itu. Elemen horor dari film tampaknya bertujuan untuk menggambarkan kegalauan Jane saat ia mulai mempertanyakan peranya dalam pembantaian keluarganya serta disorientasinya antara halusinasi dengan realitas. Ini juga bisa membuat kita teralihkan selama berjalan menuju twist. Namun, horornya tak pernah benar-benar mencekam atau memancing rasa takut. Jurus klise horor —seperti pintu yang tiba-tiba tertutup, scoring pemancing suspense, atau nyanyian anak-anak di tempat sepi— terasa menjemukan hingga saya tak sabar untuk membuktikan bahwa "ah, pasti twist-nya begini!".

Dan ini tak membantu saat filmnya berjalan dengan sangat pelan. Sinematografer Brendan Steacy punya tendensi untuk ber-slow-motion atau menyorot gambar dengan kamera statis, bahkan saat tak terjadi sesuatu yang penting. Namun memang gambar-gambarnya indah dilihat. Setting-nya mengijinkan untuk menampilkan pemandangan desa yang hijau dan asri, dan Steacy tak menyia-nyiakannya; ia menggunakan palet warna dengan kontras tinggi. Adegan pembuka adalah semacam sekuens Mannequin Challenge. Di TKP, kamera bergerak one-shot menyusuri semua sudut rumah, sementara polisi yang tengah menyidik terdiam kaku dengan pose masing-masing. Kamera kemudian menyorot Jane yang terduduk di lantai. Wajahnya berlumuran darah dan ia menatap tajam ke kamera.

Tema utamanya lebih ke drama daripada horor, mengenai memperbaiki sesuatu yang salah untuk membebaskan yang masih terkungkung. Oleh karenanya, sutradara Ed-Gass Donnelly memaksudkan filmnya lebih digerakkan oleh performa aktor, dan meski penampilan Cornish tak buruk, karakternya tak mampu membuat ikatan emosi dengan penonton. Ending film mencoba untuk menjadi sesuatu yang emosional, namun kemungkinan besar anda takkan merasakan apapun, kecuali lega karena telah terbebas dari rasa jemu. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Lavender' |
|

IMDb | Rottentomatoes
93 menit | Remaja

Sutradara Ed Gass-Donnelly
Penulis Colin Frizzell, Ed Gass-Donnelly
Pemain Abbie Cornish, Dermot Mulroney, Justin Long
BAGIKAN

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top