0

Review Film: 'Shut In' (2016)

Siapa yang punya ide bahwa kita akan ketakutan menyaksikan Naomi Watts diteror oleh "hantu" Jacob Tremblay?

“I don't know what's worse. Either this really happening or I'm losing my mind.”
— Mary
Ide dari Shut In ini menjanjikan dan absurd di saat bersamaan, namun filmnya hanya mampu menyandang label terakhir. Premisnya sebenarnya lumayan disturbing kalau saja para pembuat film tak menggarapnya dengan cara yang rutin dan terkesan malas-malasan. Bahkan kalau niat, ia juga cocok dijadikan film parodi mengingat klimaksnya yang over-the-top.


Mencapai setengah durasi, saya bertanya-tanya apa sesungguhnya arah yang ingin dituju oleh film ini. Di awal film, Shut In menggiring kita untuk percaya bahwa ini adalah film horor hantu-hantuan, yang kemudian memancing pertanyaan: apa yang menghantui karakter utama kita, karena sejauh yang saya tonton tak ada sesuatu yang benar-benar menyeramkan. Ketika plot-twist-nya masuk di tengah, barulah saya bisa menangkap semuanya. Eh tapi tunggu dulu, twist ini adalah twist paling absurd, kacau, aneh, dan tak berselera yang pernah saya temukan dalam film horor beberapa tahun belakangan.

Tujuannya, saya yakin, untuk menciptakan nuansa disturbing. Namun, hasil akhirnya malah konyol. Kita harus banyak-banyak menggunakan stok suspension of disbelief kita sedari awal. Naomi Watts bermain sebagai Mary, seorang psikolog anak yang tinggal di tempat terpencil (karena ini adalah film horor, tentu saja). Ia menetap disana bersama anak tiri satu-satunya, Stephen (Charlie Heaton) yang lumpuh dan tak bisa bicara gara-gara sebuah kecelakaan mobil. Di awal film, kita mengetahui bahwa kecelakaan ini juga merengggut nyawa suami Mary.

Kompetensi Mary sebagai psikolog tak bisa diaplikasikan untuk dirinya sendiri, dimana ia sebelumnya kesulitan menangani temperamen Stephen. Mungkin dihantui rasa bersalah karena pernah berniat mengirim Stephen ke sekolah khusus, Mary mendedikasikan diri untuk memandikan, menyuapi dan merawat Stephen yang sekarang cacat. Cinta seorang ibu memang begitu besar, namun Mary jelas tak kuat menanggung beban ini sebesar ini. Mary merasa menemukan pelariannya saat merawat seorang anak yang tuna rungu, Tom (Jacob Tremblay).

Entah ada angin apa, Tom tiba-tiba muncul di rumah Mary. Ia kemudian tiba-tiba menghilang dan diduga kabur ke hutan. Berita di televisi menyebutkan bahwa pencarian besar-besaran sedang dilakukan. Mary khawatir. Bagaimana Tom bisa selamat sendirian di hutan dengan badai salju yang akan segera datang? Mary mulai sulit tidur. Ia sering mendengar suara-suara aneh di dinding. Ia merasa melihat Tom di rumah ini. Meski mentornya (Oliver Platt) bilang lewat Skype bahwa ia mungkin mengalami paranoia, Mary yakin sesuatu yang mistis sedang terjadi.

Elemen kunci disini adalah membuat kita merasakan apa yang dirasakan Mary: bimbang apakah semua hanyalah halusinasi gara-gara tekanan psikologis atau memang benar-benar ada hantu di rumah tersebut. Namun naskah dari penulis skrip debutan Christina Hodson tak mampu melakukannya. Terlepas dari penampilan lumayan dari Watts, apa yang diperbuat tokoh utama kita hanya terlihat seperti keputusan yang bodoh alih-alih tindakan gegabah dari seorang ibu yang stres berat. Kita juga tak pernah sepenuhnya yakin ia benar-benar ketakutan karena Tom adalah subjek horor paling tak menyeramkan yang pernah saya jumpai. Apa yang bisa dilakukan "hantu" Jacob Tremblay yang imut? Mencubit pipi?!

Semua pertanyaan terjawab saat twist-nya masuk, tapi anda mungkin berharap pembuat filmnya mampu melakukan pekerjaan yang lebih baik untuk membangun momentum dan ketegangan daripada sekedar membuang durasi menceritakan keseharian Mary yang tampaknya berjalan begitu pelan. Jika saja buildup-nya mantap, kita mungkin takkan tertawa terbahak-bahak menyaksikan sekuens panjang di akhir yang akan mengingatkan kita pada The Shining-nya Stanley Kubrick.

Anda berharap filmnya segera berakhir setelah twist terungkap namun bagian berikutnya berdurasi hampir 30 menitan. Naasnya, tak ada sedikitpun ketegangan yang kita dapatkan selama durasi tersebut. Saya penasaran siapa yang bilang ide bagus untuk membuat film dari premis menggelikan ini. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Shut In' |
|

IMDb | Rottentomatoes
91 menit | Dewasa

Sutradara Farren Blackburn
Penulis Christina Hodson
Pemain Naomi Watts, Charlie Heaton, Jacob Tremblay
BAGIKAN

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top