0

Review Film: 'Miss Sloane' (2016)

Di dunia lobi politik, Miss Sloane adalah dominant dan yang lain adalah submissive. Lewat 'Miss Sloane', Jessica Chastain menegaskan bahwa ia adalah dominant dan kita adalah submissive.

“Lobbying is about foresight. About anticipating your opponent's moves and devising counter measures.”
— Elizabeth Sloane
Di titik ini, anda yang sudah biasa menonton berita politik di televisi mungkin sudah tahu bahwa dunia politik itu kejam dan licin, dan kita tak membutuhkan film ini untuk menunjukkannya. Untungnya, Miss Sloane bukan mengenai isu politik yang diangkatnya, melainkan lebih kepada studi karakter tentang tukang lobi yang hanya peduli pada agenda dan misinya dengan dilatarbelakangi iklim politik yang tak pernah adem.


Saya ingin menyebut Miss Sloane sebagai film women empowerment, namun mungkin kurang bijak karena tokoh utamanya bukanlah orang yang simpatik. Miss Sloane atau Elizabeth Sloane diperankan oleh Jessica Chastain. Karakter ini tak jauh berbeda dengan karakter Chastain dalam Zero Dark Thirty. Dengan lipstik merah, rambut oranye, dan kulit putih yang kontras dengan pakaiannya yang selalu gelap, Elizabeth adalah tukang lobi yang brilian sekaligus tanpa kompromi. Tatapannya tajam dan senyumannya akan membuat bergidik. Ia adalah dominant dan semua orang di sekitarnya adalah submissive, atau ia akan membuat mereka demikian.

Film dibuka dengan adegan persidangan yang dijalani Elizabeth. Melalui interogasi yang dilakukan oleh ketua kongres (John Lithgow), kita bisa tahu bahwa ia disidang atas pelanggaran etika, namun belum terlalu jelas apa persisnya tindakan pelanggaran yang ia lakukan. Iya, kita kemudian dibawa mundur lewat flashback.

Elizabeth merupakan seorang pelobi yang bekerja di sebuah firma raksasa yang tampaknya mau menerima klien seperti apapun, entah itu politisi atau pejabat korup. Ia diberi mandat untuk menangani pengesahan undang-undang kepemilikan senjata yang dikhususkan menyasar wanita. Yes, it's that ridiculous. Anda bisa membayangkan politisi seperti apa yang mengajukan ide ini.

Elizabeth mungkin tak punya hati tapi ia masih memiliki akal sehat. Jadi saat Rodolfo Schmidt (Mark Strong), seorang pimpinan firma kecil yang menentang rancangan undang-undang tersebut mengajaknya bergabung, Elizabeth membawa tim kecilnya ke firma sebelah. Jika ini adalah pertarungan bermodal akal sehat, kita tahu siapa yang akan menang, tapi politik adalah soal pengaruh dan uang. Elizabeth harus meyakinkan beberapa senator untuk menentang rancangan tersebut.

Ada beberapa tokoh kunci yang mengerubungi Elizabeth: Jane Molloy (Allison Pill), mantan asisten Elizabeth yang tak ikut hijrah bersamanya karena lebih mementingkan masa depan karir dan juga karena tak tahan dengan perlakuan Elizabeth; George Dupont (Sam Waterston), mantan Bos Elizabeth yang hanya peduli dengan besarnya dompet klien; Pat Connors (Michael Stuhlbarg), sang rival yang tak sebrilian tapi tampaknya lebih licik daripada Elizabeth; serta Esme Manucharian (Gugu Mbatha-Raw), partner baru Elizabeth yang punya masa lalu soal kekerasan senjata. Elizabeth adalah oportunis yang rela melakukan apapun demi kemenangan, dan ia tak memandang kawan atau lawan asalkan agendanya sukses.

Jika saya lebih cerdas atau pernah menyentuh ilmu politik, bisa jadi saya akan mendapati bahwa film ini lebih bagus lagi. Penulis naskah debutan Jonathan Perera mengisi dan membangun filmnya dengan dialog. Begitu banyak dialog. Dan dengan kecepatan tinggi. Mereka melontarkan obrolan korporasi yang rumit yang seringkali tak saya mengerti. Talky movies punya tendensi menjadi membosankan, namun performa Jessica Chastain menarik kita agar tetap memperhatikan. Sutradara John Madden dengan bijak mampu memusatkan semuanya pada Chastain di antara beberapa subplot. Stake-nya adalah saat para rival menghalalkan segala cara untuk menjegal Elizabeth, termasuk mencari kecacatan dalam kasus lamanya yang melibatkan impor sawit dari Indonesia.

Chastain benar-benar tampil sebegitu kuatnya sebagai karakter tituler, sulit membayangkan aktor lain memainkan peran ini. Mencengangkan menyaksikan Chastain melempar jargon politik atau gertakan dengan begitu percaya diri. Ia otoriter, menakutkan, namun kemudian kita juga akan mempelajari bahwa ia masih punya elemen manusia. Untuk mengisi kekosongan karena ketidakmampuannya berhubungan dengan manusia, Elizabeth kadangkala memesan pria panggilan bernama Ford (Jake Lacy). Film ini tak menyajikan backstory bagi Elizabeth. Kita bisa mengintip sisi personalnya, namun ia masihlah sebuah enigma. Saat menunjukkan sisi manusiawi, apakah ini asli atau hanya pura-pura?

Backdrop politiknya menjadi kurang believable di momen puncak, saat semua terungkap. Bagian ini menampilkan twist yang memuaskan tapi memang sedikit lebay untuk ukuran film yang mencoba realistis. Skenario ini takkan berhasil di dunia nyata. Apalagi di Indonesia. Anda akan dijegal dengan UU ITE Nomor 11. Pasal ini memang berfungsi untuk mencegah orang melakukan penyadapan terhadap privasi warga biasa. Tapi hei, tentu saja ini bisa dibelokkan. Disanalah indahnya politik. Ia punya kans yang tak berbatas. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Miss Sloane' |
|

IMDb | Rottentomatoes
132 menit | Dewasa

Sutradara John Madden
Penulis Jonathan Perera
Pemain Jessica Chastain, Mark Strong, Gugu Mbatha-Raw

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top