0

Review Film: 'A Family Man' (2017)

Penebusan di akhir ditujukan untuk memancing air mata haru, tapi saya rasa tak ada lagi yang akan keluar setelah mata anda lelah ber-eyerolling.

“One day you're gonna wish you had this time back.”
— Elise Jensen
Cara paling efektif untuk menikmati film ini adalah dengan membayangkan seandainya skenarionya terjadi pada diri sendiri, atau lebih baik lagi, anda pernah mengalaminya secara personal. Pesannya sangat relatable. Saya pikir itu satu-satunya cara agar kita bisa merasakan sesuatu, karena A Family Man adalah melodrama klise yang datar. Oke oke, keluarga adalah hal paling utama, tapi film yang secara repetitif memberitahu kita hal ini lewat cara paling predictable selama hampir dua jam? Not so much. Tak ada yang mau dinasehati begitu.

Begini ceritanya. Gerard Butler bermain sebagai seorang headhunter (jasa penyalur tenaga kerja) bernama Dane Jensen yang tergabung dalam agensi Blackridge Recruitment. Karakteristik Dane diambil langsung dari template standar bajingan korporat yang pernah kita lihat dalam film-film serupa. Ia adalah pecandu kerja yang mencampur Kratingdaeng ke dalam kopi saking butuhnya genjotan adrenalin. Ia menelpon kesana kemari dengan nada suara dan ekspresi intens, saya pikir di satu waktu nanti ia akan mematahkan gagang telpon saking tegangnya. Ia tak keberatan berbohong demi kelancaran deal. Namun inilah yang membuatnya menjadi seorang headhunter sukses.


Situasi di rumah sayangnya tak selancar di tempat kerja. Kehidupan seksnya dengan sang istri, Elise (Gretchen Mol) tak memuaskan, meski mereka sudah mencoba satu dan lain hal. Dane punya dua anak dan dengan semua hubungan telpon yang dibuatnya bahkan saat di rumah, ada banyak momen yang terlewati. Elise menyarankannya untuk menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarga. Dane adalah ayah yang bertanggung jawab dan mapan, tapi hatinya tampaknya berada sepenuhnya di tempat kerja.

Ada satu lagi alasan yang membuat Dane bekerja lebih keras. Bosnya, Ed (Willem Dafoe) berencana untuk mengambil cuti panjang sebelum akhirnya mengundurkan diri. Pilihan favoritnya adalah Dane tapi Ed sudah memutuskan akan memilih penerus berdasarkan performa. Kandidatnya adalah Dane dan rivalnya, Lynn (Allison Brie). Siapapun yang berhasil membuat deal terbanyak di akhir bulan berhak mengontrol perusahaan.

Sepertinya film akan bergerak menuju rivalitas antara dua workaholic psikopat ini, tapi coba cek lagi, film ini adalah melodrama. Jadi tentu saja tak mengejutkan ketika mendapati kanker ikut memainkan peranan. Putra tertua Dane, Ryan (Maxwell Jenkins) yang awalnya dikira gendut, ternyata mengidap sejenis leukimia. Penyakitnya treatable, tapi dokter bilang bahwa ini juga bisa mematikan. Sekarang, Dane harus berusaha untuk membagi komitmennya antara memperhatikan keluarga dengan ambisinya mengejar karir.

Plot ini sudah kita lihat berkali-kali dan skrip dari penulis, Bill Dubuque (The Judge) tak terlihat berusaha untuk keluar dari rutinitas. Ada banyak momen dimana Dane mendapat panggilan telpon tepat saat ia akan menghabiskan quality time bersama keluarga. Hampir setiap adegan yang menampilkan Mol diisi dengan Elise yang bilang "keluarga lebih penting!". A Family Man seolah hanya ingin menceklis semua klise film keluarga.

Ada satu lagi family man selain Dane. Ia adalah seorang engineer berusia 59 tahun yang diperankan oleh Alfred Molina. Ia memakai jasa Dane, tapi Dane sadar bahwa tak ada yang mau mempekerjakan pak tua ini sehingga ia hanya mengulur-ulur waktu setiap kali ditelpon. Karakter Molina yang hangat dan peduli pada orang lain sedikit menyentil Dane, sebelum akhirnya menjadi jalan baginya untuk membuat penebusan.

Sebagai seorang family man, Dane sejak awal harusnya sudah menyadari bahwa keluarga di atas segalanya. Saya pikir kita, penonton bahkan sedari menit dua puluhan sudah ingin berteriak, "woi, sadar Dane!". Saya tahu ini tidak realistis. A Family Man mencoba menyuntikkan realisme dengan memberi argumen bahwa jika Dane tidak sekeras itu bekerja, ia takkan mampu menafkahi keluarga. Namun A Family Man begitu sappy, penuh sakarin, dan jauh dari kesan film keluarga yang realistis. Jadi sedikit menjemukan melihat Dane yang harus menghabiskan waktu lama (dan durasi film yang cukup panjang) untuk mengambil pelajaran.

Saya rasa A Family Man ingin menjadi film yang lebih serius dan dalam daripada yang kita tonton. Eksekusinya yang terlalu standar membuat premisnya yang inspiratif tenggelam di antara momen cheesy dan corny. Semua karakter tak punya dimensi memadai selain memenuhi kebutuhan template. Penebusan di akhir ditujukan untuk memancing air mata haru, tapi saya rasa tak ada lagi yang akan keluar setelah mata anda lelah ber-eyerolling. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'A Family Man' |
|

IMDb | Rottentomatoes
97 menit | Remaja

Sutradara Mark Williams
Penulis Bill Dubuque
Pemain Gerard Butler, Gretchen Mol, Alison Brie

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top