0

Review Film: '47 Meters Down' (2017)

Punya beberapa momen yang cukup menegangkan, tapi '47 Meters Down' tak seseru premisnya karena kita kerap kali diganggu oleh perilaku annoying dari karakternya.

“We are gonna die here!”
— Lise
Ada daya tarik spesial soal hiu. Prospek dimana daging kita dicabik oleh deretan giginya yang menyeramkan saat terombang-ambing di tengah laut memberikan horor tersendiri. Itulah kenapa studio masih memproduksi thriller hiu, padahal faktanya lebih banyak orang tewas gara-gara kejatuhan kelapa daripada dimakan hiu (kejatuhan kelapa menewaskan 150 orang/tahun, sementara hiu hanya membantai 5 orang/tahun). Jujur saja, siapa yang mau menonton film tentang orang kejatuhan kelapa? Oke, saya mau, tapi bukan itu poinnya.

Ketakutan mendasar akan predator puncak dalam rantai makanan samudera tersebut membuat thriller hiu manapun punya kesempatan untuk, uhm, menakut-nakuti. Saya menjadi permisif, asalkan ada darah, gigi, dan sedikit suspens. Bagusnya lagi, ada risiko tambahan yang harus dihadapi protagonis kita dalam 47 Meters Down, yaitu kehabisan oksigen karena mereka berada 47 meter di bawah permukaan laut! Meski begitu, film ini tak seseru premisnya karena kita kerap kali diganggu oleh perilaku annoying dari karakternya. Dungu tak apa, ini membuat filmnya tambah asyik. Tapi annoying? Plis.


Dua saudari, Lisa (Mandy Moore) dan Kate (Claire Holt) mungkin merupakan protagonis paling annoying dalam sejarah thriller hiu. Mereka saling meneriakkan apa yang mereka pikirkan atau apa yang mereka akan dan sedang lakukan, bahkan hingga hal terkecil, seolah terdengar seperti video tutorial vlogger di Youtube. "Kita akan mati, Kate!", "Hiu hampir menyambarku!", "Aku akan mengambil senter!". Iya, mereka bisa saling berkomunikasi karena peralatan selamnya dilengkapi dengan mikrofon. Saya rasa hiupun gusar mendengar celotehan mereka, dan inilah kenapa hiu menyerang mereka.

Keduanya sedang berlibur di Meksiko. Lisa mengaku kepada Kate bahwa ia baru saja diputuskan oleh sang pacar yang menganggapnya gadis terlalu membosankan. Lain halnya dengan Kate yang easygoing. Mereka kemudian bermaksud mencoba atraksi melihat hiu yang katanya "sama kaya kebun binatang, tapi kita yang berada di dalam kerangkeng". Ini bukan ide yang bagus, karena: (1) atraksinya ilegal, (2) peralatannya sudah berkarat dan (3) kapal pengangkutnya sudah begitu reyot seperti akan karam. Namun mereka nekat mencoba, karena: (1) yang mengajak adalah dua pria tampan, (2) kerangkeng hanya akan diturunkan 5 meter saja di bawah permukaan laut, dan (3) Lisa bisa ambil foto untuk dipamerkan di medsos kepada mantan pacarnya. Tak ada lagi "Lisa si Boring". Iya, ini alasan paling kuat.

Pemandangan lautnya indah dan penampakan hiunya luar biasa. Hanya saja, mereka tak turun 5 meter melainkan 47 meter, karena crane-nya tiba-tiba rusak. Mereka tak bisa berenang ke permukaan begitu saja, karena perbedaan tekanan bisa merusak jantung. Oh ngomong-ngomong, ada hiu yang berkeliaran di sekitar gara-gara mencium darah! Dengan hanya dua karakter yang berarti, film bukan menjadi film siapa-yang-akan-mati-berikutnya melainkan lebih kepada film survival. Tak hanya dari serangan hiu, tapi juga dari bahaya kehabisan oksigen. Lisa dan Kate melakukan berbagai cara, termasuk saling menyemangati, "Ayo Kate, kamu pasti bisa! Kamu mampu melakukannya!".

Dengan durasi yang singkat, bijak sekali penulis naskahnya memberikan cerita yang ramping. Tak ada cerita tambahan selain bagaimana Kate dan Lisa bertahan hidup. Johannes Roberts yang sebelumnya menggarap horor The Other Side of the Door yang tak menakutkan sama-sekali, berhasil mengeluarkan beberapa momen yang cukup menegangkan. Skalanya kecil, tapi ia selalu membuat kita mengkhawatirkan hiu yang bisa tiba-tiba muncul atau tabung oksigen yang tiba-tiba kosong.

Tapi mungkin ini lebih disebabkan karena tata produksinya yang efektif. Suasana bawah laut yang gelap dan dingin menciptakan nuansa yang membuat bergidik. Hiu bisa datang dari sudut manapun. Kegelapan tak hanya menjadikannya lebih menyeramkan, tapi juga membuat hiu, yang katanya dibuat dengan CGI, tampak lebih meyakinkan. Mustahil mereka membuat film di bawah laut dengan hiu sungguhan, namun saya dibuat percaya setidaknya selama menonton.

Meski demikian, hiunya sendiri kurang menggigit (pun intended) sebagaimana filmnya. Twist menjelang ending sedikit mengisyaratkan "sudut" yang lebih dalam, tapi ia berkompromi dan dengan segera naik kembali ke permukaan. Pembuat filmnya mungkin juga ingin telihat realistis dengan menampilkan hiu yang perilakunya tak seobsesif hiu dalam The Shallows. Namun kembali lagi, tak ada yang realistis dengan gadis-gadis yang berceloteh tanpa henti. Oh, wait. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'47 Meters Down' |
|

IMDb | Rottentomatoes
85 menit | Remaja

Sutradara Johannes Roberts
Penulis Johannes Roberts, Ernest Riera
Pemain Claire Holt, Mandy Moore, Matthew Modine
BAGIKAN

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top