0

Review Film: 'Raw' (2017)

Karena ceritanya tak bergerak kemana-mana, sayang sekali kita juga hanya mendapatkan porsi berdarah-darah yang minim, padahal 'Raw' adalah soal kanibalisme.

“An animal that's tasted human flesh isn't safe.”
— Father
Jika anak atau adik saya ingin jadi veteriner, saya takkan menguliahkannya di kampus dalam film Raw. Ini kemungkinan besar adalah kampus veteriner paling berbahaya di dunia. Alih-alih tempat untuk mempelajari cara merawat atau mengobati hewan, kesibukan mahasiswanya malah diisi dengan kekerasan dan vulgaritas. Mereka berpesta habis-habisan seolah pesta masuk ke dalam kurikulum. Tak ada pengawasan dari orang dewasa, termasuk dosen. Kampus ini juga merupakan kampus paling tak higienis — ingat, veteriner adalah sekolah KEDOKTERAN hewan— karena jas lab mereka dipenuhi dengan coretan spidol atau darah segar kuda.

Raw mendapat reputasi yang lebih besar daripada filmnya sendiri. Katanya ini adalah film mengenai kanibalisme yang membuat orang-orang pusing, mual hingga walkout massal saat penayangannya di Toronto Film Festival tahun ini. Calon penonton kasual mungkin akan memperkirakan filmnya menjadi film yang takaran kesadisan atau kemenjijikkannya melewati batas yang biasa diterima oleh orang yang sudah banyak makan asam garam dunia sinema —ingat, mayoritas hadirin Toronto adalah kritikus profesional. Maafkan saya karena terlihat sombong, tapi mayoritas mereka, saya asumsikan, adalah penonton berperut lemah.


Tak ada yang benar-benar mengerikan, membuat bergidik, atau menjijikkan dalam film ini. Hal paling sadis dari film ini adalah seorang gadis yang mengkonsumsi potongan jari seperti memakan daging asap yang alot atau pertengkaran antarsaudari yang melibatkan aksi menggigit kulit wajah. (Percayalah, ini tak seseram kedengarannya. Anda pasti sudah pernah melihat yang lebih parah). Mungkin tak salah juga, karena Raw bukan film kanibal eksploitatif, melainkan lebih kepada film kanibal yang artsy (kalau memang istilah ini ada) dengan beberapa simbolisme, entah apapun itu.

Sinopsisnya secara singkat: seorang gadis muda yang polos akhirnya menemukan identitasnya sebagai seorang kanibal. Versi panjangnya: gadis tersebut bernama Justine (Garance Marillier), yang baru saja diantar oleh kedua orang tuanya ke depan kampus veteriner yang saya maksud tadi. Justine tak hanya masih virgin, ia juga seorang vegan dari keluarga vegan yang sangat militan. Ia tak makan daging sedikitpun. Saat sepotong daging masuk ke dalam makan siangnya, sang ibu segera menghardik pelayan restoran.

Justine ditempatkan sekamar dengan mahasiswa cowok, Adrien (Rabah Naït Oufella) yang untungnya mengaku sebagai seorang gay. Kakak Justine, Alexia (Ella Rumpf) sudah terlebih dahulu kuliah disana. Sayangnya, Alexia tak begitu membantu saat Justine harus menghadapi kegiatan ospek yang edan, dimana anak-anak baru diarak paksa oleh senior yang memakai penutup wajah, dipermalukan dengan berjalan merangkak hanya memakai pakaian dalam, sebelum diakhiri dengan pesta hedon setengah telanjang. Atau saat Justine dipaksa seniornya melakukan apa yang harus dilakukan anak baru: memakan hati kelinci mentah.

Astaga, kalau saja sang senior tahu dampak yang akan ditimbulkannya. Ini membangkitkan apa yang selama ini ada dalam diri Justine. Ia mulai menikmati daging. Awalnya ia menyelundupkan rendang dari kanten, kemudian curi-curi makan daging mentah di kulkas, hingga... uhm, silakan anda temukan sendiri. Bukan lagi soal apa yang ia makan, melainkan siapa yang akan ia makan. Ada banyak target berjalan yang bisa dimakan di sekitar kampus.

Sedikit mengejutkan bagi saya melihat bagaimana film ini mendapat respon yang sangat bagus dari kritikus. Gugel memberitahu saya bahwa mereka bilang film ini punya metafora mengenai "kelaparan" (akan apapun), female empowerment atau tentang pembebasan serta penemuan jati diri. Secara pribadi, saya kesulitan untuk menghubungkan titik yang dimaksud dengan plot film. Saya punya teori, tapi saya takut teori saya akan menyinggung feminis, vegetarian atau wanita secara umum. So, moving on.

Filmnya sendiri seperti tak menceritakan apa-apa. Saat film berakhir, saya bertanya-tanya apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh sutradara/penulis skrip Julia Ducournau. Setiap kali filmnya tersendat untuk bercerita, Ducournay mengalihkan kita dengan adegan vulgar atau adegan berdarah-darah pembuat syok, yang sebenarnya bukan karena pembangunan atmosfer melainkan lebih karena sensasi tak nyaman kita menyaksikan seorang manusia memakan daging manusia sendiri. Ada perasaan mengganjal bahwa sineasnya sendiri pun sedang mencari tahu apa yang ingin ia lakukan dengan premisnya tersebut.

Namun subplot mengenai perkembangan hubungan antara Justine dan kakaknya, kurang lebih mengena. Memang ganjil menyaksikan sisterhood-bonding lewat kegiatan kencing berdiri atau memotong rambut yang biasanya tak terlihat saat memakai bikini, namun Marillier dan Rumpf bisa menjual dengan meyakinkan akan pentingnya seorang saudari, terlebih saat mereka berdua punya banyak kesamaan.

Meski demikian, di permukaan Ducournay menunjukkan kapabilitas yang mumpuni walau ini baru film debutnya. Ia punya gaya dengan imagery mencolok berkat permainan warna serta gerakan kamera yang dinamis. Adegan gore-nya cukup realistis yang tentu saja berkat didukung oleh tim make-up dan efek spesial yang membuat apa yang seperti darah dan daging terlihat seperti darah atau daging sungguhan. Nah, karena ceritanya tak bergerak kemana-mana, sayang sekali kita juga hanya mendapatkan porsi berdarah-darah yang minim. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Raw' |
|

IMDb | Rottentomatoes
99 menit | Dewasa

Sutradara Julia Ducournau
Penulis Julia Ducournau
Pemain Garance Marillier, Ella Rumpf, Rabah Naït Oufella

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top