0

Review Film: 'Alien: Covenant' (2017)

'Alien: Covenant' menampilkan adegan sadis yang kita harapkan dari sebuah film yang memasang judul "Alien". Selain itu, not so much.

"There's so much here that doesn't make sense."
— Danny
Dalam Alien: Covenant, dua hal yang lebih dicintai oleh Ridley Scott daripada heroine tangguh dan aspek filosofis dari Prometheus adalah Michael Fassbender dan ciptaannya yang paling ikonik, Xenormorph. Kita tak hanya akan mendapatkan satu melainkan dua Fassbender. Dibanding Prometheus, kita akan melihat lebih banyak Xenomorph (atau variannya), makhluk ekstraterestrial yang doyan memakan dan membantai atau menginkubasi larva mereka dalam tubuh manusia. Kesukaan anda pada film ini tergantung level toleransi anda pada Fassbender dan Xenomorph.


Alien: Covenant adalah sekuel sekaligus kelanjutan langsung dari Prometheus, film Alien paling filosofis dari semuanya. Misi dari kru pesawat di Prometheus adalah untuk mencari asal-usul manusia hingga mereka bertemu dengan humanoid yang diberi nama Engineer yang —jika saya tak salah tangkap— adalah leluhur manusia. Film ditutup dengan Noomi Rapace dan Fassbender yang terbang menuju planet Engineer, mungkin untuk sekedar bertemu atau malah menghajar mereka. Entahlah, Prometheus lebih banyak bertanya daripada menjawab.

Cerita Alien: Covenant bertempat di planet tersebut. 10 tahun pasca Prometheus, kapal Covenant diberi misi untuk mengirim 2.000 manusia untuk mengkolonisasi planet nun jauh disana bernama Origae-6 yang katanya layak huni. Namun sebuah malfungsi membuat kapten terbunuh dan beberapa awak terbangun. Mereka lantas menerima sebuah sinyal manusia-wi yang mengindikasikan bahwa ada planet yang lebih dekat yang lebih prospektif daripada Origae-6. Dalam tradisi film Alien, ini berarti kabar buruk, but to be fair, para awak khawatir perjalanan mereka yang jauh berbahaya, jadi kenapa tak singgah di planet yang lebih dekat?

Jika Prometheus menggabungkan perkembangan cerita dan parade efek spesial dengan mulus, Alien: Covenant terkesan membaginya ke dalam kamar-kamar tersendiri. You want a little philosohical question, here's a piece. You want to see some blood, here they come. Saat bercerita melanjutkan apa yang dimulai Prometheus, filmnya takes time, yang terkadang melepas cengkeramannya. Saat momen intens, filmnya tak tanggung-tanggung; ia melepas kengerian brutal yang akan membuat bergidik. Bukan seperti Alien yang atmosferik, tapi dalam skala Aliens, yang lebih bergantung kepada aksi. Adegan kemunculan alien pertama di ladang gandum membuat saya mengap-mengap saking tegangnya.

Di titik ini, kita mungkin sudah tahu betul bagaimana rupa dan apa yang bisa dilakukan oleh para alien. Mereka adalah monster yang mampu melakukan apapun yang dibutuhkan plot. Film ini menampilkan Xenomorph, Neomorph, Protomorph dan entah apa lagi, tapi saya tak begitu peduli dengan penamaannya; mereka semua adalah "alien", parasit sadis yang wujud akhirnya tergantung pada hibrida terhadap inangnya. Semakin kuat dan banyak leluhur inangnya, maka semakin brutal dan tangguh aliennya.

Untuk menjaga agar setiap karakter kita menghadapi nasib naas, mereka harus membuat keputusan bodoh di beberapa momen. Film ini punya cara lihai untuk itu. Beberapa kru dikondisikan berpasangan, sehingga saat ada yang melakukan hal tak masuk akal, kita akan maklum: "oh, itu istrinya". Namun ini belum cukup untuk menjustifikasi tokoh pendukung yang digambarkan dengan tipis, yang diantaranya berisi nama Demian Bichir, Carmen Ejogo dan Amy Seimetz. Satu karakter yang hampir memorable adalah Billy Crudup, itupun karena ia memainkan tokoh kapten. Satu lagi adalah Danny McBride yang mendapat peran melempar sumpah serapah dan memakai topi koboi. Film ini tak mengikat kita dengan karakternya sebelum melibatkan kita dengan bantai-bantaian nanti.

Katherine Waterstone bermain sebagai Danny, yang sebelumnya banyak diasumsikan sebagai karakter pengganti Ripley-nya Sigourney Weaver. Namun ia hanya bisa menampilkan ketangguhan, kompetensi, dan kelihaian selevel Ripley di bagian akhir yang seiprit. Karakternya tak mendapat ruang sebesar Rapace atau Weaver. Yang menjadi bintang adalah Fassbender yang mendapat porsi yang takkan saya ungkap lebih jauh karena terlalu spoiler. Ia bermain dobel sebagai dua android: Walter yang ikut dalam misi Covenant serta David yang selamat dari misi Prometheus. Untuk sebuah adegan saat mereka berdua memainkan suling secara bergantian (dan ini bukan bagian paling mengejutkan dari adegan ini), Scott memakai trik yang membuat interaksi langsung keduanya tampak sangat meyakinkan.

Satu hal yang menurut saya tak exciting dari Alien: Covenant adalah sense of discovery-nya yang nyaris tak ada. Ia tak membangun jalan menuju konfrontasi spektakuler di akhir dengan elemen-elemen sugestif yang memompa ekspektasi kita. Kita tahu perilaku alien dari apa yang kita pelajari dari film-film sebelumnya, dan film ini tak menawarkan sesuatu yang baru atau mengejutkan. Film ini memang menampilkan sekuens mengerikan yang kita inginkan dari sebuah film yang memasang judul "Alien", tapi jika ingin mendapatkan yang lebih baik, kita bisa menonton dua film pertama Alien. Sementara itu, saya masih menunggu film dari Scott yang akan menjawab pertanyaan mengenai asal-usul kehidupan manusia di bumi. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Alien: Covenant' |
|

IMDb | Rottentomatoes
123 menit | Dewasa

Sutradara Ridley Scott
Penulis John Logan, Dante Harper
Pemain Michael Fassbender, Katherine Waterston, Billy Crudup

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top