0

Review Film: 'Wonder Woman' (2017)

'Wonder Woman' menjadi film pertama yang bagus dari DC Extended Universe (DCEU). Dan film ini digarap oleh sutradara wanita!

“I will fight, for those who can not fight for themselves.”
— Diana Prince
Akhirnya setelah sekian lama, ini dia superhero besar wanita pertama yang bermain di filmnya sendiri. Wonder Woman juga menjadi film pertama yang bagus dari DC Extended Universe (DCEU) setelah kita dibuat menghela napas panjang dengan Batman v Superman dan Suicide Squad tahun lalu. Dan film ini digarap oleh sutradara wanita, Patty Jenkins. Buuurn!

Film superhero yang bagus adalah film yang saat kita melucuti semua ledakan, tetek bengek kekuatan super dan kostum spandeks (bukan dalam arti sebenarnya, maksud saya *uhuk*), ia masih berhasil sebagai sebuah film. Menonton Wonder Woman, saya terkadang merasa seperti menyaksikan film drama perang dan bagian inilah yang paling menarik. Di dua pertiga durasi Jenkins memanfaatkan CGI dengan bijak untuk mengungkap dimensi dari heroine kita. Setidaknya sampai parade efek spesial super heboh yang menjadi fokus di klimaks.


Wonder Woman menghibur karena ia berisi humor dan empati, dua hal yang selama ini dicoba tapi gagal disuntikkan oleh DCEU. Bersama dengan penulis naskah Allan Heinberg, Jenkins sukses melakukannya. Ia sedikit mengubah haluan dari visi Zack Snyder yang biasanya sinis menjadi lebih sensitif. Tak ada lagi pahlawan yang depresif; bahkan di kondisi perang yang suram pun, jagoan kita bisa menemukan optimisme.

Film ini pada dasarnya adalah backstory saat Diana Prince / Wonder Woman (Gal Gadot) melihat foto lamanya semasa Perang Dunia I. Film dibuka di pulau Themyscira yang indah, tempat tinggal suku Amazon yang sepenuhnya terdiri dari wanita-wanita tangguh yang berlatih martial arts dengan kostum seperti dari era Gladiator. Selama berabad-abad mereka hidup damai di pulau yang katanya diciptakan khusus oleh Zeus. Kita bertemu Diana kecil yang bercita-cita menjadi pejuang tangguh di Themyscira, yang tentu saja, ditentang oleh ibunya, sang Ratu Amazon Hippolyta (Connie Nielsen). Namun, diam-diam tante Diana, Antiope (Robin Wright) yang kebetulan adalah pejuang paling tangguh saat itu, melatihnya untuk mempersiapkan Diana menghadapi bahaya yang sewaktu-waktu bisa datang. Semua orang memperlakukan Diana dengan berbeda, jadi pasti ada sesuatu yang spesial pada dirinya.

Suatu hari, Diana yang sudah tumbuh besar menjadi Gal Gadot, mendapati sebuah pesawat kandas di pantai. Disini ia bertemu dengan pria pertama yang pernah dilihat sepanjang hidupnya: mata-mata Amerika bernama Steve Trevor (yang kebetulan sekali punya wujud seperti Chris Pine yang tampan dan karismatik). Diana menyelamatkan Steve yang nyaris tenggelam, tapi mayoritas warga Themyscira ingin Steve pergi. Namun Diana tak bisa membiarkannya begitu saja, tidak setelah Steve menceritakan tentang perang mengerikan yang sedang terjadi di dunianya.

Diana percaya bahwa penyebab perang adalah Ares, dewa perang keturunan Zeus yang dulu menjadi musuh bebuyutan suku Amazon. Kita tak percaya dengan omong kosong tentang dewa ini, begitu juga dengan Steve. Namun Steve berjanji membawa Diana ke medan perang, asalkan ia bisa terlebih dahulu mengantar info penting kepada bosnya mengenai Jendral Lundendorff (Danny Huston) dan Doctor Poison / Isabel Maru (Elena Anaya) dari pihak Jerman yang tengah membuat senjata kimia pemusnah massal.

Saya suka saat film ini bersantai untuk membangun plot dan dinamika karakternya. Diana yang pertama kali menginjakkan kaki di dunia modern, terkesima dengan naif melihat mobil atau pakaian wanita yang katanya tak praktis untuk bertarung. Orang-orang modern ini pasti juga bakal terbelalak melihat pakaian seksi, laso kejujuran, atau pedang bernama "Godkiller" yang dibawanya kemana-mana. Dalam perjalanan mencari pabrik senjata, mereka juga dibantu oleh rekan-rekan lama Steve: sekretaris Etta Candy (Lucy Davis), ahli menyamar Sameer (Said Taghmaoui), penembak jitu Charlie (Ewen Bremmer) dan keturunan Indian Chief (Eugene Brave Rock). Saat petinggi militer tak menyetujui rencana Steve, ada David Thewlis sebagai pejabat pemerintah yang memberi suntikan dana. Gadot dan Pine punya chemistry yang lucu dan manis. Romansa antara keduanya menjadi pengikat kita akan stake besarnya nanti.

Mayoritas sekuens aksinya singkat tapi berharga. Ia lebih efektif ketika kekuatan Wonder Woman diperlihatkan terbatas. Adegan saat Diana naik dari parit, terjun langsung ke medan perang untuk pertama kalinya, lalu menangkis hujanan peluru dengan gelang sakti, sangat fascinating. Sekuens "besar" di klimaks yang terasa sekali manipulasi CGI-nya, semakin gaje dan menjemukan seiring berjalannya durasi. Setelah Batman v Superman dan Suicide Squad, saya berasumsi petinggi Warner Bros mewajibkan adanya ledakan spektakuler di setiap film DCEU.

Linimasa mengijinkan filmnya untuk menyelipkan isu feminisme tanpa terkesan dipaksakan. Di masa ini, orang belum mengenal emansipasi wanita. Wanita tak punya hak suara, jadi tentu saja hal yang aneh saat Diana menerobos masuk "War Room" dan melontarkan komentar tajam kepada petinggi militer. Pesan yang lebih berat adalah mengenai realita perang; bagaimana kapabilitas manusia yang sama-sama bisa berbuat baik dan keji. Observasinya tajam tapi disajikan dengan natural terhadap cerita, bahkan di beberapa waktu, menghasilkan beberapa momen emosional.

Awalnya saya berargumen Gal Gadot menjadi aspek terbaik dalam Batman v Superman karena semua hal selain dirinya itu buruk. Namun disini ia membuktikan kekuatan bintangnya sebagai pahlawan yang tangguh, bertekad kuat, inspiratif dan seksi (tentu saja!) dengan pembawaan meyakinkan dan kelincahan fisik. Polos dan berhati bersih, tak membuat Diana menjadi bland karena Gadot menyulapnya menjadi karakter yang punya dimensi. Ia menyeimbangkan ketangguhan dengan ketulusan, determinasi dengan simpati, tapi juga sadar bahwa ia tidaklah sempurna. Saya tak bisa menggambarkan film ini lebih baik daripada kalimat tadi. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Wonder Woman' |
|

IMDb | Rottentomatoes
141 menit | Remaja

Sutradara Patty Jenkins
Penulis Allan Heinberg
Pemain Gal Gadot, Chris Pine, Danny Huston

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top