0

Review Film: 'Free Fire' (2017)

'Free Fire' tempatkan Brie Larson, Armie Hammer, dan Cillian Murphy dalam satu sekuens tembak-tembakan panjang yang penuh energi, seru dan menghibur.

“F**k the small talk. Let's buy some guns, eh?”
— Chris
Di semesta sinema yang maha luas dimana setidaknya ada 500 film yang dirilis setiap tahun, dan itu baru dari Hollywood saja, pernahkah anda kepikiran bahwa setidaknya ada satu film yang sebagian besar durasinya berisi adegan tembak-tembakan? Free Fire bukan film yang sebagian besar durasinya berisi tembak-tembakan; ia adalah satu rangkaian sekuens tembak-tembakan yang dijadikan satu film panjang. Menempatkan aktor di satu ruangan dimana mereka saling menembak satu sama lain selama satu setengah jam terdengar seperti ide nekat yang seru. Satu-satunya doa kita adalah semoga filmnya tak membosankan. Free Fire brutal, receh, konyol, dan tentu saja, tidak membosankan.


Dalam Free Fire, luka-luka, darah dan pembunuhan jadi bahan tertawaan, dan anda mungkin sebaiknya membatalkan membeli tiket jika kalimat tadi menyinggung anda. Setelah peluru pertama melesat, tembak-tembakan terjadi nyaris tanpa henti. Tak ada plot atau perkembangan karakter yang berarti, kita langsung ditempatkan di tengah-tengah kekacauan.

Film ini, disutradarai oleh Ben Wheatley (Kill List, High Rise), juga tak peduli dengan suspens, kecuali di awal untuk setup-nya yang minimalis. Mengambil setting di tahun 70-an, ia menceritakan tentang transaksi jual-beli senjata di sebuah gudang tua yang berakhir bencana. Chris (Cillian Murphy), Frank (Michael Smiley) serta dua ajudan mereka yang pecandu narkoba, Stevo (Sam Riley) dan Bernie (Enzo Cilenti) adalah pihak pembeli. Vern (Sharlto Copley), Martin (Babou Ceesay), Gordon (Noah Taylor) dan Harry (Jack Reynor) adalah pihak penjual. Ord (Armie Hammer) merupakan broker dari pihak Vern sementara Justine (Brie Larson) broker dari pihak Chris.

Situasi mulai tegang ketika senjata yang dibawa Vern tak sesuai dengan pesanan Chris. Harry mengenali bahwa Stevo adalah orang yang dia hajar malam sebelumnya di sebuah bar. Tak butuh waktu lama sampai semua orang saling menembak satu sama lain. Sumpah serapah yang dilontarkan tak kurang banyaknya dengan jumlah peluru yang dihamburkan.

Mereka mungkin adalah penembak dengan akurasi paling payah dalam semesta film. Hampir semua orang mengalami luka tembak berkali-kali, tapi tak ada yang kritis kecuali satu karakter yang takkan saya ungkap. Mereka tertembak, lalu bangkit, membidik sambil terpincang atau ngesot, balas menembak, kemudian kena tembak lagi. Iya, si anggun Brie Larson tak menjadi pengecualian. Tak ada machine gun. Mereka hanya memakai pistol dan senapan, karena film akan berakhir dalam 1 menit jika ada machine gun. Layout gudang yang penuh barang bekas, kardus, tiang, dan kayu, menjadi tempat sembunyi sementara selagi mereka mengerang kesakitan atau ngedumel.

Untuk soal orisinalitas, Reservoir Dogs dari Quentin Tarantino akan muncul di ingatan kita saat melihat kebrutalan, selera humor, dan gaya penceritaan dari Wheatley. Namun disini, dialog-dialog cerdas yang quotable diganti dengan kekacauan situasi, desingan peluru yang berisik, serta celutukan kocak yang sederhana.

Wheatley yang juga menulis naskah bersama kolaborator/istrinya Amy Jump, selalu bisa menemukan cara untuk membuat ceritanya dinamis dengan menambahkan beberapa kelokan di sana-sini saat film mulai monoton. Di satu titik, ada pihak ketiga yang datang mengintervensi tembak-tembakan antara para karakter kita, dan membuat semua tambah runyam. Meski amunisi mereka seperti tak terbatas, namun sering ada momen kehabisan peluru saat situasi kritis.

Film ini tak memberikan karakterisasi yang mumpuni, sehingga kita tak begitu peduli dengan nasib karakter. Ah, lagipula ini juga tak penting. Tak ada pihak yang tampak seperti jagoan atau yang benar-benar menguasai keadaan. Kita tak tahu siapa yang ada di pihak mana karena semua bisa berbalik kapan saja. Peran mereka mengalir begitu saja mengikuti arus. Aktor yang paling mencolok adalah Hammer yang memberikan karisma kelas A, sesuatu yang tak begitu ditunjukkannya dalam film-filmnya yang lalu. Ord adalah satu-satunya yang punya akal sehat setelah Chris-nya Murphy. Copley menjadi psikopat yang temperamen. Sementara Brie Larson, well, Justine got some kills here *uhuk*.

Sejujurnya, acapkali saya tidak bisa melihat siapa yang menembak siapa karena mekanika tembak-tembakan yang kacau dan kadangkala membingungkan. Namun sepertinya Wheatley tetap memegang kontrol, karena di tengah kekacauan dan karakter yang lebih dari selusin, kita takkan kehilangan fokus akan motif atau apa yang sedang dialami oleh setiap individu. Menarik bagaimana Wheatley bisa membuat mereka tampak bergerak dengan dinamis literally and figuratively di ruang sempit.

Free Fire bukanlah film yang luar biasa. Ia adalah film sampah. Namun Ben Wheatley tahu cara membuat film sampah yang memberikan pengalaman menonton yang seru dan menghibur tanpa mengasumsikan bahwa penontonnya bodoh. Film ini tak serius tapi tetap penuh energi dan punya gaya. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Free Fire' |
|

IMDb | Rottentomatoes
90 menit | Dewasa

Sutradara Ben Wheatley
Penulis Amy Jump, Ben Wheatley
Pemain Sharlto Copley, Armie Hammer, Brie Larson

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top